...

I am strong, because I am weak...
I am beautiful, because I know my flaws...
I am a lover, because I have been afraid...
I am wise, because I have been foolish...
And I can laugh, because I’ve known sadness...
Feeds RSS
Feeds RSS
Tampilkan postingan dengan label cerita Si Kebo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita Si Kebo. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2012

Flash Mob yang Keren

Kemarin blogwalking. Klik sana sini lalu ketemu tumblr-nya temannya teman saya. Hihi. Di sana saya temukan sebuah embeded video yang katanya bikin doski berkaca-kaca. Karena penasaran, saya ikut-ikutan tonton itu video. Dan akhirnya, sodara-sodara ...

Bukan cuma berkaca-kaca. 

Saya nangis sesenggukan. 

Merinding. 

Sungguh.



24 Nov 2011

Love Is A Game You Can Never Win

Obrolan santai 2 sahabat saat hujan di Sabtu sore.

"Jadi gimana nih sekarang? Sama siapa?"

"Hmm, siapa ya? Hahaha, ga ada...." ".........Eh, sebenernya ada sih, cuma ya gitu aja. Cuma buat ngehidarin galau. Biar ga selalu inget sama yang itu. Hahaha."

"Mmh, ya udah atuh. Sama dia aja. Sok! Seriusin."

"Waduuuuh, ga bisa Mas. Beda agama eung, hahaha. Lagian sukanya begitu aja. Kagum aja. Keren gitu, pinter. Dewasa juga. Sekalian bisa pinjem buku juga, koleksinya banyak. Sekalian juga bisa tanya-tanya hal yang baru. Wawasannya luas. Yah, keren lah anaknya." "..........Tapi ya gitu, sekedar sekedar aja, hehe."

"Waah, jangan atuh kalau bedanya prinsipil gitu mah. Kecuali kalau dianya ada niat pindah."

"Weits! Kejauhan ah. Lagian kayaknya dianya juga ilfil sama saya. Hehe."

"Emang ilfil kenapa?"

"He. Ceritanya saya kan nge-date ya Mas. Nonton. Terus saya tidur, ketiduran sih. Hehe."

"Waaah euy, kamu mah. Terus? Terus?"

"Ya, biasa aja. Dianterin pulang. Agak aneh rasanya Mas. Apa-apa dibayarin dia, terus pulang juga dianterin dia. Biasanya kan saya yang suka ngater pulang. Hahaha. Wanita macam apa?!" :P

"Hahaha. Ya bagus atuh, gentleman. Terus ilfil-nya gimana?"

"Yaaaa, dia berhenti kirim pesen text ke saya. Haha."

"Ooh. Itu mah mungkin sibuk kali."

"Yaaaa, mungkin sih. Bagian dia emang lagi sibuk-sibuknya akhir tahun." "........Mmm, tapi mungkin juga ini merupakan sebuah jawaban. Hahahaha."

"Maksudnya?"

"Ya kan dia beda agama tuh Mas. Jadi dari awal-awal Pe-De-Ka-Te saya udah mulai berkontemplasi: mau dicoba aja? atau sama sekali jangan untuk menghidari memulai sesuatu yang lagi-lagi ga jelas ujungnya. Hahaha."

"Jadi sekarang dapet jawabannya?"

"Hmm, sepertinya begitu. Hehe." "...........Tapi, agak merasa kehilangan juga sih Mas. Kehilangan partner diskusi. Hahaha."

Di luar hujan gerimis. Restoran makanan cepat saji tempat mereka ngobrol itu tambah penuh saja. Mereka memutuskan berjalan ke seberang.

"Eh, Mas. Pernah ga kepikiran bahwa cinta itu adalah sebuah permainan yang ga pernah bisa kita menangkan?"

"Maksudnya?"

"Ngerasa ga? Saat kita memutuskan untuk suka sama seseorang, kita sebenernya udah kalah. Karena apapun yang orang itu mau, kita bakal berusaha memenuhinya."

"Hmm, iya."

"Makanya saya suka heran sama pasangan yang suka menang-menangan. Ngerti ga?" "........Misalnya mencoba bikin pasangannya jealous dengan jalan sama orang lain. Dengan itu, dia pengen ngeliatin kalau dirinya hebat, biar merasa menang gitu, bisa bikin pasangannya cemburu. Padahal di sisi lain, dia sebenernya udah menang telak atas pasangannya itu, tanpa harus bikin jealous sekalipun."

"..."

"Dia sudah menang, saat pasangannya itu memilih dia." "............Seperti halnya orang itu sudah menang atas saya, saat saya membiarkan diri saya menyukai dia."

"Hmmmh, curcoooool... Hahaha"

"Hahaha." "Tapi Mas ngerti kan? Maksud saya?"

"Ya. Ngerti. Hehe."

"Why would anyone try to win over something he already won?"

Jadi inget film Jerry Meguire, waktu Renee Zellweger bilang ke Tom Cruise: "You had me at hello..."
Well then, you had me at that moment you sat there holding a cup of chocolate milk, wearing those eyes, saying: "home doesn't feel the same anymore."

"Heish! Ngelamun. Udah ah, sekarang mah kamu carinya yang jelas-jelas aja. Yang ga bikin kamu sakit hati."

"Haha. Iya. Pulang yuk, kamu kan mau ngepel. Eh, ngapel. Ihiiiirrrr..."

"Hush ah. Gosip!"

"Haha. Good luck Mas! Happy for you."

"Kamu juga."

"Hehe. Doain ya..."

"Siap bos!"
***

10 Sep 2011

Apa Kabar?

Dua kata berjuta makna.

Wah, sudah lama tidak menulis. Setidaknya saya merasa begitu. Malahan, ketika membuka blogger, tenyata interface-nya sudah sangat berubah. Terlihat lebih bersih dan moderen, tapi sulit digunakan. Mungkin karena belum terbiasa.

Sebelum memulai lagi menulis, saya ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin bagi sahabat-sahabat yang suka dengan segala kerendahan hati membaca blog saya dan Meong. Semoga kami dimaafkan, jika sekiranya ada tulisan yang kurang sreg. Hehe.

Lebaran kali ini saya merasa berbeda. Padahal di awal saya sudah skeptis dan berfikir: lebaran begini-begini saja. Berkumpul, shalat ied bersama, berpelukan lalu menangis: kemudian besoknya akan kesal lagi, melakukan banyak kesalahan lagi, menyesal lagi. Ketika itu saya pun jadi berpikir: mungkin kali ini saya skip saja acara nagis-nangisannya, toh tiap tahun saya nangis. Ternyata tidak bisa: saya tetap menangis ketika dipeluk bapak, ibu, dan kedua adik saya yang sekarang sudah jadi pemuda. Lalu kenapa dirasa berbeda? Entahlah. Mungkin karena khotbah ied yang filosofis dan inspiring (mengingat kembali bahwa dulu khotbah ied juga yang membawa saya pada keputusan memakai kerudung). Mungkin juga karena setelah lebaran saya merasa mendapat awalan (start) baru. Tidak secara harafiah, tapi memang begitu terasanya. Biasanya moments of clarity saya dapatkan saat saya menginjak angka usia lebih tua (which is nanti, 1 bulan lagi). Tapi entah kenapa, feel-nya malah terasa saat ini. Selain merasa juga bahwa hidup ini bukan bergerak sebagai "time elapsed" tapi "time remaining." Haduh, ada apa dengan saya? Haha.

Satu lagi yang membuat berbeda. Tidak esensial tapinya: saya me-non-aktif-kan akun facebook saya. Mungkin teman-teman yang suka saya ganggu, dengan status atau link tidak penting yang saya posting ke dinding halaman itu, sudah menyadarinya. Hehe. Begitulah. Saya berpindah sepenuhnya ke kicauan burung (baca: twitter). Alasannya: karena saya adalah prbadi yang teramat sangat lemah. Saya tidak dapat menahan godaan untuk mengetahui kabar dari beberapa orang yang mencuri 'special interest' dari saya. Saya jadi selalu ingin tahu mereka (atau tepatnya: dia) sedang apa, terlihat seperti apa sekarang, kepada siapa dia menaruh hatinya, dan lain-lain--hingga saya berpikir: okay! I'm insane. It's time to move on and setting him free. YES! YOU'RE FREE! Walaupun pastinya dianya juga ga ngerasa apa-apa. Haha. Heboh sendiri.
Jadi teringat masa-masa ketika bertanya: "Apa kabar kamu?" memiliki arti sebenarnya: "Apa kamu sudah punya seseorang yang lain? Apa sudah bahagia dengannya?"

Mengutip puisi dari seseorang yang saya kagumi: "Aku suka kamu itu urusanku. Perkara kamu suka aku atau tidak itu urusanmu!"  Aedah, dahsyat kan? Haha. Begitupun sekarang, rasanya dengan ini saya sudah (sedikit) menyelesaikan urusan saya. Rasanya ingin kembali ke kenyamanan masa lalu ketika jejaring sosial paling canggih adalah friendster. Tidak memaksa kita menjadi stalker. Masa-masa nyaman karena ketika kita ingin bertanya kabarnya. Ketika rindu. Kita menganggkat telepon, mendial nomornya lalu berbincang. Meski kikuk, dan jawaban untuk kata "hallo" hanyalah "hai." Meski setelah "hai" hanya hening, sambil sesekali "hmm" atau senandung kecil. Hmm, rindu. Rindu. Apa kabar kamu? :-)

14 Mar 2011

Surrender

chi trova un amico, trova un tesoro..

Pagi ini saya terbangun dan merasa malas (seperti biasa). Saya lupa kalau teman kost, yang biasanya pergi bareng-bareng saya ke kantor, hari ini mau ambil cuti haid. Jadinya saya bersiap-siap dengan santainya. (Apa korelasi antara bersantai dengan berangkat bareng teman? Bukannya harusnya kalau bareng tuh jadinya buru-buru karena takut temannya nunggu kelamaan?).

Sambil bersiap-siap, seperti biasa, saya memilih-milih CD untuk didengarkan. Saya aduk-aduk tempat CD berbentuk kepala Kebo warna ungu yang saya beli di Sasuka Ciwalk bersama Si Meong, hingga akhirnya menemukan CD berisi lagu-lagu Float, soundtrack dari film '3 Hari untuk Selamanya' yang dibintangi Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti. Sambil siap-siap, sampailah putaran cakram itu ke lagu 'Surrender' lalu terdengar sebuah kalimat yang catchy di dalamnya: chi trova un amico, trova un tesoro.

"Chi trova un amico, trova un tesoro" adalah pepatah italia yang berarti "one who finds a friend finds a treasure." Dia yang menemukan seorang teman, menemukan harta yang paling berharga. Bagus ya? Saking bagusnya, saya pasang jadi status YM saya hari ini. Ada teman yang penasaran, namanya Dwitya Zamora, menanyakan arti dari status saya. Dan saat dijawab dia berteriak di jendela instant messenger "BAGUUUUUUUSS..!"
Yup, Anto! Memang bagus.. :)

Iseng-iseng saya browsing lirik lagu 'Surrender' tadi. Karena selain pepatah italia itu ada kalimat lain yang saya sangat suka. Bunyinya: "to the future we surrender." Hasilnya, dapet deh lirik yang ternyata lebih bagus dari yang saya tangkap dan ikut senandungkan selama ini.

Float
Surrender

Life'll only be crazy as it's always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won't be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliché's killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"

Life's to live and love's to love

Sundays will be empty as it's always been
Watching TV, wake up late, playing dead
Mondays won't be easy with no plans and schemes
Now that you’re still here
The silence shouts it clear
You’re still here
The silence shouts it clear

To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love

To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love

Dari lirik itu saya bisa membayangkan jalan ceritanya. Jika si vokalis saya namakan Ujang dan karakter teman wanita Ujang saya namakan Neneng, maka jalan ceritanya kira-kira seperti ini:

Ujang adalah seorang pria biasa, yang sehari-hari melakukan aktivitas normal seperti yang dilakukan pria-pria muda lainnya. Bangun pagi dan bekerja, pulang kerja kumpul di kost sama teman lalu begadang bersama, ketar-ketir di akhir bulan karena besar pasak daripada tiang hingga untuk makan pun harus ngutang di warteg. Semua aspek kehidupan yang nampak sederhana dan mudah, sebenarnya tidak semudah itu rasanya ketika dijalani. Walau begitu, Neneng tetap setia ingin bersama Ujang. Sebuah cerita klise menurut Ujang, tapi tetap saja Ujang juga menginginkan bersama Neneng selalu. Walaupun untuk jalan sama Neneng otomatis butuh modal. :P

Neneng bukan cewek matre. Ketika Ujang stres ga punya duit, Neneng bilang bahwa 'Teman adalah harta paling berharga. Bukan uang.' Dengan kata lain, bukan makan steak di restoran mewah yang Neneng inginkan. Melainkan makan nasi bungkus berdua di tempat kost Neneng atau Ujang. Kebersamaannya saja sudah membahagiakan, sederhananya begitu.

Ketika Ujang dan Neneng sudah berjalan jauh, Ujang semakin khawatir dengan masa depan hubungan mereka. Akankah Ujang mampu menjadi provider bagi Neneng? Ujang galau. Tapi Neneng berkata "To the future we surrender. Let's just celebrate today, tomorrow's too far away. What keeps you waiting to love? Isn't this what you've been dreaming of?" (Pada masa depan kita menyerahkan diri. Mari merayakan hari ini, hari esok masih jauh di depan. Kenapa menunggu untuk mencintai? Bukankah ini impian kamu?)

Ketika mereka duduk berdua dalam diam. Ujang melihat Neneng di sebelahnya dan berpikir.
"Dengan saya yang seperti ini, dia masih bertahan di sini. Duduk di sebelah saya."
The silence shouts it clear.

***
Let's surrender to the future.

14 Feb 2011

Go With The Flow

Surat Cinta

Abang sayang...
Kita belum lama bertemu. Belum bisa dikatakan kenal satu sama lain. Waktu bertemu pun tidak banyak. Jadi sulit untuk bisa saling tau satu sama lain karena memang jarang berinteraksi. Tapi tidak apa, mungkin memang begini seharusnya. Agar kamu dan aku bisa sama-sama punya moments of clarity untuk memikirkan tentang kita.

Abang sayang...
Mungkin kamu ga bakal baca blog aku. Alamatnya aja mungkin kamu ga tau. Tapi aku pengen ngasi tau kamu sesuatu. Which makes things more convenient to me, since you most likely won't read this.

Abang sayang...
I said to you once, "Let's just go with the flow." Tapi kamu perlu tau, kalau frase 'go with the flow' adalah frase yang paling ga aku sukai. Aku adalah orang yang percaya betul kalau segala sesuatu yang kita inginkan, apapun itu, harus diperoleh dengan perjuangan. Duduk diam dan menunggu seperti daun yang jatuh ke sungai dan terbawa alirannya hingga ke muara adalah sesuatu yang tidak nyata dalam hidup. Sebuah ilusi, jika tidak bisa disebut terlalu pasif bahkan fatalistik.

Aku manusia biasa, Abang sayang...
Ga gampang buat aku untuk melepaskan sesuatu kalau aku yakin bahwa sesuatu itu aku inginkan. Bisa lihat benang merah antara frase 'go with the flow' yang pernah aku bilang ke kamu dengan hal ini? Ya, aku ga mungkin membiarkan diri untuk go with the flow jika aku yakin terhadap kita.

Abang sayang...
Aku ga mau minta maaf. Karena ini bukan kesalahan. Aku yakin bahwa dengan begini kamu pun ga akan dirugikan. Eventually, kamu akan bahagia. Aku janji kamu ga akan sakit. Aku ga akan biarin kamu sakit. Aku percaya bahwa kamu dan aku ga punya 'masa depan.' Tapi siapalah aku untuk menentukan? Satu hal yang aku tau pasti. Aku sayang kamu. Ketika semua argumen logis mengatakan bahwa ga akan ada satu 'kita' di masa depan, aku harap masih ada sepasang sahabat yang saling menyayangi. Jika, hanya jika, semua kalkulasi logis aku benar maka aku harap kita masih berteman baik.

Abang sayang...
Terimakasih untuk petemuan, interaksi-interaksi kecil yang sarat makna, juga kejujuran yang kamu berikan selama ini. Selama belum bertemu yang hakiki, mari kita terus mencari.

***
"What will it takes to make or break this hint of love?"
(Apa yang sebenarnya diperlukan untuk membuat atau memecahkan petunjuk cinta ini?)
"Only time. Only time."
(Hanya waktu. Hanya waktu.)
-Saltwater Room by Owl City-

18 Jan 2011

Sebuah Akhir

Cerpen

Suaranya masih parau tapi hatinya senang. Hari ini ia mencoba sesuatu yang sudah lama ingin ia coba. Tak rela rasanya jika kesenangan itu cepat terbang. Inginnya Tara membatalkan janjinya dengan Regi hari ini, tapi tidak bisa. Ia sudah berjanji pada Saci mau mengajak Regi berbicara. Tapi entahlah, Tara sendiri bingung apa yang ingin dibicarakannya dengan Regi. Jadi tidak yakin ingin bertemu hari ini, walau kemarin rasanya antusias sekali.

Sudah seminggu berlalu sejak Tara mengajak Saci keluar makan malam. Itu yang biasanya mereka lakukan ketika ada persoalan penting untuk dibicarakan. Walaupun pada kenyataannya hal penting itu seringkali ga penting-penting amat. Well, penting atau tidak pentingnya suatu persoalan pada dasarnya bergantung pada konteks persoalan tersebut. Penilaian manusia toh seringkali bergantung pada konteks, baik waktu, subjek, objek atau konteks lain yang berkaitan.

Sambil mengemudikan mobil abu mungilnya Tara mencoba mengingat pertemuannya dengan Saci minggu lalu. Hari itu Rabu, Senin-nya Tara seharian di cubicle-nya menyelesaikan laporan. Selasanya harus menemani tenaga ahli ke Jakarta untuk mendiskusikan jadwal dengan pemberi kerja. Rabu-nya Tara mendadak harus ke Jakarta lagi, kali ini untuk mendampingi tenaga ahli berdiskusi. Tidak banyak waktu yang bisa Tara habiskan dengan Saci, tidak sepeti tahun lalu saat mereka masih menginjak tahun pertama di tempat kerja. Lebih banyak tawa, lebih sedikit problematika. Semuanya terasa lebih sederhana. Sesaat sebelum pergi ke Jakarta Rabu pagi itu, ada bisikan yang mengatakan betapa Saci nampak sangat kusut seharian kemarin.

"Mukanya tuh bete banget Tar. Untung kemaren lu pergi. Kalau enggak, kayaknya lu ikut pusing dibikinnya."

"Lho? Kenapa gue harus ikut pusing?"

"Taaaaar, Tar! Lu tuh walau nampak cuek, sebenernya lu maintain temen-temen lu banget lagi. Yah, setidaknya yang deket lah. Lu emang cuek, bisa memperlakukan setiap orang dengan sama. Tapi tidak pada orang-orang tertentu yang lu deket sama mereka. Dalam hal ini Saci."

"Emh. Gitu ya?"

"Yah, apapun itu Tara. Pesen gue, jangan biarin yang kayak gini ganggu konsentrasi kerja ya? Lu tuh belom bisa mengontrol mood pribadi. It's one of your flaw, selain yang lu suka telat masuk kerja. Hehe. Sisanya, I think your okay. Semangat ya say!"

Setelah obrolan itu, Tara bertekad akan mengajak Saci keluar malam itu juga sepulangnya dari Jakarta. Terbukti sudah pendapat yang mengatakan bahwa Tara orangnya 'nge-maintain' banget, walaupun ia sebenarnya tidak mau mengakuinya.

***
"Sejak lu berhenti atau putus atau apalah namanya itu sama Regi, dia tuh ga berhenti gangguin gue. Gue capek Ra, capek banget."

"Lho? Kenapa lu harus capek? Bukannya biasa kalian bercanda bertengkar-bertengkar begitu?"

"Enggak. Yang sekarang tuh beda. Dia tuh beda."

"Maksudnya? Beda gimana?"

"Yah. Pokoknya lebih ga jelas deh. Gue juga ga ngerti."

"Lebih manja maksud lu? Emang gitu kali anaknya Ci. Kita kan emang baru kenal dia sebentar. Mungkin sekarang dia udah mulai ngerasa nyaman sama kita-kita, lalu sifat aslinya keluar."

"Ga tau lah gue. Mungkin juga. Tapi mungkin juga enggak. Pokoknya gue capek Ra. Gue tuh cape berusaha ngertiin orang-orang. Gue tuh berasa ada di tengah-tengah. Lu sahabat gue, dia temen gue. Kalian berhenti ngobrol kayak dulu, gue yang jadi bingung harus menyikapinya gimana."

"Oke. Kalau gitu, gue nanti ngobrol deh sama Regi. Dan elu, Saci-ku sayang, ga perlu capek. Esensi dari 'ngertiin orang lain' adalah agar kita ga capek lagi mengharapkan sesuatu dari orang itu. Let go Ci. You can't make everyone happy. Inget prinsip Pareto Optimum?"

"Don't start economic lesson on me girl. I'm much better than you on that subject, right? Hehe."

"Yeah, right. Hehe."

***
Tidak adil rasanya menggunakan Saci sebagai alasan bahwa dirinya harus berbicara dengan Regi. Memang ada beberapa hal yang perlu dibicarakan. Apapun itu. Saci hanya salah satu pendorong, bukan faktor utama yang membuat pertemuannya dengan Regi kali ini sebuah kebutuhan jika tidak disebut keharusan. Masih, Tara bingung apa yang harus dibicarakan itu sebenarnya. Tara bukan orang yang biasa berpikiran rumit. Ia seringkali menyederhanakan suatu kejadian dalam satu tema besar di dalam otaknya, dan tanpa sengaja menghapus segala detailnya. Dan semua yang ingin dikatakannya pada Regi cuma bisa digambarkan Tara sebagai 'Kotak Pandora', sebuah benda yang sebaiknya tetap tertutup. Walaupun menurut alkisah, sesaat setelah Pandora membuka kotak itu dan semua hal yang tidak diinginkan keluar darinya, terdapat sebuah benda yang tersisa. Benda itu adalah 'hope,' harapan. Tetap saja, walaupun di sana ada harapan yang tersisa dan isi kotaknya ia yakini tidak semengerikan milik Pandora, Tara tidak yakin untuk membukanya.

Hubungan Tara dengan Regi tidak bisa dikatakan pacaran, tapi tidak bisa juga dikategorikan teman biasa, karena segala aktifitas yang mereka lakukan 'mirip' orang pacaran. Tara mengenal Regi empat bulan yang lalu. Pertemuan pertama yang biasa saja bisa menjadi sangat menyenangkan seiring berjalannya waktu. Regi bisa membuat Tara nyaman, dan tara mem-'fait accompli' perasaan itu sebagai cinta. Sudah terlambat bagi Tara saat menyadari bahwa semuanya berjalan terlalu cepat, karena ia sudah terlanjur menyatakan perasaannya pada Regi.

Saat Tara menyadari bahwa ia terlalu cepat mengambil langkah, gosip kedekatan mereka sudah menyebar di seantero kantor. Resiko dekat dengan teman sekantor memang tidak bisa dihindari. Antusiasme Saci untuk lebih mendekatkan mereka berdua lama-lama tidak membantu juga, malah melelahkan bagi Tara. Lebih melelahkan karena Tara tidak bisa mengeluhkan hal itu pada Saci, takut Saci tersinggung. Satu dan lain hal membuat Tara semakin yakin bahwa semuanya salah. Terlalu cepat. Dan pihak yang bersalah adalah dirinya sendiri. Tidak bisa tidak, ini semua harus diperbaiki. Tidak bisa kembali pada titik nol memang. Tapi bukan juga seperti nasi yang jadi bubur. Toh bubur pun bisa dijadikan lontong. Keengganan Tara untuk bicara pada Regi ditepisnya sudah. Terlebih mulai bulan depan ia akan pindah tempat kerja, meninggalkan Saci dan Regi serta teman-teman lainnya. Satu per satu, semuanya, harus diselesaikan.

***
Regi sepertinya sudah menunggu. Mata Tara yang rabun tanpa kacamata menangkap seorang lelaki muda tersenyum dan melambaikan tangan. Mereka lalu duduk di sofa sebuah restoran. Kalimat demi kalimat obrolan ringan mulai terlontar. Hingga malam tiba, dan akhirnya Tara mulai mengatakan apa yang ia pikirkan selama ini. Tanpa banyak detail, menjaga 'Kotak Pandora' agar tetap tertutup rapat.

"Aku buat kamu. I'm just another girl in another gossip about Regi Jayanto. Nanti Gi, saat aku udah pergi, akan ada orang lain yang masuk dalam hidup kamu. Dan siklus ini akan terjadi lagi. Seperti apa yang kamu pernah bilang ke aku, bahwa kemanapun kamu pergi, selalu digosipin sama si ini, sama si itu. Karenanya, nanti, kamu akan mendapat warna baru di hidup kamu. Another candle to lit upon. Dan kamu buat aku, untuk saat ini, you are still a significant someone. Because you lit my fire once. Entah di masa datang. Tapi selamanya, kita adalah teman."

Regi hanya terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Malam minggu mereka yang terakhir baru berakhir. Tapi akhir cerita lama adalah awal cerita baru. Seperti 31 Desember yang dirayakan hingga 1 Januari menyongsong, kenapa akhir ini tidak bisa ditutup dengan sorak sorai dan letupan kembang api yang menghias langit malam? Bisa saja. Kenapa tidak?

========
Fiksi.
Yeay! Finally, my new year's short story. Hihi. Credits to:
'Si Meong' Lilik Lestari. Semoga cerita kita tidak berakhir sampai disini. Keep on inspiring me dear, love you. :-*
'Si Kucing Tengil' Haikal Reza. As I always say, please be a great man in the future. Hope you'll find your passion soon. Thanks for letting me in as a cameo in your life. ;-)

25 Des 2010

Lana's Songs (6)

Theme song discovered!

Duduk canggung dalam angkot hijau Kalapa-Dago, Lana memikirkan bagaimana caranya memberi tahu Ardi tentang masalahnya dengan Kiwi. Masalah yang tidak akan terjadi jika Ardi tidak membuat gara-gara, pikir Lana. Tapi bagaimana caranya mulai bicara? Bertanya secara langsung pada Ardi sepertinya aneh dan memalukan. Lana menahan tawa memikirkan reaksi Ardi dan betapa malu dirinya nanti jika ia tiba-tiba bertanya, "Di, lo suka sama gue?" Haha. Ge-er banget kesannya.

"Lan, turun di mana?" pertanyaan Ardi membawa Lana kembali dari khayalannya tadi.

'Hmmh? Di depan. Di depan. Perempatan."

"Oo. Oke. Kiri-kiri Kang!"

Celebrate. Satu dari dua gift shop favorit Lana. Satunya lagi Grow, di Jalan Pager Gunung, lebih dekat dengan SMA-nya dulu dan tempat kuliahnya saat itu. Kali ini Lana memilih Celebrate karena itu adalah tempat yang pertama kali pop-up di kepalanya tadi. Lana tidak asing dengan toko pernak-pernik itu. Ia bahkan hapal dimana letak berbagai jenis barang dipajang. Bukan karena kerajinan atau panjang ingatan, tapi karena baru-baru ini ia ke toko yang sama untuk membelikan kado untuk Kirana, teman mereka juga yang berulang tahun minggu lalu.

"Kemaren, gue beli kado Kiran disini juga," Lana membuka pembicaraan setibanya di dalam toko, "Lo mau beli kado yang gimana Di?"

"Emh, ga tau juga. Hehe. Gimana kalo kamu aja yang pilihin?"

"Mau yang sama kayak gue kasih ke Kiran?"

"Emang kamu ngasih apa ke Kiran?"

Lana lalu menghampiri sebuah rak di dekat kasir, mengambil babi kecil berwarna biru yang bergetar saat tombol power-nya ditekan. Ardi seketika tergelak.

"Lho? Kok lo ketawa sih? Iih, pasti pikiran lu kinky ya?" Lana bertanya setengah menggoda.

Ardi malah tertawa lebih keras. Lana tidak tahan untuk ikut cengengesan.

"Ini alat pijet Ardiiiii...! Lo ga usah mikir aneh-aneh deh."

"Kamu ngasih begituan buat Kiran?"

"Iya."

Tiba-tiba Lana memiliki ide untuk memancing Ardi dengan menggunakan nama Kirana.

"Di, Kiran anaknya asik ya?"

"Hm? Iya, asik."

"Mm. Lu suka sama Kiran?"

Daripada menahan bola panas sendiri, Lana berharap bisa mengopernya pada Kirana yang tak berdosa. Sederhananya, biar masalahnya dengan Kiwi selesai. Pasal nanti Kiwi jadinya manyun sama Kiran dipikirin belakangan.

"Kok nanya itu?"

"Mm. Gakpapa. Kiran kan cantik tuh, gaya, gaul. Masa lo ga suka sih Di?"

"Hahaha. Kiran emang cantik, keren, anaknya asik. Tapi dia bukan tipe aku."

Lana tidak mau beresiko dengan bertanya bagaimana tipenya Ardi. Khawatir Ardi menjawab "Tipe aku ya, yang kayak kamu." Haduh. Tanpa sadar Lana geleng-geleng kepala saat memikirkan hal itu.

"Lan..."

"Hah?"

"Kenapa?"

"Apanya?"

"Barusan? Geleng-geleng?"

"Hmmh. Enggak, gakpapa. Eh, jadi mau beli kado apa?" Lana mengalihkan pembicaraan.

"Kan kamu yang mau pilihin?"

"Hmmh? Emang iya ya?"

Ardi tersenyum jahil.

Ingin hari itu cepat berakhir, Lana berkeputusan membantu Ardi memilihkan kado.

"Temen lo ini, cewek atau cowok?"

"Cewek."

"Oo. Gebetan lo ya?" another try from Lana.

"Bukan. Temen. Sama-sama anak Bogor."

Tak ingin Ardi menganggapnya mengorek informasi atau cemburu dengan temannya yang sedang dicarikan kado itu, Lana tidak mencoba memancing lebih jauh.

"Oke. Anaknya gimana emang? Karakternya? Biar gue ada bayangan kasi kado apa."

"Hmm. Anaknya lucu, rame, ceria. Asik deh. Kayak kamu."

Tanpa memberi komentar sedikitpun Lana berjalan melewati Ardi. Melihat-lihat pernak-pernik yang mungkin dijadikan kado temannya Ardi ini.

"Kalo boneka? Terlalu standar sih kayaknya," Lana bertanya sekaligus menjawabnya sendiri. Ia lalu beranjak ke tempat keramik-keramik kecil. Melihat deretan mug bergambar zodiac, Lana terpikir ide lain untuk membuat Ardi ilfeel. Ia tidak punya cara lain, pikirnya.

"Di, zodiac lo apa?"

"Emh, awal Maret. Pisces ya?"

"Oo. Pisces," Lana lalu mengangkat mug bergambar ikan lalu membaca tulisannya dalam hati, "Pisces, most compatible with Libra," dan Lana seorang Libra. Cepat-cepat ia menurunkan mug itu dan berjalan menjauh agar Ardi segera mengikutinya.

"Gue Libra. Pisces tuh ga compatible lagi sama Libra," tanpa jeda atau melmperhatikan ekspresi Ardi, Lana kemudian berkata, "Duh gimana ya Di. Gue bingung mau milihin kado apa."

"Ini menurut kamu bagus ga?"

Ardi memegang stiker fosfor besar berbentuk tengkorak di depan Lana. Tidak tahan, Lana tertawa seketika.

"Bagus kan? Glow in the dark lagi."

"Hahahahaha. Lo mau ngasih itu Di? Tengkorak?"

"Iya. Bagus kan? Kamu aja ketawa. Hehe. Entar kan bisa ditempel di dinding kamar. Kalo tidur, lampunya dimatiin, kan nyala tuh. Keren."

Lana speechless. Di luar dugaan sebelumnya, laki-laki ini ternyata sangat menyenangkan. Ardi just swept Lana off her feet. Tengkorak pun dibungkus. Mereka keluar toko diiringi alunan Whiteflag dari Dido, lagu yang akan menjadi soundtrack utama cerita Lana-Ardi-Kiwi.

***

"Kamu pulang naik apa?"

"Caringin-Dago, yang orange, dari Cikapayang situ."

"Aku anter ya?"

"Hmm. Ga usah. Tinggal jalan dikit kok dari sini."

"Ya udah, aku anter sampe naik angkot. Daripada gelap-gelap jalan sendirian."

Hari memang sudah Magrib, mulai gelap. Pohon-pohon besar di Cikapayang saat itu sedang ditebangi, mau dibuat flyover dari Pasteur hingga Surapati. Jalanan memang jadi lebih sepi. Sulit untuk Lana menolak tawaran Ardi. Akhirnya, mereka berjalan bersama.
Tujuan awal pertemuan dengan Ardi hari ini seolah terlupakan oleh Lana. Di kepalanya, masih terdengar Dido yang menyanyikan lirik Whiteflag.

[to be continued]

14 Des 2010

Lana's Songs (5)

Saybia atau Muse?

Selesai kelas terakhir, Lana terburu-buru keluar menembus lorong menuju selasar. Meri, sahabat, teman nongkrong, sekaligus tebengan pulang Lana sehari-hari, terheran-heran melihatnya.

"Lan! Lan! Lo mau kemana? Ga nongkrong dulu? Langsung balik? Mau bareng gue ga?"

"Eh, sori. Sori Mer. Hari ini gue ada urusan penting. Ga bareng ya gue."

"Oke oke. Emang lo mau kemana sih?"

"Ada kejadian penting. Heboh. Menggegerkan! Gue mau ketemuan sama Ardi sekarang."

"Hmph, dramatis deh lo!"
"Eh, tapi. Kok Ardi? Ardi yang anak Ose 2002? Kok bisa? Mau ngapain? Jiye jiye," Meri malah menggoda Lana yang sedang tergesa-gesa.

"Haduuuuh cin! Tar aja deh gue jelasin. Kejadiannya no fun at all. Genting deh pokoknya. Ada hubungannya juga sama Si Kiwi. Tommorow I'll give a full report okay?"

"Okay. Beneran ya. Take care girl!"

Mereka cipika cipiki dan berlalu.

***

Seperti tidak ada lokasi lain untuk bertemu, Ardi pun menentukan lokasi janjian di depan Tokema. Mungkin karena dia tau, Lana sering nangkring sambil ngobrol dan minum Buavita di tembok pagarnya yang sudah lembab dimakan jaman. Maklum, Tokema yang terletak di komplek Student Center, dua buah bangunan simetris yang membelah Boulevard dengan Tugu Soekarno ini, dibangun semenjak jaman kolonial. Kabarnya, salah satu ruangan di Student Center ini pernah menjadi saksi bisu deklarasi sekelompok pemuda yang sedang berjuang membangun idealisme. Lana pernah melihat sebuah plakat tertanam di lantainya. Itu bukti dari sejarah yang mulai terlupakan. Dan kini, 7 tahun kemudian, Student Center tinggal kenangan. Digantikan oleh Campus Center yang lebih megah dan futuristik. Entah plakat itu masih ada atau terkubur dibawah stuktur putih mentereng itu.

Sepertinya Ardi agak oblivious bahwa tempat itu juga tempat Kiwi sering nongkrong bersama Lana dan Meri. Terlebih, Ardi juga sepertinya oblivious dengan perasaan Kiwi kepadanya sedari dulu. Saat berjalan dari Labtek IX A yang hanya berjarak 200 meter jika ditempuh melalui Labtek-nya Teknik Lingkungan, Lana berpikir "Kiwi ngeliatin kami berdua ketemuan di situ ga ya? Mudah-mudahan enggak deh."

Di sana, bersandar di tembok pagar, tepat di depan pintu Tokema, Ardi sudah menunggu. Melihat Lana datang menghampiri, ia tersenyum manis sekali. Dengan Ardi yang seperti itu, Lana tidak mampu menahan diri selain membalas senyuman dan sedikit melambaikan tangan.

"Hei Di."

"Hei Lan."

"Lama nunggu?"

"Ah, ga juga."

"Ngobrolnya sambil jalan deh yuk," Lana teringat kembali bahwa ada kemungkinan Kiwi sedang melihat mereka bertemu di sini, dan ia mungkin akan salah paham akan maksud Lana.

"Yuk," Ardi setuju.

Mereka pun berjalan menyusuri selasar Teknik Lingkungan, menyeberang ke Selasar Planologi, menyusuri lapangan Barrack hingga Mushola Bundar, berbelok ke kanan ke Seni Rupa, terus berjalan hingga Soemardja. Di sini langkah mereka terhenti.

"Jadi kita mau kemana nih?" tanya Lana.

"Terserah. Kamu maunya ke mana?"

Lana paling tidak suka jawaban itu. Baginya, jawaban terserah adalah sebuah jawaban pengecut, menghindari resiko. Tapi begitulah yang umumnya dilakukan laki-laki ketika pertama kali mengajak perempuan yang disukainya jalan. Terlalu khawatir si gebetan tidak suka dengan apa yang akan ditawarkannya sebagai pilihan. Padahal, sebagai anak pertama yang terpaksa membuat keputusan selama hidupnya, Lana ingin sesekali dipaksa menuruti keinginan orang lain yang membuatkan keputusan untuknya.

"Lho? Kok gue yang nentuin? Kan lo yang ngajak," ketus, Lana menyadari itu. Tapi hanya itu satu-satunya jawaban yang terpikir olehnya.

"Mm, kalo gitu kita nyari kado aja deh yuk. Buat temen aku. Dia ulang taun besok."

"Oke. Mau nyari di mana?"

"Hehe. Aku sebenernya ga tau juga sih, biasanya nyari kado semacam itu dimana. Kamu ada ide?"

"Mm, oke. Di Celebrate aja kalau gitu. Gift shop yang di Sulanjana itu. Gue kalo nyari kado biasanya disitu."

"Oke. Yuk."

Mereka pun melanjutkan berjalan menyusuri lapangan parkir Seni Rupa, berbelok ke kiri menyusuri Jalan Ganeca dipayungi pohon-pohon tua dan udara sejuk kota Bandung sore hari. Beberapa meter meninggalkan pintu gerbang dan deretan warung tenda di mulut parkiran, Ardi memulai pembicaraan kembali.

"Kamu tau lagu Saybia?" Ardi menanyakan sebuah lagu yang sedang populer saat itu. Lana pasti tahu, ia selalu rajin meng-update playlist sejak di bangku SMP.

"Tau. 'The Second You Sleep 'atau 'The Day After Tommorow'?"

"Mm, yang lagi hits sekarang?"

"Ya, dua-duanya juga hits."

"Oo, 'The Second You Sleep' yang mana? 'The Day After Tommorow yang mana?"

Lana sadar, Ardi memaksanya menyanyikan lirik lagu itu. Herannya, ia mau saja.

"Mm, kalau 'The Second You Sleep' tuh yang
'I stand to watch you fade away, I dream of you tonight, tommorow you'll be gone, it gives me time to stay ...'
Kalau 'The Day After Tommorow' itu yang
'please tell me why do birds, sing when you're near me? sing when you're close to me? they say that I'm a fool for loving you deeply, loving you secretly ...'
itu."

"Bukan ah, bukan itu."

"Iih, iya lagi. Bener. Saybia kan?"

"Bukan ah. Yang ini lho,
'you could be my unintended choice to live my life extended, you could be the one I'll always love ...' "

"Oo, itu mah Muse, bukan Saybia. Judulnya Unintended."

"Oo, Muse ya. Haha."

Tanpa terasa, sampailah mereka di pinggir jalan Dago. Menyebrang ke halte Borromeus, menunggu angkot Kalapa-Dago.

[to be continued]

11 Des 2010

Highway

Cerpen

Awan mendung menggelayut malas di atas kilometer 14. Di sini, di ruas tol yang membelah kawasan Bekasi. Kemacetan belum juga terurai. Sudah sore, kira-kira setengah empat. Biasanya perjalanan Bandung-Jakarta tidak terhambat di ruas jalan yang ini.

Macet. Aku jadi teringat buku yang baru aku baca. 'The Smart Growth Manual' tulisan Andres Duany, salah satu pelopor New Urbanism. Katanya, kita harus membersihkan highway dari kegiatan ekonomi komersil karena akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. Pada gilirannya kemacetan ini akan berdampak pada pemborosan waktu, pemborosan bahan bakar fosil, dan social costs lainnya. Tapi Oom Andres, highway di Indonesia kan beda dengan highway di Amrik. Yah, walaupun perkembangan di Indonesia sepertinya mengikuti pola-pola perkembangan Amrik, tapi dari sisi negatifnya.

Lihat saja perkembangan rest area yang menjamur hampir setiap 20 kilometer. Dengan fasilitas 'one-stop-shop', jalan tol yang seharusnya bebas hambatan menjadi jalan dengan hambatan samping yang menggoda. Bagi tukang jajan karena banyak restoran serba ada. Bagi fashionista karena ada juga rest area yang dilengkapi boutique outlet. Lama-lama jalan tol ini menjadi Objek Daya Tarik Wisata sendiri. Wisata rest area.

Lamunanku mendadak buyar karena executive shuttle yang aku tumpangi mulai merayap di tengah kemacetan hingga akhirnya mataku menangkap sekumpulan orang berkerumun di lajur kebalikan. Menatap di seberang mereka, di sebelah kiriku, belasan rumah masih berkobar dilalap api. Lama-lama aku jadi kesal juga dengan si awan malas karena tidak juga menurunkan hujan untuk membantu pasukan merah memadamkan api.

Pantas saja. Dari tadi aku heran dengan kosongnya lajur ke arah Bandung. Ternyata banyak kendaraan terhenti di sini juga. Di bawah awan mendung yang malas, awan gelap yang lebih lincah pun rajin sekali melintas sedari tadi, sejak di kilometer 44 sewaktu aku terbangun dari tidurku. Pikirku, "
Kok polusi industri sepanjang tol heboh sekali?"

Lebih ganas dari polusi industri yang bisa membunuh perlahan-lahan. Merasuki paru-paru dengan gas-gas toksin, masuk ke tubuh perlahan dan mengubah sel-sel tubuh menjadi monster mutan yang mengerikan. Kebakaran di kawasan permukiman bisa mebunuh lebih cepat lagi. Jika ditanya lebih kejam mana? Aku akan bingung, pikirku. Dua-duanya mematikan. Dua-duanya menghancurkan harapan. Hanya beda modus dan rentang waktu.

Aku jadi berpikir tentang orang-orang di balik kekejaman ini. Kaum kapitalis yang mengubah lahan pertanian menjadi pabrik dengan cerobong besar menjulang ke langit dan pipa besar yang menggelontorkan air berwarna-warni ke aliran sungai. Untuk memutar roda perekonomian. Akhirnya untuk kesejahteraan rakyat juga. Itu dalihnya.

Sedang kebakaran yang terjadi saat ini. Hanya kebakaran. Kebakaran adalah suatu bencana. Misfortune. Force major. Sebuah ketidaksengajaan karena keteledoran salah satu penghuni rumah yang lupa mematikan kompor, konsletnya aliran listrik arus pendek, atau yang paling mutakhir, salahkan saja tabung-tabung hijau kecil yang disebar Pertamina karena seringkali berubah fugsi menjadi bahan peledak. Tapi satu hal yang aku tahu, kenyataan yang sebenarnya, yang tidak pernah muncul di liputan televisi. Seringkali peristiwa kebakaran itu disengaja.

Aku tidak melantur. Sebut saja aku gila. Tapi orang di balik pembakaran beberapa kawasan perkotaan yang berkembang pesat di Pulau Jawa adalah bapakku. Ya, ayah kandungku sendiri. Jika banyak yang mengira bahwa mafia itu hanya ada di film Hollywood, sebaiknya mereka lebih lebar membuka mata. Karena uang yang digunakan untuk membiayai kuliahku, uang kost, hingga makanan yang kutelan setiap harinya, berasal dari bisnis mengerikan itu.

Melihat kejadian yang sekarang ini, aku bertanya-tanya "
Apakah ini juga perbuatan Bapak?" Dulu, aku masih marah jika tahu ini perbuatan bapak. Tapi kini, hatiku pun ikut mati sepertinya. What you eat is what you are. Sepertinya pepatah itu benar. Aku makan uang racun, hatiku pun jadi racun. Jika nanti di kawasan itu dibangun pabrik, mall, atau apartemen, aku tidak akan heran. Berarti dugaanku benar.

Aku jadi ingat dulu ketika memilih jurusan kuliah. Bingung antara teknik arsitektur dan planologi. Waktu itu aku masih polos, belum tahu pekerjaan bapak yang sebenarnya. Yang aku tahu sejak kecil, beliau usaha jual beli motor Harley-Davidson. Karena itu uangnya banyak. Waktu itu, beliau menyuruh aku masuk planologi saja. Lebih dekat dengan kekuasaan katanya. Tidak mengerti maksudnya, aku ikut saja permintaan beliau.

Bertambah dewasa, aku mulai mengerti maksud beliau dengan kalimat 'dekat dengan kekuasaan' itu. Planologi, perencaaan wilayah dan kota. Jika tidak mangkir menjadi bankir, lulusannya bisa masuk pemerintahan. Menjadi pembuat keputusan, penyusun kebijakan, menentukan boleh tidaknya pengembangan kawasan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Hebat!

Sekarang, beberapa tahun setelah lulus, aku menjadi PNS sebuah kementerian yang mengurusi proyek-proyek pembangunan berskala nasional. Terima kasih bapak, karena sepertinya aku akan menjadi PNS yang kaya raya. Menilep uang negara dengan lihai karena itulah satu-satunya kenyataan hidup yang aku pelajari selama ini. Abaikan saja kesejahteraan publik. Karena Pak Dosen bermobil BMW seri terbaru pernah bilang saat aku kuliah tingkat awal, bahwa semua itu hanya sekedar wacana.

=======
Fiksi. Iseng-iseng di kemacetan Tol Cikampek menuju Jakarta. Turut berduka bagi korban kebakaran 8 Desember 2010. Semoga cepat pulih fisik dan mental.
Credits to Ibu Dirjen. Kangen dengan traktiran Magnum-nya^^. Tolong ingatkan neneng kalau mulai mengindikasikan akan melenceng menjadi PNS yang nakal. Miss everyone @ Cilaki.

10 Des 2010

Lana's Songs (4)

Unintended

Tergesa-gesa menembus Boulevard, Lana tidak mempedulikan teman-temannya yang memanggil-manggil dari pinggir lapangan tenis. Sesekali Lana melempar kata 'hey!' pada mereka yang kebetulan bertemu mata. Sampai di sayap kanan Student Centre, ia masuk ke Tokema. Mencari sosok gadis kecil berambut panjang yang dikenalnya. Mini market itu tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Kiwi. Keluar memutari Student Centre hingga sekretariat Keluarga Mahasiswa, akhirnya Lana menemukan Kiwi dalam putarannya yang kedua. Kiwi di sana, duduk di tembok pagar Optik.

"Heh Wi! Gue cariin ternyata lo disini. Ngobrol yuk. Yang tadi tuh apaan sih?"

Kiwi adalah gadis berperawakan mungil dengan semangat sebesar raksasa. Tapi hari ini, raksasa itu sepertinya sedang pulang kampung sehingga posisinya digantikan oleh troll kecil yang pemarah.

"Ya gitu aja. Kayak yang gue ceritain sama lo tadi. Semalem Ardi nanya ke gue, lo udah punya pacar apa belom. Gue jawab belom. Terus dia nanya nomor HP lo."

Lana mendengar kembali penjelasan Kiwi yang sebenarnya sudah didengarnya tadi pagi di telepon. Kali ini sambil mengingat peristiwa yang terjadi semalam. Seingat Lana semalam juga ia bertemu dengan Ardi sepulang Ospek karena mobil Meri, tebengan Lana pulang, diparkir di depan Sekre. Semalam, Ardi nampak normal-normal saja. Menyapa dan sempat membantu dalam insiden terkuncinya stir mobil Meri karena ia memutarnya sebelum kunci berbunyi klik dengan sempurna. Kejadian itu lepas tengah malam, karena Ospek Jurusan memang mengambil waktu prime time hingga lepas tengah malam. Sedangkan Kiwi tidak mungkin masih berkeliaran di kampus hingga tengah malam. Kalau begitu percakapan Kiwi dan Ardi berlangsung sebelum Lana bertemu dengan Ardi malam tadi. Memang sih, Ardi kelihatan agak sumringah. Tapi toh dia selalu begitu, pikir Lana.

"Lo suka sama Ardi?" Kiwi tiba-tiba bertanya memecah keheningan saat Lana mencoba mengumpulkan ingatannya tentang peristiwa semalam.

"Wi, Ardi kan gebetan lo."

"Itu ga menjawab pertanyaan Lan!"

"Lo kok marahnya sama gue? Gue kan ga minta Ardi buat suka sama gue!"

Pernyataan Lana yang defensif itu menutup pembicaraan mereka berdua. Kiwi berlalu. Waktu itu Lana masih sangat muda. Ia belum tahu bagaimana cara menghadapi pertanyaan memojokkan tanpa berlaku defensif, yang malah memperkeruh persoalan diantara mereka. Kesal dan lapar, Lana masuk ke Tokema, mengambil sebuah roti dan susu coklat untuk mengganjal perutnya sebelum kuliah pertama hari itu.

Di kelas, Lana menerima sms dari Ardi, memintanya untuk bertemu nanti sore sepulang kuliah. Hari itu Lana bertekad untuk meng-clear-kan semua ini dengan Ardi. "Once and for all," pikirnya.

[to be continued]

27 Nov 2010

Lilin

Puisi Merangkap Surat Cinta :P

Kamu bilang aku lilin
Aku bilang kamu cacat artikulasi
Kamu bilang tetaplah menyala
Aku bilang kamu memang belum pernah meniupnya padam
Kamu bilang tetaplah bersinar walau sebatas dalam hati
Aku bilang api yang kamu nyalakan
terlalu terang jika digunakan untuk menyinari satu hati saja
Kamu bilang aku cahayamu
Aku bilang lilin suatu hari akan habis
dan kamu akan menemukan lilin lain untuk dinyalakan

======
Corat-coret dadakan yang terpicu oleh sebuah cerpen dan sebait memori^^
Credits to those who lit my fire.
...
"Ini hanya malam, Abang. Kamu hanya butuh waktu untuk terbiasa dengan bagian bumi yang tak bermentari. Mentarimu bukan pergi. Ia hanya sedang berada di belahan bumi lainnya. Dan ia akan tetap menyinarimu. Hanya saja, dengan cara yang berbeda."
(Potongan Cerpen 'Rindu Amang' oleh Azizah Nur, dengan sedikit perubahan)

17 Nov 2010

Foto

Cerpen

New Text Message
[sender unknown]
Kak Sara, ini Tari PL'07. Katanya Kakak punya catatan kuliah Perencanaan Pesisir ya? Boleh minta ga Kak? Tolong email ya Kak, buat bahan TA nih... Hehe..

***

Sara hanya tersenyum sambil geleng-geleng membaca sms tadi. "Anak KP jaman sekarang," pikirnya, "Dulu pas jaman gue KP, mana berani nyuruh-nyuruh kakak pembimbing nge-email-in bahan. Apalagi kalau pemimbingnya senior pas kuliah." Tapi jaman dulu memang berbeda dari jaman sekarang. Sara juga bukan tipe kakak senior yang disegani adik kelasnya. Sudah untung ada yang memanggil namanya dengan imbuhan 'Kak', karena biasanya para junior ini hanya memanggilnya 'Sara' saja. Walau begitu, Sara tidak pernah ambil pusing. Panggilan hanya sebatas panggilan, tidak terkait langsung dengan penghormatan. Yang penting pihak yang dipanggil dan pihak yang memanggil sama-sama merasa nyaman, begitu prinsipnya.

Reply
New Message > Text Message
Oke. Tar saya cari dulu ya. Udah lama soalnya. Sy ga yakin naronya dimana. Tar kl ada, sy kabarin.
[send]

***

18:25
Belum terlalu malam, Sara sudah sampai di rumahnya. Setelah sejenak membersihkan diri dan beristirahat, ia ingat pada janjinya tadi siang. Janji untuk mencarikan catatan kuliah untuk bahan Tugas Akhir adik kelas tersayang. Haha. Sara tahu bagaimana ribetnya menyusun Tugas Akhir, karena pada prinsipnya pekerjaan itu tidak terlalu sulit. Hanya ribet dengan dosen pembimbing dan perintilan lain, sehingga Sara tidak berniat untuk menambah penderitaan juniornya tadi.

Menghampiri PC berdebu yang sudah lama tidak tersentuh, Sara lalu menekan tombol power. Dua account muncul di desktop, Tata dan Guest. PC ini memang sudah digunakan adik bungsunya, Tata, sejak Sara dibelikan laptop bertahun-tahun yang lalu. Sejak saat itu hingga Tata dibelikan PlayStation, PC itu resmi menjadi PC khusus nge-game. Karenanya Sara tidak yakin, file-file yang ia simpan ketika kuliah masih tersimpan dalam hard drivenya.

Tidak sulit untuk mencari catatan kuliah di PC itu, asalkan folder miliknya tidak hilang karena terformat. Bingo! Sara menemukan foldernya, ia lalu mengklik folder semester 6 dalam kumpulan folder catatan kuliah. Waktu itu, mata kuliah yang memerlukan bahan tentang perencanaan pesisir adalah PL3202-Hukum dan Administrasi Pembangunan. Perencanaan Pesisir sendiri merupakan salah satu mata kuliah pilihan di Departemen Teknik Planologi, tapi mata kuliah itu sepi peminat karena diadakan di luar Labtek IX-A, gedung kuliah resmi anak-anak Plano, dengan dosen pengajar dan teman kuliah yang juga tidak berasal dari Departemen Planologi.

File yang Sara cari ada di folder Manajemen Pesisir. Iseng-iseng Sara membuka folder itu untuk sekalian mengecek isinya. OS482 -Oseanografi dan Hidrolika Pantai, kode yang tertulis pada header file tersebut. "Sip! File-nya bener," pikir Sara yang lalu mengirimkannya pada Tari via email dengan kata-kata pengantar attachment yang seadanya. "Ok, sent! My work is done..."

***

Telungkup di atas sprai oranye dengan seluruh tubuh tertutup bedcover motif senada, Sara merasa mata dan otaknya tidak kooperatif dengan kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat agar besok bisa masuk kerja dalam kondisi yang fit. Wajar saja. Membuka file-file lama sama dengan membuka memori masa lalu yang hampir terlupakan. Sara teringat orang yang memberikannya file catatan kuliah itu.

Mengendap-endap keluar kamar ke pojokan tempat PC itu bertengger, Sara kembali menekan tombol power. Berharap menemukan folder berisi foto-foto lama yang bisa mengembalikan manis pahitnya kenangan masa lalu, Sara lalu tertegun melihat seorang lelaki muda dengan kemeja biru kotak-kotak dan carrier hijau tua menempel dipunggungnya. "Jauh dari keren," pikir Sara sambil tersenyum.

"Gue mau naik ke Semeru. Puncak tertinggi Jawa." samar-samar Sara mengingat kata-kata lelaki itu padanya dulu. Waktu itu, entah mengapa, lelaki itu menghampiri Sara dan memberi informasi yang Sara tidak terlalu pedulikan. Sara yang saat itu sedang duduk-duduk bersama sahabatnya di pagar tembok Student Centre lalu berbincang ringan dengan Si Lelaki. Sahabat Sara yang juga kenal dengan Si Lelaki kemudian memfoto lelaki itu dengan kamera Nokia 2 MP yang saat ituadalah ponsel kamera tercanggih. Sara tidak ingat bagaimana foto itu sampai ada di PC-nya. Nyatanya, 7 tahun setelah foto itu diambil, Sara bisa melihat foto itu sambil tersenyum.

Sara lalu teringat pertama kali ia bertemu dengan lelaki itu ketika mendaftar di salah satu kegiatan mahasiswa. Saat mengisi formulir pendaftaran, Sara menuliskan nama lengkapnya dalam kolom kosong dengan huruf balok sesuai petunjuk pengisian.
|T|E|S|S|A|R|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|
Belum sempat Sara melengkapi kolom-kolom itu dengan nama lengkapnya, terdengar celetukan seorang lelaki yang sepertinya memperhatikan Sara sedari tadi.

"Nama lu Tessar? Keren juga. Kayak nama sejenis lensa."

Sara tidak mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki ini, ia pun menjawab, "Iya Kak, tapi saya biasa dipanggil Sara."

"Tapi kok lu ngisi Tessar? Nama lu Tessara?" tanyanya lagi.

"Bukan Kak. Nama lengkap saya Tessaria Sara," jawab Sara mulai tak sabar.
"Makanya sebelum nyamber, liat dulu." gerutu Sara dalam hati.

"Oo.. Kirain namanya Tessara. Baru gue mikir nama lu Sunda banget. Teh Sarah. Gitu. Hahaha."

Dengan alasan kesopanan dan melihat sepertinya lelaki ini akan menjadi seniornya di organisasi ini, ia pun mencoba meneruskan pembicaraan.
"Hehe. Saya emang orang Sunda kok Kak. Emang bukan Teh Sarah. Tapi polanya tolong-menolong khas pola nama orang Sunda, Tesaria Sara. Mirip kayak pola Otong Marotong, Oji Saykoji atau Ice Juice, cuma susunannya dibalik. Iya kan?"

"Hahahaha. Iya ya. Lu lucu juga Sar. Gue Marco. Ga usah ngomong resmi-resmi sama gue mah. Ga usah pake-pake Kakak segala. Kalo mau juga panggil gue Abang, biar mesra. Hahahaha."

Mati dah, Sara merasa pembicaraan ini mulai menjijikan. Akhirnya, berharap menutup pembicaraan, ia berkata, "Oo.. Marco. Oke oke, gue panggil lu Marco aja boleh kan ya?"

***

[DSCI090203]
Dua shaf muda mudi berjejer di depan rumah penyemaian padi, dilatarbelakangi pegunungan hijau yang dihiasi bertingkat-tingkat sawah padi. Itu dirinya, gadis berponi yang berdiri di barisan belakang paling kiri. Dan itu Marco, lelaki yang duduk bersila di barisan depan dengan menggenggam kamera hitam besar di tangan kirinya.

Waktu itu adalah field trip pertama mereka. Samar-samar Sara teringat dirinya duduk membaca di bawah pohon sambil sesekali memperhatikan Marco memberi mini workshop fotografi dadakan pada junior-junior yang lain untuk mengisi waktu kosong. Sara bukan fans fotografi. Menurutnya, merupakan semacam underestimasi jika dunia harus digambarkan dalam selembar kertas glossy. Sara lebih suka kata-kata, menggambarkan dunia dalam tulisan tanpa dibatasi ukuran kertas atau daya tangkap lensa. Selain itu, menjadi objek foto juga bukan hobinya sehingga penjelasan Marco tidak terlalu ia dengarkan. Beberapa potongan kata yang Sara tangkap waktu itu hanya 'focal length', 'apperture', 'diafragma', 'perspektif' dan istilah-istilah lain yang terdengar asing di telinganya. Kagum melihat lelaki-lelaki muda yang haus ilmu mendengar paparan sang senior dengan antusias. Geli melihat yang perempuan tak kalah antusiasnya memperhatikan abang yang satu ini menerangkan mahluk asing itu pada mereka. Geli karena Sara tahu teman-temannya ini sama tidak berminatnya dengan dirinya terhadap fotografi. Daya tarik utama bagi perempuan-perempuan muda itu memang bukan penjelasannya, tapi abang ganteng yang sedang menjelaskan.

Karena tidak merasa berkepentingan, Sara menenggelamkan dirinya lagi dalam The Worldly Philosopher. Berkenalan dengan Mas Adam Smith hingga Oom John Maynard Keynes yang membentuk paham ekonomi masa kini. Kekhusukan Sara terhenti sejenak saat mendengar namanya disebut-sebut dalam penjelasan Marco.

"Salah satu jenis lensa, yang standar, yang dipake jaman sekarang tuh namanya Tessar. Kata Tessar itu diambil dari bahasa Yunani yang artinya empat. Lensa ini ..."

Sekilas Sara melihat Marco melirik ke arahnya saat menjelaskan lensa dinamai mirip dengan namanya.

"Oo.. Jadi ini maksud Marco waktu itu," pikir Sara sambil tersenyum.

***

[DSCI110804]
Sara melihat dirinya diapit dua orang berbaju sama dengannya. Seragam panitia OSKM, kegiatan Ospek terpusat yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa ITB. Waktu itu Sara sudah tingkat dua, karenanya dia berhak menjadi panitia dengan jobdesk marah-marahin junior. Setahun sudah sejak ia mengenal lelaki bernama Marco. Hampir satu semester mereka tidak bertemu.

"Marco!"

"Eh, Sara! Lho, rambut lu kok pendek? Pangling gue. Lu potong rambut?"

"Hehe. Iya, biasa, abis putus."

"Hahaha. Tapi gapapa deng, lebih fresh. Lebih manis."

"Hahahaha, " Sara tersipu.
"Lu ikutan lomba foto OSKM?" kebetulan Marco mengalungkan kamera besar di lehernya, sehingga Sara bisa mengganti topik pembicaraan.

"Iya, iseng-iseng berhadiah."

Sara tidak tahu pasti bagaimana ia bisa kehilangan kontak begitu lama dengan Marco. Seingat Sara, mereka sempat dekat setelah perkenalan keduanya ketika Sara bergabung dengan kegiatan mahasiswa yang Marco terlebih dahulu ikuti. Kedekatan Sara dengan Marco sulit untuk Sara gambarkan. Hanya saja, Sara ingat bahwa mereka pernah saling menceritakan mimpi mereka untuk masa depan. Sara ingat bahwa Marco pernah menceritakan bahwa suatu hari ia ingin settle dan memiliki 3 orang anak, dua lelaki dan satu perempuan. Dua diantaranya adalah sepasang anak kembar, yang satu akan dinamai Sonnar saudaranya dinamai Planar, keduanya nama lensa. Sara tersenyum mengingat semuanya. Hingga saat ini ide itu terasa sangat konyol, sehingga tidak mudah terlupakan.

***

[DSCI230403]
Dua orang lelaki duduk di titian Tugu Soekarno. Yang satu berambut pendek, mengenakan kaos hitam dengan kalung choker dan sebatang rokok menyelip di jari tangan kanan nya. Yang satu lagi tidak bisa dikatakan gondrong, tapi tidak juga berambut pendek, sedang tersenyum ceria ke arah Sara. Lelaki itu Marco. Sedang yang menggenggam sebatang rokok itu Doni, teman Marco, juga senior Sara dalam organisasi itu.

Akhirnya Sara teringat kembali alasan mengapa ia dan Marco berhenti saling kontak. Sara mendorong Marco jauh-jauh dari hidupnya. Sebuah isu bahwa kedekatannya dengan Marco merupakan sesuatu yang direncanakan menjadi penyebab utamanya. Sebuah taruhan antar senior. Sara benci menjadi bahan taruhan.

"Polanya pas. Gue deketin Icha, Si Marco deketin Sara."
Samar-samar Sara mendengar Doni berbicara pada Sofyan dari luar pintu sekre yang terbuka. Doni gelagapan saat melihat Sara berdiri di pintu itu. Ia terdiam.
"Eh, Sara. Ngapain diluar? Sini masuk. Nih ada Bang Sofyan. Katanya kemaren nyariin mau diskusi."

Itu adalah hari terakhir Sara berhenti mengontak Marco. Setahun kemudian, tanpa sengaja ia bertemu dengannya saat Marco hunting foto OSKM. Tahun depannya, saat Sara putus asa mencari bahan untuk presentasi mata kuliah di tingkat tiga, ia akhirnya menghubungi Marco kembali. Marco yang saat itu sudah sibuk menyusun tugas akhir, bersedia menjadi teman Sara diskusi tentang aspek hukum dalam penataan pulau-pulau terluar di Indonesia. Hari berikutnya, Marco datang ke Labtek dimana Sara berkuliah dan memberi bahan-bahan tentang manajemen pesisir untuk men-support makalah yang akan dikumpulkan setelah presentasi. Marco masih sebaik dulu.

***

Hari ini, seperti biasa, Sara terlambat masuk kantor. Bedanya, biasanya Sara terlambat dan datang dalam keadaan fresh sedang hari ini ia terlambat dan datang dalam keadaan kuyu. Kepalanya pening, ia hanya bisa memejamkan mata selama dua jam tadi malam. Perasaan Sara bercampur aduk. Foto demi foto yang dilihatnya semalam mengingatkan Sara bahwa Marco selalu ada untuk membantunya di setiap tahapan kehidupan kuliahnya. Hingga akhirnya Marco lulus dan Sara benar-benar kehilangan kontak. Merasa konyol karena satu prasangka yang tidak pernah Sara konfirmasikan kebenarannya menjadi pangkal penyebab putusnya hubungan yang sebenarnya belum benar-benar dimulai.

Penasaran dengan kabar Marco, Sara log-in ke situs jejaring sosialnya dan pergi ke halaman milik Marco. Mereka berteman disana, walaupun tidak pernah saling sapa. Marco masih sekeren yang dulu, pikir Sara. Dindingnya dipenuhi dengan hasil jepretan yang sudah nampak lebih profesional dibanding dulu. Ia benar-benar menekuni hobinya itu.

Merasa melankolis, Sara yang impulsif mendadak ingin meng-update status. Ia pun kemudian mengetik beberapa kata. Klik. Post.

Tessaria Sara > Marco A. Hakim "If you capture the world by optical lenses, I'll capture the world by pen and paper... If you describe the world on still images, I'll describe what's there beyond the border... And that's how love works for me..."

Sara tersentak. Kaget, malu, dan merasa sangat bodoh karena ternyata Sara bukan menulis di dindingnya sendiri melainkan di dinding Marco. Sara lalu menghapus kalimat yang sudah ter-publish itu. Ia lalu sign-out dari accountnya dan berusaha melupakan kekonyolan yang baru saja ia lakukan.

Lima menit kemudian handphone Sara bergetar.

New Text Messege
[sender unknown]
Sar, ini Marco. Apa kabar?

=========
Fiksi.
Credits to Bond, James Bond.
:D
The short period your life crossed with mine, was a magical inspiring moment.
*Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan dalam penggunaan istilah-istilah fotografi. Karena seperti Sara, penulis juga bukan penggemar fotografi. :P


9 Nov 2010

Garis Paralel

Cerpen

Angga tidak tahu mengapa belakangan ini ia merasa sangat kesepian. Sejauh yang ia tahu, ia tidak melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan, yang bisa merusak mood-nya. Angga suka keteraturan, hidup dengan jadwal kegiatan yang pasti, makan di tempat-tempat yang menurutnya aman bagi perut dan dompet dengan menu yang bisa memenuhi kebutuhan kalorinya sehari-hari, serta membereskan kamar kost sebelum berangkat kerja dan menyapu lantai sebelum tidur. "Being organized is fun," kata-kata itu seolah sudah menjadi kalimat credo dalam kehidupan Angga. Sambil melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan, ia mulai berpikir apakah kesenangan-kesenangan kecil yang ia lakukan selama ini menghapus esensi kebahagiaan yang seharusnya bisa ia rasakan.

Sabtu biasanya adalah hari yang paling ia nantikan. Tidak perlu ke kantor, sehingga bisa berlama-lama di tempat tidur. Meringkuk ditengah-tengah kasur berukuran single dengan bedcover menutupi ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada yang lebih nyaman selain menghangatkan diri di udara pagi hari Kota Kembang yang dingin, apalagi setelah hujan semalaman. Siangnya bisa seharian bermalas-malasan menonton film atau main game online, setelah sebelumnya jogging sambil cekidot mahasiswi kampus sebelah. Tidak perlu terburu-buru mencuci baju karena masih ada hari esok, hari Minggu. Just another fun Saturday.

Tapi Sabtu ini lain rasanya. Terbangun pagi-pagi buta dan tidak pernah merasa sesepi ini. Kumandang "asshalatu khoirun minannaum" terasa bergema sangat jauh walaupun mesjid terletak tepat di seberang rumah kost. Tengadah menatap langit-langit 2x3 meter persegi, Angga berpikir untuk bangun atau mencoba memejamkan matanya lagi 6 jam lagi hingga jam 10 nanti ketika matahari sedang hangat-hangatnya. Pilihan pertama yang harus diambil di hari Sabtu yang terasa sepi ini. Angga benci memilih. Tapi hidup adalah seangkaian pilihan-pilihan kecil yang disodorkan tanpa bisa kita tolak atau abaikan keberadaannya. Saat merenung untuk membuat pilihan pertamanya hari ini, ia teringat Agni, salah satu teman pertamanya saat menginjakan kaki di kota termetropolis kedua setelah ibukota Jakarta. Dulu Agni adalah alarm solat subuhnya, di awal pertemanan mereka ketika temannya itu mengetahui bahwa Angga tidak terbiasa bangun subuh. "Kalau Agni tau gue ga solat subuh lagi, dia bakal sms-in gue lagi tiap pagi ga ya? Kalau Agni masih sms-in gue, rasanya tetep sesepi ini ga ya?" pikir Angga, "Haha. Silly toughts. Agni pasti meradang, dia paling bete kalau lupa solat. Jatoh-jatohnya, gue ntar digebukin sampe lebam." Ia pun memutuskan untuk bangun dan mengambil air wudhu. Rekor. Sudah lama rasanya Angga tidak solat Subuh tepat waktu. Terakhir kali adalah saat pesantren kilat waktu SMP. Dimana kakak-kakak mentor membangunkan semua peserta untuk solat Tahajjud lanjut solat Subuh berjamaah. Waktu itu solat Angga belum bisa dibilang tertib. Kantuk yang tak tertahankan membuatnya terlelap dalam tiap sujudnya. Kali ini, ia berketetapan untuk khusuk.

Di atas sajadah pinjaman ibu kost yang tidak pernah ia kembalikan sejak hari Jumat setengah tahun yang lalu saat pertama masuk ke rumah kost ini, Angga menunaikan kewajibannya. Selesai solat dua rakaat, Angga mulai berdzikir. Ia mulai berdoa. Rekor kedua hari ini. Biasanya ia capcus selesai solat. Terburu-buru karena matahari sudah mulai tinggi atau terburu-buru karena harus mandi dan masuk kantor jam 8 pagi. Di waktu solat lainnya pun biasanya ia langsung menuju meja kerjanya, langsung nampang di depan laptop, atau langsung berbaring dan terlelap. Dalam doanya ia mengingat ibu yang sudah tidak bisa ia temui lagi. "Kalau Mamah masih ada, mungkin ada yang neleponin gue setiap wiken kayak nyokapnya Heri," pikirnya. "Kalau Mamah neleponin gue tiap wiken, mungkin gue ga ngerasa sesepi ini."

Pikirannya lalu melayang pada ayahnya dan istri beliau yang hingga kini masih ia panggil dengan sapaan 'tante'. Entah mengapa Angga belum bisa sepenuhnya menerima wanita yang menjadi istri ayahnya itu. Ia pernah berketetapan bahwa bagaimanapun ibunya hanya ada satu, tidak bisa terganti oleh siapapun. Karenanya panggilan 'tante' untuk istri ayahnya adalah satu-satunya pilihan yang paling bisa ia terima. Ia lalu berpikir, "Kalau gue manggil Tante itu Mamah, apa hubungan gue sama Bapak akan lebih baik dari yang sekarang? Kalau hubungan kami lebih baik, apa gue ga akan ngerasa sesepi ini?" Pertanyaan itu mengabur seiring dengan pertanyaan lain yang muncul dibenaknya, "Bapak lagi ngapain ya sekarang? Dulu biasanya beliau solat Subuh berjamaah di mesjid kompleks." Angga merasa heran dengan keenganannya mengikuti ayahnya pergi ke mesjid tiap pagi saat mereka masih tinggal bersama. Sebuah keheranan yang baru ia rasakan. Selama 25 tahun hidupnya, Angga selalu merasa perlu memiliki alasan untuk bisa bersama atau sekedar berbincang dengan ayahnya itu. Beberapa kali ia mencoba untuk menelepon ayahnya hanya untuk menanyakan kabar beliau, namun selalu urung karena takut ayahnya berkata "Bapak baik-baik saja. Kenapa?" Kalimat pertama yang melegakan, kalimat kedua yang membingungkan. Jawaban seperti "Enggak, pengen tau kabar Bapak aja" sepertinya enggak banget buat Angga. Ia pun takut kalau Bapaknya ujung-ujungnya berpikir bahwa jika Angga menelepon beliau, artinya ia sedang berada dalam kesulitan finansial dan berharap bantuan kiriman uang dari ayahnya. Semakin dipikirkan, semakin sepi rasanya. Mengapa untuk mengetahui kabar satu-satunya orang yang bertalian darah dengannya ia harus memikirkan beribu alasan. Segala keresahan itu ia tutup dengan memejamkan mata, berharap kebahagiaan dan kesehatan untuk beliau yang kata orang-orang menurunkan bentuk wajah dan tubuh tegapnya kepada Angga.

Angga lalu teringat Vita, orang yang dulu menghiburnya saat sedih. Gadis yang pertama kali membuat jangtungnya berdegup kencang setiap berada di dekatnya. Jika ada wanita yang ia sayangi dalam hidupnya selain ibunya, gadis inilah salah satunya. Saat kuliah dulu, dialah yang membuat wajah Angga memerah tanpa sadar saat teman-teman mereka menggoda kedekatan keduanya. Pembawaan yang ceria dan kecerdasan pola pikir gadis metropolitan yang tidak pernah ia temui sebelumnya membuat Angga kagum. Saking santernya gosip kedekatan Angga dengan Vita, mereka akhirnya menyengajakan diri membuat status 'in a relationship' di status jejaring sosial mereka untuk menebar sensasi dan menyenangkan teman-teman mereka itu. Terpaksa. Kata itu merupakan kata yang jauh dari keinginan hati Angga yang sebenarnya. Tapi kata itu yang ia gunakan untuk menjustifikasi tindakan mereka. "Kalau aja gue berani bilang ke Vita bahwa gue ga terpaksa dan ga bercanda waktu nge-approve relationship status itu. Apa saat ini Vita masih bareng gue? Apa gue masih bisa nepuk kepalanya saat gue gemes dengan perilakunya yang manis?" Terakhir kali Angga melihat Vita adalah tiga hari yang lalu. Angga bisa melihat Vita dari jarak dekat, sayangnya ia tidak bisa menyapa dan berbincang dengan gadis itu. Saat itu Vita sedang mereportasekan aktivitas Anak Krakatau seiring dengan peristiwa letusan Merapi. Bangga bercampur sesal, perasaan aneh yang bisa dirasakan bersama walaupun keduanya sama sekali bertolak belakang.

Tanpa terasa matahari sudah terbit menghangatkan udara Bandung yang sejuk. Semua renungan tadi membuat Angga berkesimpulan bahwa ia hidup di sebuah kehidupan yang paralel. Lucu rasanya. Karena untuk berkesimpulan ia harus berpikir. Dan Angga benci banyak berpikir. Ia jadi teringat status YM Agni beberapa hari yang lalu, 'cogito ergo sum'. "Agni memang selalu sok canggih dengan buku, musik dan film-film festivalnya", pikir Angga. Tapi hal itu tetap membuat Angga penasaran hingga akhirnya ia mengetik 'cogito ergo sum' di search engine Google. 'Cogito ergo sum' sebuah quote yang dikeluarkan oleh Rene Descartes, salah satu tokoh filsafat ternama, yang berarti 'I think, therefore I am'. Saya berpikir, karenanya saya ada. Akhirnya Angga menyadari keberadaannya di dunia yang menurutnya paralel, dimana setiap orang menjalani hidup pada garisnya masing-masing. Suatu saat ketika garis itu bersinggungan, ia bertemu dengan orang baru. Saat garis itu terpisah, ia dan orang tadi akan menjalani hidup masing-masing. Beberapa garis itu akan bertemu kembali, beberapa tidak. Tapi semua garis itu memiliki keterkaitan satu dan lainnya, karenanya Angga menamakannya garis paralel.

Berharap bisa mengeratkan kembali garis paralelnya dengan Vita, Angga menyalakan laptop dan log-in YM. Senang karena melihat bahwa sepagi itu Vita sudah online, dengan antusias Angga mengklik nama account-nya, alvita_diyoshi. Di depan IM windows yang terbuka, Angga bingung dengan kata pertama yang akan ia ketikkan. Hanya sekedar 'hai' saja tampaknya tidak cukup. Agak ragu juga karena takut tidak berbalas, Angga mengecek fungsi audible dan font pada IM windows tersebut. Keduanya tidak aktif. Berarti Vita online di Blackberry-nya. Kemungkinan sapaan yang tidak berbalas menjadi semakin besar. Ia urung menyapa Vita. Bagaimana jika Vita sibuk. Bagaimana jika Vita menganggapnya tidak penting. Bagaimana jika Vita tidak mengenalnya lagi. Terlalu banyak pertimbangan. Keputusan menjadi sulit diambil. Angga benci membuat keputusan.

BUZZ!

Windows lain terbuka.

petasan_rawit: hoy! tumben pagi-pagi OL...

omar_dwiangga: iya... hehe...

petasan_rawit: lagi ngapain?

omar_dwiangga: ga ngapa-ngapain...
(Hampir Angga mengetik kata 'kenapa?' Tapi ia keburu ingat bahwa pertanyaan itu sangat menyebalkan. Kita toh tidak selalu butuh alasan untuk menanyakan kabar teman kita sendiri. Angga pun mengganti kata yang dipilihnya tadi.)
omar_dwiangga: kamu lagi ngapain?

petasan_rawit: lagi bosen... jalan yuk!

omar_dwiangga: hayuk! aku siap-siap sekarang ya... kamu tunggu di rumah, tar kujemput...

petasan_rawit: serius?

omar_dwiangga: iya...

petasan_rawit: serius kamu??

omar_dwiangga: iya bawel...!!!

Biasanya Angga tidak langsung menjawab ajakan sepeti ini, sehingga wajar jika teman bicaranya terheran-heran. Biasanya dia akan menanyakan 'kemana? mau ngapain? jalannya sama siapa aja?' dan pertanyaan-pertanyaan lain yang harus merinci jadwal kegiatan 'jalan'-nya ini. Biasanya, saking rincinya pertanyaan dan komentar Angga, lawan bicaranya kapok dan batal mengajak. Padahal maksud Angga sederhana, ia hanya ingin have fun. Dan fun menurut standar Angga adalah kegiatan yang fully organized. Tapi hari ini bukan hari biasa. Dan si pengajak pun bukan orang biasa. Petasan rawit, sesuai nama account-nya, adalah orang yang bisa mengusir sepinya di hari Sabtu ini. Seseorang yang saat ini besinggungan garis hidupnya dengan Angga. Dimana momen persinggungan ini akan ia manfaatkan sebaik mungkin. Karena Angga tahu bahwa walaupun ia tidak menginginkannya, suatu hari nanti, mungkin garis ini akan merenggang dan menjadi garis-garis lain yang paralel dengan garis kehidupan Angga. Setelah mandi dan bersiap-siap, Angga bergegas keluar dari kamar kost-nya, hampir meninggalkan dompet di celana training yang digunakannya saat mencari makan bersama Heri semalam. Sambil men-start Yamaha Vixion hitamnya, Angga berteriak pada Heri, teman terdekatnya di rumah kost itu.

"Brok! Gue cabut brok!"

"Lho? Ga jogging lu? Kirain lu buru-buru siap-siap mau jogging. Makanya gue buru-buru juga. Ngeceng lagi kitah brok!"

"Ogah ah! Hari ini libur gue!"

"Emangnya mau kemana lu?"

"Mau 'main petasan'. Hehehe."

"Aaaaah, pret!!! Yaudah deh... Have fun ya brok! Salam buat Si Manis Pedes!"

"Hahaha... Sip sip!"

Angga pun berlalu dengan diiringi lagu beraliran punk rock yang bergema kencang dari kamar Heri, Chiisana Koi No Uta dari Mongol 8000. Soundtrack J-Dorama favorit Heri, yang sering Angga cela-cela karena kesukaannya terhadap dorama yang menurutnya seperti selera tontonan perempuan. Tapi bait-bait lagu ini, hari ini, serasa membakar semangat Angga.

"Hiroi uchuu no kazu aru hitotsu aoi chikyuu no hiroi sekai de"
(One of many in this wide universe in the great world of this blue earth)
"Chiisana koi no omoi wa todoku chiisana shima no anata no moto e"
(This tiny feeling of love will reach you on the little island)
"Anata to deai toki wa nagareru omoi wo kometa tegami mo fueru"
(Time have passed since I first met you, the letters with my feelings grow in numbers)
"Itsu shika futari tagai ni hibiku toki ni hageshiku toki ni setsunaku"
(Without us realizing, it is already echoing between us; Sometimes intense, sometimes sad)
"Hibiku wa tooku haruka kanata e yasashii uta wa sekai wo kaeru"
(It echoes distantly, this gentle song changes the world)
"Hora anata ni totte daiji na hito hodo sugu soba ni iru no"
(Look, the person who is important to you is right beside you)
"Tada anata ni dake todoite hoshii hibike koi no uta"
(I just want to reach only you, this echoing love song)


=========
Fiksi. Didraft di tengah kemacetan jalan Kiara Condong, siang hari saat hujan deras tanggal 9 November 2010.
Credits to Margo Sri Handayani. Thanks for the inspiring daily chit chat. Love you girl! ~cupcupmuah!

4 Okt 2010

Lana's Songs (3)

My Friend Over You

"Lan, gw jealous sama lo!"
Klik. Telepon ditutup.

Belum juga Lana sadar dari tidur waktu dia mengangkat telepon. Saking kagetnya, Lana menarik tubuhnya dari kasur dalam sekali tarikan. Sambil berjalan sempoyongan, Lana keluar dari kamar sambil memegang erat Motorola T190-nya.

Waktu itu baru jam setengah enam pagi.

Sambil berpegangan pada pinggiran meja, Lana men-dial nomor yang baru saja masuk ke handpone-nya. Nomor Kiwi.

Sambil berdiri lemas, menahan kantuk dan badan yang kelelahan akibat Ospek Jurusan semalam, Lana menunggu nada sambung itu berhenti. Kiwi menjawab teleponnya. "Alhamdulillah diangkat" pikirnya.

"Hallo, Wi. Lo kenapa?"

Suara yang menjawab pertanyaan Lana ternyata lebih lemah dari suaranya yang semalam dipaksa meneriakan yel angkatan dan mars himpunan.

"Gue jealous sama lo Lan..."

"Maksud lo apa Wi? Gue ga ngerti..."

"Ardi mau ngajak lo nonton. Tadi dia nanya nomor telepon dan HP lo ke gue."

"Hah?! Yang bener lo Wi? Kok bisa?"

Klik. Telepon tertutup.
"Yah, gue abis pulsa" keluh Lana dalam hati. Buru-buru dia menuju telepon rumah yang tergantung di dinding ruang tengah. Belum sempat mengangkat gagangnya untuk men-dial nomor Kiwi, telepon itu berdering.

"Sip! Kiwi nelepon balik."

Sambil mengatur denyut jantung yang kadung dag-dig-dug, secepat mungkin Lana memikirkan alasan, argumen, atau kata-kata apapun yang bisa menenangkan sahabat barunya itu. Blank. Lana ga tau mau ngomong apa saat ini.

"Hallo."

"Hallo. Assalamualaikum. Lana ya?"

"Shit! Suara Ardi."
"Waalaikum salam. Iya betul, ini Lana. Ini siapa ya?"

"Hey Lan. Ini aku, Ardi."

"Damn! Instead of using 'gue' kayak biasanya, dia malah pake kata 'aku'. What is it with you?"
"Oh, elo Di. Ada paan?"

"Ah, enggak. Kok dari tadi HP kamu sibuk sih Lan?"

"Siyal! Bener-bener nih Si Ardi. Sekarang dia malah pake kata 'kamu' instead of 'elo' kayak biasanya."
"Oo.. tadi GUE lagi teleponan sama TIWI," berharap Ardi mendengar dengan jelas kata-kata yang sengaja diberi penekanan.

"Hoo.. Eh, kamu suka nonton ga?"

"Duh. Strategi-1 gagal total"
"Hmh? Nonton? Tergantung film-nya sih. Sekarang kan lagi ga ada film yang bagus," strategi-2 diluncurkan.

"Kalo gitu kita jalan aja yuk. Besok sore, pulang kuliah, aku tungguin di Soemarja ya. Salamualaikum Lana"

"Eh, waalaikumsalam."

Klik. Ditutup. Ardi ga ngasih kesempatan Lana buat bilang 'enggak'. Strategi-2 jauh dari berhasil. Pfuihh.

"Eh, iya. Kiwi pakabar?!"

Flash- 0 8 5 6 x x x x x x x - Tuuuut ...

"Angkat dong Wiiiiii..."

Klik

"Hallo. Wi! Sori, tadi gue abis pulsa."

"Barusan Ardi telepon lo kan?"

"Oh no.. How'd she found out?"
"Eh, iya."

Hening.

"Sebenernya ini kenapa sih Wi? Gue bingung. Serius gue bingung. Kok bisa Ardi ngajak gue jalan?"

"Jadi? Dia ngajak lo jalan?"

Whops. Lana keceplosan.

"Emh, jadi. Tapi gue tadi..."
"...gue. Gue ga bisa nolak. Dia nutup duluan."

Hening.

"Wi, ngomong dong. Kok bisa dia ngajak gue...?"

Hening.
Kali ini Lana menunggu.

"Semalem, dia tanya ke gue, 'Lana udah punya pacar belom?' Abis itu dia nanya nomor HP lo."

"Terus lo kasi? Yah, Wi. Kenapa dikasih?"

"Gue bisa apa di depan Ardi, Lan? Apapun yang dia tanya pasti gue jawab. Apapun yang dia minta pasti gue kasih"

Setengah menyesal Lana mendengar jawaban Kiwi. Lebih menyesal lagi karena dia bertanya.

***

Ga sabar nunggu kejelasan tentang apa yang baru saja terjadi antara dirinya, Kiwi, dan Ardi, Lana bergegas pergi ke kampus. Mengorbankan jatah istirahat yang layak dinikmati oleh raganya yang sangat lelah oleh Ospek kemarin, Lana langsung bersiap dan pergi ke kampus pagi itu. Tau bahwa ia akan dengan mudah menemukan Kiwi di Tokema Student Centre, tanpa berbelok kemanapun dari gerbang ganesha dia masuk menembus Boulevard.

Sebagai mahasiswa baru yang belum terlalu banyak mengenal teman sekampus, bisa disukai oleh kakak senior di unit kegiatan mahasiswa seperti yang Lana alami saat ini sangat menyanjungnya. Tapi, Lana tidak berharap orang itu adalah Ardi.

Ya, akhirnya, pada acara Open House Kiwi berhasil 'memaksa' Lana untuk bergabung dengan unit kegiatan yang diikuti Ardi.

Saat masih SMP Lana sudah menyadari, bahwa memiliki teman yang lebih 'berprospek' memang tidak menyenangkan. Dulu, di SMP, Lana bersahabat dengan Autumn. Cantik, manis, dan pintar bermain musik, Lana merasa tidak berdaya jika mereka berdua sampai menyukai satu cowok yang sama. Ketika akhirnya Autumn 'dijodoh-jodohkan' dengan Harlan, yang juga disukai Lana, Lana memutuskan mundur teratur dan mendukungnya secara terang-terangan. Berarti sekarang, dia adalah Autumn, sedangkan Kiwi adalah dirinya saat masih SMP dulu.

Ardi. Bukan tipe ideal cowok yang disukai Lana. Tapi untuk disukai oleh orang seperti Ardi bukan hal yang biasa saja. Ardi, menurut Kiwi, adalah cokiber di SMA mereka dulu. Cowok Kita Bersama. Kecengan massal. Dimana senior, teman seangkatan, maupun adik kelas semua ngecengin Ardi. Dan Ardi tidak bergeming. Dia tetap menjomblo dan tidak menunjukkan minatnya untuk berhubungan istimewa dengan satu pun anak perempuan yang dikenalnya. Bahkan saat Kiwi 'digencet' oleh senior perempuan yang sekelas dan sangat menyukai Ardi. Ardi tetap lempeng. Dia tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bagaimana banyak perempuan melakukan cat fight dibalik punggungnya.

Sekarang, dia menunjukkan minatnya pada Lana. Senang atau tidak. Mungkin tidak. Atau sebenarnya, mungkin Lana senang. Karena dia Ge-eR, dan perasaan Ge-eR ekivalen dengan perasaan senang.

"You were everything I wanted
But I just can't finish what I started
There's no room left here on my back
It was damaged long ago
Though you swear that you are true
I'd still pick my friends over you"
[New Found Glory - My Friend Over You]

[to be continued]

16 Sep 2010

Lana's Songs (2)

Kiwi's High School Crush

Bosan mendengar CD, Lana switch stereo mobilnya ke siaran radio.

"sweet kiwi... you're juice is dripping down my chin... so please let me... don't sop me before it begins..."
[maroon 5's Kiwi]

Lagi-lagi Lana senyum-senyum dengerin lagu yang diputar station radio yang dipilihnya secara acak. "Sweet Kiwi, where are you now?" pikir Lana. Kontradiktif sama liriknya Maroon 5, Kiwi bukan tipe flirty girl, beda dengan Lana. ;p

Mengingat-ingat obrolan terakhir dengan Kiwi membuat Lana sedikit menyesal. Pertama karena Lana membohongi Kiwi dan dirinya sendiri dengan kata-katanya itu. Kedua karena tindakan Lana dulu bisa disebut menyia-nyiakan pengorbanan Kiwi untuknya. Ketika itu Lana belum meyadari bahwa yang perlu dipahaminya bukanlah rasa bersalah karena pengorbanan sahabatnya itu, tetapi kebahagiaan sang sahabat ketika memberikan Lana kesempatan untuk berbahagia atas pengorbanannya.

"Lo ga boleh giti Wi... Lo ga boleh benci sama Ardi... Siapa tau dia beneran jadi laki lo suatu saat nanti..." kata-kata terakhir Lana pada Kiwi membuat hatinya sesak, walaupun dulu ia mengatakannya sambil tersenyum ceria.

Ya, pengorbanan Kiwi buat Lana adalah Ardi.

...

Tujuh tahun yang lalu adalah pertama kali Lana bertemu Kiwi. Saat itu mereka berdua adalah mahasiswa baru lain jurusan yang dipertemukan dalam acara OSPEK kampus. Kiwi adalah teman pertama Lana di kelompok OSPEK yang dibagi secara acak untuk mendekatkan mahasiswa baru yang berlainan jurusan. Kiwi anak Farmasi, Lana anak Plano, sisanya dari Teknik Mesin, Geodesi, Matematika, Teknik Industri, dan Desain Komunikasi Visual.

Nama Kiwi memang terdengar seperti sejenis buah-buahan, agak aneh untuk nama orang Indonesia. Itu karena nama aslinya memang bukan Kiwi. Cuma Lana yang memanggilnya begitu. Kadang-kadang kalau jahilnya kumat, Lana memanggil temannya ini dengan tambahan huruf "L", Kiwil, nama pelawak di televisi yang suka menirukan Ustadz Zainudin MZ. Nama asli Kiwi sebenarnya Pertiwi Ayu, turunan Jawa yang lahir, tinggal, dan besar di Bogor. Kiwi ceria, bawel, dan heboh. Ke-PD-annya kadang buat Lana geleng kepala. Menurut Lana, semua sifat Kiwi ini bertolak belakang dengan sifatnya sendiri. Lana senang berpendapat bahwa dia adalah anak yang pendiam. Setidaknya itu pendapat Lana.

Hari itu, Open House Unit kegiatan mahasiswa kampus, Kiwi dengan kehebohannya mengajak Lana yang ogah-ogahan untuk berkeliling melihat semua Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada. Sampai akhirnya, langkah mereka terhenti di depan Tugu Soekarno.

"Kok lo berhenti disini sih Wi, ini kan ditengah-tengah pertigaan. Malu tau! Geser pinggir dikit berdirinya."

"Lan, liat deh cowok yang berdiri di deket Kokesma. Dia yang gue ceritain kemaren, gebetan gue, Si Ardi"

"Mana? Yang pake kaos Balthazor? Kok jelek sih Wi?"

Balthazor adalah sebutan buat kakak senior yang berperan sebagai bad guy di acara OSPEK angkatan Lana. Mereka memakai kaos hitam bersablon gambar setan berwarna merah. Sejauh yang Lana lihat, Balthazorlah yang kaos seragamnya paling keren dari semua kaos panitia yang ada saat itu. Ini membuat Lana ingin menjadi bad guy di acara OSPEK tahun depan. "Semoga" pikirnya.

"Yeee, bukan abang-abang yang item! Itu, yang sebelahnya. Yang putih. Cakep ga menurut lo?"

"Hoo.. ah biasa aja. Pendek menurut standar gue sih." salah satu kriteria gebetan Lana memang tinggi badan.

"Iiiih, cakep tau. Cakep. Iya kan? Harus iya!"

"Iya deh iya. Biar cepet."

Itulah pertama kali Lana bertemu dengan Ardi. Saat itu Lana belum tahu, sejauh mana dia akan terlibat dengan kedua kenalan barunya ini.

...

Ardi memang bukan tipenya Lana. Tinggi 165, muka cute, kulit putih bersih yang merona merah kalau kepanasan. Buat Lana, bukan physical attraction yang membuat seorang cowok layak dijadikan gebetan tapi lebih ke kenyamanan dan sense of humor. Tapi bohong ;p. Lana lebih suka cowok tinggi. Ditambah karakter yang membuat nyaman dan sense of humor tadi tentunya.

Ardi adalah motivasi utama Kiwi masuk kampus ini. