...

I am strong, because I am weak...
I am beautiful, because I know my flaws...
I am a lover, because I have been afraid...
I am wise, because I have been foolish...
And I can laugh, because I’ve known sadness...
Feeds RSS
Feeds RSS
Tampilkan postingan dengan label cas cis cus Kebo serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cas cis cus Kebo serius. Tampilkan semua postingan

11 Des 2011

My 25th - A Preface For My 2012

Tulisan buat menjawab pertanyaan Si Meong :-)

Saya harus nulis apa nih? Hahaha. Bingung. Request-nya kan nulis pengalaman melewati umur 25. Well, ga banyak yang bisa dijadiin contoh yang baik sih ya. Hehe. Tapi ada satu hal penting saya kasih tau, bahwa kita masih muda kawan. Masih boleh bikin kesalahan. Some mistakes are not to be proud of, but most of them are to be taken as priceless lesson. Pembelajaran menuju kematangan diri. *jiaaahhh! sok bijak..* 

Transition
Mari kita mulai cerita dengan kilas balik resolusi saya tahun lalu yang saya tuliskan dalam blog ini juga. Dalam tulisan itu saya pernah bilang, bahwa saya mendapat pekerjaan baru dan karenannya untuk pertama kali akan merantau (walaupun ga jauh-jauh amat, cuma two hours drive). Saya juga bilang bahwa saya akan mengejar cinta lama saya: Si Dia yang seringkali bisa ditemui sedang berada di atas sepeda dan di belakang lensa. Seseorang dengan kepribadian kuat, yang dulu sering saya pandangi dari balik bahunya, untuk tahu apa sebenarnya isi dalam benaknya: semua semangat, ide gila, dan ketulusannya menyambut masa depan. All of his life cause. All of his purpose.
Jadi, gimana dengan kerjaan saya? Well, It's been great. Butuh banyak adaptasi, tapi trade off-nya sepadan. I get to learn a lot, travel a lot, and earn a lot! :-P
And about that boy, did I get the chance to tell him how I felt? Mmm.. The answer is: NO! Hahahaha.
Ceritanya waktu itu tekad saya sudah bulat untuk bertemu. Tapi masalah geografis memisahkan kami. Singkatnya, dia di Pasar Minggu dan pulang ke Bogor kalau weekend, sementara saya di Kebayoran Baru dan pulang ke Bandung tiap weekend. Tapi saya dan dia, tidak sama sekali kehilangan komunikasi. Kami masih suka bertemu di jendela instant messenger (jiyaahahahah, basi!). Dari obrolan kami, saya dapati bahwa dia semakin keren saja. Gendutan, seperti yang pernah saya bayangkan dulu saat berkhayal menjadi istrinya (hahaiy!), tapi tetap good looking. Putih, merona, bersinar (macam iklan P*nds, hahaha). 
Awal saya di Jakarta dia masi single and available. Dua bulan kemudian dia mengirim sebuah buket bunga pada seorang perempuan, dan memintanya untuk menjadi istrinya. Maka, perjuangan saya berakhir sudah. Sedihkah? Ternyata tidak juga. Rasa yang dulu saya maknai sebagai cinta, sudah bertransformasi menjadi respect dan kekaguman. 
Dia juga sering menasehati dan mengajari saya banyak hal, salah satunya yang paling saya ingat adalah: "Rin, don't trust a man under 30." (Hahaha, Abang. Did you forget that you're 27 yourself? :-P )

