...

I am strong, because I am weak...
I am beautiful, because I know my flaws...
I am a lover, because I have been afraid...
I am wise, because I have been foolish...
And I can laugh, because I’ve known sadness...
Feeds RSS
Feeds RSS

19 Agt 2010

Lana's Songs (1)

White Flag

“…there will be no white flag above my door. I’m in love and always will be.”

Namanya Admira Kelana, tapi dia biasa dipanggil Lana sejak kecil. Dalam serial metropop yang sering direkomendasikan sahabatnya Yuri, mungkin dia kan dikategorikan sebagai wanita muda dua puluh lima tahunan yang sedang semangat-semangatya meniti karir. Walaupun belum jelas betul buat Lana, karir seperti apa yang dia ingin jalani. Yang jelas, dari seorang motivator yang dia kagumi, dia tahu bahwa karir itu bukan sekedar pekerjaan. “Your job is not your career”, begitu katanya. Mengingat-ingat masa kecilnya, seperti anak kecil kebanyakan, Lana mempunyai banyak cita-cita. Dari menjadi dokter, supermodel, pilot pesawat tempur, pramugari, guru bahasa Inggris, arsitek, sampai kembali lagi ke cita-cita menjadi dokter. Walaupun begitu, kebingungan tentang cita-cita ini tidak pernah dipikirkan Lana sampai dia lulus kuliah S1 dan mulai berpikir “abis ini mau ngapain?” Kalau sudah seperti itu Lana sering memikirkan kembali arti nama yang diberikan kedua orangtuanya, Admira Kelana. Admira diambil dari ‘admire’ yang artinya kagum. Kelana ya kelana, kata dari bahasa Indonesia yang artinya bertualang. Jadi dari kedua kata itu Lana menyimpulkan kalau orangtuanya mengharapkan jika suatu hari gadis kecilnya akan bertualang jauh dan dikagumi di setiap tempat yang ia singgahi. Sayangnya, Lana terlalu manja. Hingga usia peraknya, dia masih sangat nyaman dalam comfot zone yang dibangun kedua orangtuanya.

Sepertinya cukup perkenalan tentang Lana. Karena yang dipikirkan Lana saat itu bukan karir, pekerjaan, cita-cita, ataupun arti dari nama yang diberikan orangtuanya. Hari itu, sore di bulan Agustus. Di tanggal yang sama ketika dia untuk kesekian kalinya menginjakkan kaki di kampus itu. Kampus yang pernah Lana sumpahin ogah dia masuki setelah lulus SMA walaupun Papanya minta dia kuliah disana. Ironisnya, saat itu dia masuk kampus itu bukan sebagai anak SMA yang numpang lewat ke galeri lukisan dan digodain anak-anak FIKTM berjaket himpunan yang gondrong, cunihin, dan agak menyeramkan, tapi sebagai bagian dari kampus itu, sebagai mahasiswa baru. Kenangan itu membawa kilasan-kilasan masa lalu buat Lana. Bukan tentang kampusnya, tapi tentang seseorang. Tanpa sadar, Lana mulai memutar lagu White Flag di PC kantornya, membuka FB sebuah situs sejaring sosial, dan mengetik sebuah nama di search enginenya: Ardi Ahmad.

Tanpa sadar akan sekeliling, seolah di dunia ini cuma ada dia dan PC-nya, Lana mulai melihat status update Ardi satu demi satu.

Ardi is now friend with si ini.

Ardi is now friend with si itu.

Ardi is now friend with blablabla.

Ardi is tag in an album tralalala.

“Emh, ga ada satupun update status ni Si Ardi…” pikir Lana.

Tanpa Lana sadari, Yuri masuk ke ruangan, dan memperhatikan Lana dari dekat.

“Wah, sakit lu! Obsesif…!!” celetukan Yuri yang tiba-tiba menarik Lana keluar dari sebuah dunia kecil yang hanya berisi Lana, PC, dan profil Ardi di dunia maya.

“Kan dah gue bilangin! Kalo terus-terusan nginget mantan tuh sama aja kayak lu kecanduan putaw!! Kemaren kan udah gue kasih link artikenya sama lu, yang dari vivanews itu…” sambar Yuri lagi.

Iya, Lana memang merasa kalau ini udah gak sehat. Tapi dia juga gak ngerasa malu ataupun menyedihkan walaupun Yuri mengkritiknya habis-habisan. Lana cuma ingin tahu kabar Ardi sekarang, begitu isi pikirannya. Satu lagi yang Lana sangat ingin ketahui. Kenapa Ardi masih berstatus single sampai sekarang…

“Balik yuk!” ajak Yuri yang melihat kalau temannya lagi gak mood melakukan pembelaan diri atas perilaku obsesifnya.

***

Di perjalanan pulang, setelah nge-drop Yuri di depan ruko tempat anak gaul Setiabudi nongkrong sore-sore, Lana mulai mencari CD lagu itu lagi. White Flag dari Dido. Bukan untuk mengenang, tapi untuk sekali lagi mendengarkan liriknya dalam-dalam.

“… if I didn’t say it. While I still have felt it. Where’s the sense in that?”

(Kalau gue udah janji ga akan ngomongin dia lagi, tapi gue masih punya perasaan ini ke dia, terus esesinya apa? Percuma juga! Sama aja boong…)

"And when we meet. Which I’m sure we will. All that was there, will be there still. I’ll let it pass, and hold my tounge. And you will think that I’ve moved on.”

(Dan saat kita ketemu lagi. Yang gue yakin kita bakal ketemu lagi. Perasaan yang dulu ada, bakal masih ada disitu. Gue akan biarin perasaan itu tanpa disinggung sedikit pun. Dan lu akan berpikir kalo gue udah lupain semua itu dan mulai hidup yang baru…)

Potongan-potongan lirik ini yang membuat Lana kuat selama ini. Ngasih Lana harapan, kalau suatu saat bakal ketemu lagi sama Ardi. Kalau saat ketemuan lagi itu Lana udah jadi cewek kuat yang bisa nunjukkin kalau dia ga punya rasa penyesalan. Kalau Lana bisa bahagia melepas Ardi untuk mengejar kebahagiaannya.

Kalau Lana membayangkan bagaimana reaksi Yuri kalau tahu Lana lagi-lagi memutar lagu ini di mobilnya, dia hanya bisa tersenyum. Lana gak bisa menyalahkan Yuri karena ketidaktahuannya akan makna lagu ini buat dia. Lagipula, Lana gak perlu menjelaskan apa-apa ke Yuri. Karena Lana yakin, seperti yang selama ini dia temui di persahabatan mereka, kalau Yuri eventually mengerti dia.

[to be continued]

2 comments:

Tiech mengatakan...

setelah baca ini penasaran lirik white flag (padahal sering nyanyiin) huehuehue....
paling suka bagian:
"Emh, ga ada satupun update status ni Si Ardi…” pikir Lana. "....aku juga sering begitu...ckckckkc....artikel vivanew itu aku tau...aku baca...dan sepertinya emang daku sudah kecanduan, sakit emang. hmmmmm. :)

si meong dan si kebo mengatakan...

from kebo:
Liriknya Dido's White Flag bagus banget Tie. Aku pertama denger maknanya dari acara MTV, waktu itu Dido-nya sendiri yang jelasin. Dalem. Jleb. wkwkwk
Kamu juga suka cek-in status gebetan. Emh, ternyata. Sama aja kita. Hehe

Posting Komentar