In and Out of Love at 25
Untungnya kehidupan percintaan saya di umur 25 ga garing sama sekali. Waktu itu saya memutuskan untuk berhenti melawan sensasi gila, irasional, yang saya rasakan saat bertemu dengan seorang bocah bermata sendu (yes! you know who it is). Ketika itu saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang ga saya banget, seperti go with the flow
Dengan dia saya belajar banyak. Dia mengubah saya yang kurang sensitif menjadi orang yang lebih sabar dan care. Dengan dia, saya juga jadi lebih banyak inspirasi untuk menulis. Dia memberi saya sepasang tangan untuk digenggam, bahu untuk disandari, juga saran tulus yang kadang saya kurang paham maksudnya--tapi sampai ke hati saya sebagai penyemangat yang luar biasa.
Namun seiring dengan waktu, sering muncul keraguan dan keresahan yang berimbas pada saya yang menjadi galau. Dan kalau saya sedang galau, korbannya dia juga. Korbannya kami berdua. Kami jadi semacam saling menyakiti, sesuatu yang jauh dari keinginan kami sendiri. Saya lalu mencari tahu, apa yang salah sebenarnya.
Dia adalah seorang laki-laki yang suatu hari ingin beristrikan seorang perempuan yang sesuatu banget (semacam wanita karier tangguh, seperti women of power). Sementara saya juga ingin menjadi sesuatu di masa depan. Karena itu, kami klik.
Dia adalah seorang bocah yang merindukan rumah. Sementara saya punya sebuah rumah yang hangat dan seorang ibu hebat yang selalu merindukan anak-anaknya. Had only he khows my mom a bit closer, things would have been great.
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti dan berpikir ulang tentang kami. Dari perenungan itu saya dapati bahwa dia bukan untuk saya yang sekarang, dan saya juga bukan orang yang tepat untuk dia yang sekarang. Saat ini saya butuh seseorang yang firm: seseorang yang bisa saya pegang (bukan sekedar buat diraba-raba, hahahahaha), saat saya sedang bertekad untuk maju menanjak full-throttle menuju cita-cita saya seperti sekarang ini. Dan saya rasa, dia butuh seseorang yang selalu stand by menemani dia mencari jati diri. Seseorang yang memiliki banyak waktu untuk bersama, yang tidak bisa saya berikan saat ini. (I'm kinda busy Abang, I know you understand. I see your doing okay right now. Hope you'll find your passion soon. And as I always say to you: please, be a great man in the future). 

I Met Great Companion at 25
Kalau ada masalah yang bisa bikin galau pikiran seorang Kebo, masalah itu pasti percintaan. Hahaha. To confess, sebenarnya saya sama sekali ga baik-baik saja waktu bilang "putus." Saya sendirian, dan saya sangat takut. Untungnya sendiriannya ga lama. Hehe.
Eits! Jangan pikir saya cepat dapat "pacar" baru. Saya ga se-laku itu. Hahahahaha.
So to speak, saya dipertemukan dengan dua orang sahabat baru. Yang ini bisa dikategorikan obat galau nomor wahid ;-) Dua orang lelaki hebat dengan dua kepribadian yang berbeda, dan satu persamaan nyata: dua-duanya GOMBAL!!!! Hahahaha.
Lelaki yang satu adalah seseorang yang bisa bikin saya ketawa sampai guling-guling. Dia juga bisa mengisi kerinduan saya terhadap sosok kakak laki-laki yang protektif, tegas, dan agak galak. Dia bisa tiba-tiba menarik saya dari keramaian ke pos satpam, marah-marahin saya waktu saya lagi labil, dan dengan seenak-udelnya ngatain saya 'bego' saat saya memang lagi ga rasional dan hilang fokus supaya saya back-on-track. Dia seorang pekerja keras yang menyokong keluarganya setelah bapaknya pergi duluan dipanggil Sang Maha Pencipta. Tanpa disadari, dia sudah menjadi salah satu dari beberapa laki-laki yang diam-diam suka saya pandangi dari balik bahunya. Saya baru menyadari ini ketika suatu hari dia berkomentar: "Rin, lu ngapain sih suka jalan di belakang gue? Liatin pantat gue ya? Dasar bokep!" Yang lalu saya timpali sekenanya: "Iya, Bang. Pantat Abang sexy, bohay!"
Lelaki kedua, saya ga akan cerita banyak. Dia seorang pencinta buku. Dengan dia, saya bisa mengalami perasaan 'suka' tanpa cemburu yang membutakan, emosi berlebih, atau kekecewaan saat dia ga bisa menepati janji. Saya damai. 
Dari kedua orang ini saya akan belajar. Dari semangatnya, dari kematangan karakternya, serta dari cara mereka memaknai hidup yang bukan sekedar melewati waktu, tapi perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti yang Albert Einstein pernah bilang:
"If you want a happy life, tie it into a goal, not to people or things."

New Deep* for 26
So what's next? Tahun depan saya akan mulai ikut-ikut banyak tes untuk beasiswa. Saya juga mau nyari 'teman' yang bisa diajak masak-masakan Indonesia di sebuah apartemen kecil di NL sana. Teman solat Ied di KBRI kalau kami ternyata ga bisa pulang saat hari raya. The image of me and him, selesai solat Ied: saya sungkem ke dia. Lalu kami makan ketupat bareng, hasil masakan kami sendiri, di apartemen kecil kami ...di NL ;-)
Ahay! What a dream...

Dear Meong
Ini ceritaku, mana ceritamu? (Hahaha, jadi iklan mie instan deh). Sebagai akhir cerita, saya kutipkan salah satu kalimat favorit saya dari Sartre:
"Pilihlah! Yaitu: ciptakan!"
Karena hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada penderitaannya masing-masing.  Pilihlah dengan berani. Lalu ciptakan kebahagiaan dengan pilihan-pilihan yang kamu buat itu.
Sumpah ya booooo! Gue sayang banget sama elu, and so I'll be there whenever you need me (insyaallah). Walaupun cuma bisa ngasih pinjem sepasang telinga, dengan mata dan jari-jari yang ga fokus karena lagi BBM-an. Hahahahaha. I know you hate me for my disability of multitasking. Maap yak!
Segala sesuatu yang benar datangnya dari Allah SWT, dan yang salah datangnya dari... Dorce Show! Show!! Show!!! Shooooooow!!!
Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullah.
***

*New Deep adalah judul lagu milik John Mayer dari album Heavier Things, yang insyaallah jadi soundtrack saya tahun depan. (Footnote ga penting! Hahahaha)

29 Des 2010

Tentang Sabar

a letter to my best friend

Suatu hari kamu bertanya tentang sabar, saya jadi bingung menjawabnya. Karena seingat saya, saya pun bukan orang yang sabar. Maka saya kasitau kamu tentang sabar yang saya ketahui saja. Ini saya tulis iseng saja, kalau-kalau jawaban saya sebelumnya terlalu singkat dan menggantung.

Dulu kalau nonton sinetron bersama sekeluarga, suka terdengar dialog seperti "Sabar, sabar! Kesabaran saya ini ada batasnya!" Kamu pernah dengar juga yang seperti itu kawan? Saya yakin pernah. Terminologi 'batas dari kesabaran' sangat populer. Tapi, kalau ada dialog seperti itu, Bapak saya suka menyambar "Sabar kok ada batasnya. Sabar itu tidak berbatas." Sudah lama sekali sejak saya mendengar kalimat itu keluar dari Bapak saya, karena sudah lama juga kami sekeluarga berhenti menonton sinetron. Tapi beginilah saya. Saya tipe pembelajar audio. Otak saya seperti tape recorder yang seringkali mengingat ucapan orang tanpa bisa saya pilah. Makanya saya hapal banyak lirik lagu.

Kembali pada konteks sabar yang katanya tak berbatas. Benarkah tidak ada batas kesabaran? Jika dipikir mendalam memang seharusnya tidak ada. Jika kita menaruh patokan batas kesabaran, apa masih layak dikatakan sabar? Menurut saya sih bukan. Itu namanya tenggat waktu, grace period, sebuah ancaman. Dalam strategi marketing bentuknya bisa seperti ini: "Jika Anda tidak mengambil paketnya sekarang, Anda kehilangan kesempatan mendapatkan sebuah mobil Mercedez Benz seri terbaru." Dalam konteks kesabaran kasus sederhana bentuknya bisa begini: "Jika dia tidak memberikan kepastian tentang kontrak kerja saya di sini hingga akhir bulan, saya akan mengundurkan diri." Nah kan, serupa, tapi tak sama.

Jadi kesimpulannya bagaimana? Kalau teraniaya kita harus diam saja? Kan, katanya sabar? Dan sabar itu katanya tak berbatas? Nah, teman, di sinilah maksud saya menanyakan "Sabarnya dalam hal apa dulu nih?" Jangan jadi orang yang fatalistik, ketika disakiti/ dirugikan diam saja. Harus dipilah kapan kita berdiam dan kapan kita bertindak. Kamu tahu kawan, saya sangat suka novel Musashi. Disitu Musashi mengajarkan tentang jalan pedang, salah satunya 'do nothing if it has no use.' Jangan lakukan hal-hal yang tidak diperlukan. Ketika kamu yang baik hati ini mencoba menyelesaikan persoalan orang lain, karena merasa dicurhatin oleh orang ini, perlu dipikirkan lagi apa orang ini curhat sekedar untuk didengar atau memang mencari solusi dari kamu. Ketika seseorang mengatakan sesuatu atau berbuat hal yang tidak sreg di hati kamu, tidak perlu menganalisis berlebih seperti 'oh, dia benci gue' atau 'apa sih salah gue, kok dia begini?' atau 'ternyata gue ga dianggep, gue ga dipercaya' dan sebagainya, karena setiap orang punya harinya dimana ia butuh menjadi orang yang menyebalkan sekali waktu. Don't analyse. Kehidupan akan lebih mudah ketika kita menyederhanakan. Ga usah mempersulit agar kita dimudahkan.

Maaf ya tulisannya agak ngaco karena saya menulis dengan spontan sambil berbadai otak (brain storming :P). Tulisan saya di atas tentang sabar boleh banget kamu mentahkan, karena itu cuma casciscus yang hanya berdasar pada pemikiran saya yang kerdil ini. Kalau mau pengetahuan tentang sabar yang bisa dipertanggungjawabkan, mungkin kamu pun sudah sangat hapal. Tapi untuk mengingatkan kita bersama, saya tulis saja sekalian disini ya. Ini saya copas dari buku manual manusia yang paling sakti. Here goes,

Tentang sabar:
QS Al-Baqarah
(155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." (157) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Tentang berkeluh kesah:
QS Al Ma'arij
(19) Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (20) Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (21) dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (22) kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (23) yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (24) dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu (25) bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa yang tidak mau meminta, (26) dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, (27) dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.
Mudah-mudahan membantu ya, kawan. Terima kasih sudah bertanya, saya juga jadi merefleksikan diri. Ayo menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Btw, kita kan pernah baca artikel tentang ketidakstabilan emosi kaum perempuan yang disebabkan oleh seringnya mengekspresikan kemarahan lewat situs jejaring sosial. Itu ada benarnya lho. Kemarahan atau ketidakpuasan sebaiknya dikonfrontasikan, didiskusikan, dicari penyelesaian, sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh jejaring sosial. Jika ada masalah, sebaiknya diceritakan pada mereka yang kira-kira bisa membantu, atau setidaknya pada mereka yang bisa mendengarkan. Saya juga pernah membaca bahwa status pada jejaring sosial itu menular. Sering membaca status negatif membuat pembacanya memiliki energi negatif juga. Makanya, ayo sebar status positif. Berbagi sesuatu yang baik agar kita juga menjadi baik.

Menjadi baik bersama-sama^^
Yuk, mari...

9 Okt 2010

Obrolan Horror

Aku jadi penasaran seberapa horror dirimu.
Biasanya yang diam-diam itu lebih berbahaya.

Belom pernah seumur-umur saya nerima sms kayak gitu. Bukannya ga pernah ngobrolin tentang hal-hal 'horror', tapi hal ini rasanya kurang pantes kalo diobrolin antara cewek-cowok. By the way, buat yang belum ngeh tentang konteks 'horror' di sini, 'horror' bukan diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan mahluk-mahluk gaib, tapi sama-sama 'menyeramkan' bagi beberapa orang yang ga biasa dengan topik-topik ini. Konteks 'horror' disini berkaitan dengan hal-hal yang dianggap tabu. The hell! Horror disini artinya bokep, mesum, seks, dan istilah-istilah lainnya. You got the point now eh?

Sebagai seorang perempuan--yang menyukai hal-hal konvensional, yang lebih suka baca novel klasik seperti Little Women atau Pride and Prejudice dibanding novel metropop yang lebih modernized--obrolan horor buat saya menjadi sesuatu yang kalo di novel-novel tadi diistilahkan 'lack of propriety' alias kurang pantas. Nope, saya ga bilang hal seperti ini tabu untuk dibicarakan dan secara saklek membenci hal-hal seperti ini. Tapi perlu dipertimbangkan implikasi dari obrolan-obrolan semacam ini pada masing-masing lawan bicara.

Misalnya, ketika obrolan semacam ini dilakukan antara Ibu teman sekolah saya dengan anaknya dan temen anaknya (maksudnya saya sendiri^^). Si Ibu bilang sama kami gini "Siapa bilang malam pertama enak? Sakit tau!" atau "If you're lucky you might have a great sex. Orgasm that is." Apakah obrolan Si Ibu tadi tergolong horor? Atau ketika kita menemukan benda aneh terbungkus plastik berbentuk persegi dengan logo 'Keluarga Kecil Bahagia' di kamar orangtua kita, kemudian dengan penuh rasa ingin tahu kita nanya 'Bu, ini apaan?' lalu dijawab dengan santainya 'Oh, itu kondom'. Itu horor juga kan? Atau ketika teman kuliah kita (sesama perempuan) baru menikah dan bilang gini "Eh, Bo! Lo harus cepet-cepet nikah lo! Enak tau, bisa 'berpelukan' ;p" Horror juga kan?

Yes horror, but that's okay. Kenapa? Karena obrolannya dilakukan oleh sesama perempuan. Selain sebagai sex education, obrolan tadi ga bakal mengarah ke pikiran macem-macem antara pembicara dan lawan bicaranya.

Coba kalau obrolan tadi dilakukan antara perempuan dengan laki-laki. Misalnya saat jalan bareng seorang laki-laki dengan teman (biasa, bukan pacar) perempuan ngobrol soal jenis-jenis kondom, titik sensitif, atau gaya bercinta berdasarkan warna favorit, bukan dari pengalaman pribadi, melainkan dari artikel kosmopolitan yang mereka baca dan tertawakan bersama. Di awal mungkin ga ada perasaan risih, tapi ketika si cowok mancing dan si temen cewek menyambut dengan jawaban yang brilliant nan menunjukkan kalau cewek ini expert dalam 'kehorroran', siapa yang tau kalau di benak cowok lawan bicaranya (yang tadi mancing itu) ga berkelebat pikiran negatif tentang si cewek tadi.

Misalnya (dalam hati nih ya), "Buset ni cewek expert banget, jangan-jangan udah ga virgin!" atau "Waduh, kayaknya pengalaman pribadi nih. Pacarannya dulu berarti parah banget!" Padahal si cewek sebenernya masih polos dan tau ini itu tentang hal-hal horror dari baca, denger, atau nonton film. Is it a crime to watch Gossip Girls or Beverly Hills 90210 karena bisa ngasih kita hint tentang gimana kissing yang baik dan benar? Apa kita jadi ga virgin lagi ketika udah nonton Sex and the City?

Kesimpulannya, I'm not againts talking about that kind of stuff. Dengan catatan, dengan siapa kita berbicara, untuk keperluan apa, dan kapan kita ngobrolnya, momen serius atau bercanda. Dan ga perlu overreaction juga. Kayak pengalaman yang pernah saya alami waktu lagi booming video Ariel-Luna-Cut Tari, ada yang ngirim file video ini ke komputer saya. I hate it. I don't want to see it. And I hate how the public overreact it. Waktu itu yang terlintas di pikiran saya cuma pesen Ibu waktu kami nonton berita tentang keprihatinan menjangkitnya pornografi di kalangan anak sekolah. Waktu itu saya juga masih anak sekolah. Katanya "Ga perlu bereaksi berlebihan. Ga perlu ingin tau lebih dini. Toh nanti juga pasti ngalamin. Seks itu proses natural yang dialami semua mahluk hidup untuk survival. " It can make you happy but it's not as grand and definitely not everything.

So girls, don't be a female chauvinist:
I have lots of brothers, so I know. Bad girls is very tempting, but good girls is what they are looking for.

And boys, don't try me on:
I just want to respect myself.
'Cause if I cannot respect myself, how ever can I respect others?

18 Sep 2010

Balada Dosen-Mahasiswa (2)

Values

Perjalanan Solo-Jakarta yang seharusnya cuma makan waktu 1 jam jadi luar biasa lama kalau dilalui bareng seseorang yang lagi kita sebelin (apalagi ini, dua orang... hmmmph...). Selama perjalanan, biar ga terlalu keliatan bete (walaupun ekspresi ga pernah bisa bohong), saya mencoba ikutan sama pembicaraan mereka.
...
"Oh iya Bu, mobil saya transmisi manual. Oo.. mobil Ibu matic."
...
"Iya Pak, dulu saya pake KIA Visto, sekarang saya pake Avanza."
...
"Iya, Visto irit, mobil kota. Sekarang Avanza juga irit kok."
...
"Mmm.. gatau ya Pak, saya pakai Pertamax."

Semua pembicaraan seperlunya itu terasa ga berujung. Ditambah posisi duduk saya yang waktu itu diantara Pak X dan Ibu Y. Pura2 tidur pun susah. Soalnya Ibu Y, ga berhenti2 ngajak ngobrol Pak X. Sucks, tau gitu, tadi saya duduk di seat yang deket gang aja. Sambil merem2 ayam saya bertekad dalam hati. Nanti, pas dah landing di Cengkareng, saya mau ke toilet terus ngamplopin lagi buat Pak X dan Bu Y ini. Capek, biar beres dan ga banyak omong lagi, udah kesel banget soalnya. ><" Sampai di Cengkareng, waktu beliau2 ini nunguin bagasi (yang kebetulan saya ga bawa banyak bawaan jadinya ga masuk bagasi), saya ijin ke toilet. Mainly buat ngisi amplop buat ni orang dua. Secepat yang saya bisa, saya ngitung uang sisa yang ada dan ngeluarin dua amplop putih dan ballpoint. Amplop Pak X, saya isi tambahan uang harian seperti yang beliau minta (ekstra 1 hari), pengganti uang transport lokal seperti yang beliau minta juga (walaupun nominal yang beliau sebutin overwhelmingly ridiculous *masa uang taxi 600ribu?! nyewa mobil aja sekalian), dan uang pengganti airport tax keberangkatan beliau yang waktu itu ga saya dampingi. Amplop Ibu Y, saya isi uang harian beliau. Walaupun di perjanjian awal, Ibu Y setuju uang hariannya ditransfer ke rekeningnya aja, sekalian uang penggantian deposit hotel yang waktu check-in belom saya dampingin juga. Ga lupa kedua amplop itu saya namain, khusus untuk Pak X ditulisin rinciannya juga. Biar clear dan ga nanya2 mulu. Selesai itu, kami semua makan malam bareng di bandara, walaupun sebenenya saya udah pengen pulang banget, tapi si Pak X ngotot laper. Sebagai orang yang bertugas mengakomodasi beliau, saya terpaksa makan juga (walaupun selera makannya udah ketutupan sama emosi jiwa, wkwkwk). Setelah makan, amplopnya saya kasi.

And the reaction was:
"Lho, kok gini sih? Jadi ga enak nih saya..." kata Pak X sambil tetep nerima uangnya.
"Lho, kok gini sih? Lo ga pake duit lo sendiri kan? Lo gapapa? Lo ada ongkos balik ke Bandung? Duh, gue jadi ga enak nih..." kata Ibu Y.
"Udah gapapa Pak, Bu, saya ada kok ongkos pulang" jawab saya, "Saya mau ngejar Primajasa Pak, Bu, saya duluan ya."
Mereka yang masih terbengong2 akhirnya melepas saya pergi, dengan Pak X mengucap kata terakhir:
"Duh, kok jadi aneh gini ya. Oke. Hati2 ya. Termakasih banyak."

Aneh ya Pak? Akhirnya, Bapak nyadar juga dengan segala keanehan ini. Saya aja udah nyadar dari tadi.

Hal yang paling mengecewakan dari bussiness trip ini tuh bukan karena dengan hectic-nya saya harus mempersiapkan perjalanan ini, bukan juga karena saya harus stuck dengan dua orang yang membuat saya ga nyaman berada di dekat mereka, bukan juga karena kegiatan menurut saya jauh dari efektif dan cenderung ngabisin waktu dan tenaga tanpa tujuan yang benar2 clear, dan bukan juga karena di "after party" saya diomel2in sama kakak angkatan saya.

Secara ga langsung, Pak X, (mantan) dosen saya ini udah nunjukkin sikap2 yang membuat saya semakin ga respect sama beliau. Apalagi sebelum kita terbang ke Jakarta beliau ngasih "nasehat" buat saya yang bunyinya gini:
"Saya tuh ya, dulu, waktu muda... Kalau pergi ke luar kota seperti ini tuh kesempatan buat saya untuk 'dapat lebih'..."
Apapun itu maksudnya. Just, whatever... (_ _")

Ternyata, seorang dosen, yang dulu saya liat sebagai sosok yang berdiri di puncak menara gading, seorang yang dihormati karena keilmuannya, yang dibuktikan dengan predikat doktoralnya, melihat capaian pekerjaannya dari nilai rupiah. Bahwa refleksi dari karirnya adalah uang. Yang lebih bikin saya miris, refleksi karir berupa uang itu embeded terhadap atribut beliau sebagai seorang yang bergelar doktor. Kesannya "karena gue doktor, gue harus dibayar tinggi", terus lagi terkadang predikat doktornya digunakan saat beliau ingin menangkis opini orang lain yang dianggap masih junior: "karena gue doktor, lo harus dengerin omongan gue, nih pengalaman gue dari muda. Lo mah anak kemaren sore, lo salah gue bener." Refleksi itu juga terlihat ketika Bapak ini juga bilang:
"Saya tuh kalau kerja harus enak. Makan enak, hotel harus ada air hangat,..." dsb dst...
Tapi pada kenyataannya, setelah akomodasi tersebut disediakan pun, substansi yang seharusnya beliau kerjakan di-cover oleh asisten seperti saya dan teman2 lainnya.

Kemana larinya 'ilmu padi' yang ditanamkan orang tua dan guru2 kita sejak SD?
Tapi tunggu, dosen juga guru kan??

Dan untuk Ibu Y tersayang, pola2 kerja yang hanya mengandalkan upaya menyenangkan orang lain ga akan berhasil di jaman sekarang ini. Trust me, altough I'm still young, it just wont work! Saat bareng sama Pak X, Ibu mencoba menyenangkan beliau agar dihargai. Saat bareng atasan Ibu, Ibu juga mencoba untuk menyenangkan beliau. Tapi Ibu lupa, kalau posisi itu selalu berganti. Atasan Ibu yang sekarang belum tentu menjadi atasan Ibu nanti. Pak X yang Ibu servis abis-abisan saat ini juga ga punya posisi yang kekal untuk menjamin kerjaan Ibu 'kepake' oleh beliau. Pak X, dengan kinerjanya yang seperti itu, most likely ga akan kepake lagi walaupun beliau bergelar doktor (unless he changes).

So why don't we focus on our tasks. Bekerja sepenuh hati dan melihat capaian pekerjaan dari level of fullfilness yang lebih dalam. Happiness. Kepuasan ketika bekerja keras dan melihat hasil kerja yang lebih baik juga. And, maybe if we're lucky, the money will follow too.

16 Sep 2010

Balada Dosen-Mahasiswa (1)

Profesionalisme & Senioritas

Sekitar tiga bulanan yang lalu, saya dapet tugas dari kantor buat ngedampingin staf pemberi tugas (sebut aja Ibu Y) dan ketua tim tenaga ahli (sebut aja Pak X) koordinasi ke daerah. Waktu itu saya males banget sama kerjaan ini. Ini nih yang tejadi kalau kita udah ga respect sama orang, jangankan buat mengakomodir si Bapak ini buat acara koordinasi yang harus ke luar kota, untuk ikut rapat di kantor sama beliau aja malesnya minta ampun. Sampe2 sebelom saya pergi, saya nulis catatan kecil di pinggir organizer yang bunyinya gini:

listen without prejudice!
clear your mind from skepticism!


Koordinasi di daerah dijadwalin mendadak, diskusi di hari Kamis, keluar keputusan fix berangkat besokannya, hari Jum'at 3 hari sebelum Hari-H. Ribet banget karena untuk ke daerah itu perlu persiapan transportasi pulang-pergi, pengajuan biaya, booking hotel, charter transport lokal, belum lagi menghubungi siapa aja orang daerah yang bakal didatengin. Untuk pesen tiket pesawat pulang-pergi harus selesai Jum'at itu juga, hari terakhir masuk kantor, untuk jadwal keberangkatan dan kepulangan yang belum pasti. Belum booking hotel yang ternyata full dimana-mana karena saat itu di sana lagi ada event internasional.

Tapi ke-hectic-an itu ga seberapa dibanding kejadian "after party"-nya. Totaly amazed dengan kejadian itu, saya jadi pengen nge-share sama temen2 semua. Kejadiannya di airport, waktu mau pulang ke Bandung (via Jakarta). Seperti biasa saya ngasih uang harian (honor) buat Ketua Tim yang notabene-nya adalah anggota internal dari kantor saya walaupun beliau adalah tenaga eksternal yang di-hire kantor (so technically beliau adalah tenaga honorer).

Singkat cerita, setelah saya ngasih uang harian ke Pak X, beliau keberatan dengan jumlahnya (kasarannya kurang lah ya..). Tapi saya jelasin, bahwa uang itu sesuai dengan anggaran awal, dan belum mempertimbangkan bahwa acara kita ini mulur waktunya, jadi nanti ada penyesuaian setelah kita tiba di Bandung (intinya, ntar deh ditambahin Pak.. sekarang saya takut duitnya kurang buat ongkos ;p). Tapi kayaknya Pak X ini ga terima gitu aja, walaupun beliau akhirnya bilang "ya sudahlah..."

Gong-nya waktu saya ke toilet, ternyata Pak X ini ngomongin kurangnya honor beliau ke ibu staf pemberi kerja yang notabenenya mantan mahasiswinya di kampus. For the record, Pak X adalah mantan dosen saya juga dan otomatis Ibu Y adalah temen kuliah saya juga (senior lebih tepatnya). Surprise..!! balik dari toilet saya diomel2in sama Ibu Y, yang intinya:
  1. Pak X adalah dosen kita, masa dikasi honor kecil;
  2. Akomodasi hotel dan flight ga memadai, secara Pak X adalah dosen kita;
  3. Uang harian dia (Ibu Y) itu harusnya dibayar dimuka, bukan belakangan;
  4. "As a human being" (itu pilihan kata yang dipake Ibu Y) honor Pak X tuh ga memadai, terlebih beliau adalah dosen kita; dan yang lebih mencengangkan
  5. Ibu Y udah menghubungi atasannya tentang hal ini (kurang honor dsb) dan atasannya itu nanti akan bicara dengan atasan saya langsung. Oleh karenanya saya ga usah ngomong apa2 sama kantor dan pura2 ga tau aja.
Pfhuiihh... keabsurdan ini membunuhku.. haha, lebay...
Yang bikin saya merasa absurd sama kejadian (dan omelan Bu Y) ini:
  1. Ketidakmampuan Ibu Y untuk membedakan pekerjaan dan hubungan personal. Emang bener Pak X adalah dosen kami, tapi itu dulu. Sekarang beliau adalah Tenaga Ahli yang di-hire oleh kantor saya, untuk mengerjakan project yang diberikan oleh kantornya Ibu Y. Satu lagi, bahwa Ibu Y saat ini, secara profesional, bukan lagi senior saya yang memiliki hak untuk menegur saya, karena posisi kita pada dasarnya adalah mitra. Jika ada yang berhak memarahi saya, maka yang paling berhak adalah bos saya, bukan beliau. Jadi, kalau Bu Y mau komplain tentang saya, silahkan bicarakan dengan atasan saya biar saya nanti dimarah2in si Bos.
  2. Ketidakmampuan Pak X untuk membedakan pekerjaan dan hubungan personal. Intinya idem sama yang di atas. Pak X masih menganggap saya dan Ibu Y sebagai mahasiswanya. Terlebih lagi, Pak X lupa kalau yang meng-hire beliau adalah kantor saya, which means, beliau adalah bagian internal dari kantor. Dari situ, beliau ga boleh mengumbar kekurangan (kalo ga bisa disebut aib) kantor sendiri, terutama ke pemberi kerja yang notabenenya klien kantor Pak X dan saya.
  3. Pak X sepenuhnya sadar, bahwa kebijakan kantor mengenai honor dan akomodasi sudah ditentukan sebelumnya. Dan sebagai bagian dari kontrak, pasti beliau sudah pernah membaca dan menyetujuinya. Oleh karena itu, Pak X seharusnya ga usah ngember tentang hal ini dong, terlebih sama klien.
  4. Keluhan Pak X dan Bu Y salah alamat. Saya bukan orang yang berwenang untuk mengubah kebijakan honor dan akomodasi, karena semuanya ada di manajemen. Jadi, mau disiksa sampe muncrat pun saya ga bakalan bisa naikin honor mereka. Huft ><"
Dengan maksud untuk menenangkan panasnya suasana Bu Y yang ngomelin saya (dan Pak X yang ngompor2in dan bersorak sorai di pinggir lapangan) , juga karena saya juga tau bahwa ikut2an flow mereka yang berkobar2 ga akan menyelesaikan masalah, akhirnya saya angkat bicara:
"Iya, saya tau. Tapi saya ga ada kewenangan untuk mengubah kebijakan ini. Saya hanya ditugasi mengurus substansi proyek. Gimana kalau Bapak dan Ibu list saja keluahannya, nanti saya sampaikan ke manajemen?"
Mungkin karena ngeliat ekspresi saya (yang ga bisa bohong) yang bete banget, akhirnya mereka stop berkicau. Khusus untuk Pak X, mungkin beliau takut kalau saya mogok kerja abis diomelin gini, secara semua substansi, report, dan administrasi (yang harusnya dikerjain Ketua Tim, Pak X) dibebankan ke saya dan temen2 asisten lainnya. Kebayang aja kalo saya bikin shock therapy "Pak, saya resign!", kehebohan apa lagi yang bakal terjadi. (lol)

Karena muka saya yang saat itu kayaknya udah ga enak banget diliat, Bu Y juga ngerem omelannya, dan bilang:
"Jangan dimasukkin ke hati ya. Dulu juga temen lo yang nanganin project ini gue marah2in. Lebih parah bahkan dari ini."
Mana bisa ga dimasukkin ke hati, ga tau apa orang ber-shio kerbau itu pendendam. Apalagi orang Sunda, ga gampang tersinggung tapi sekalinya disakitin pasti berbekas. Makanya, daripada muna saya jawab aja:
"Duh, ga bisa Bu. Kalau kayak gini ga mungkin ga saya masukin ke hati."
Setelah itu, perjalanan pun dilalui kami bertiga dalam diam (saya aja sih yang diem, mereka berdua masih ngobrol-ngobrol. Nampak banget mereka cari2 topik pengalih, karena sepertinya mereka agak merasa bersalah.

[bersambung ke bagian (2)]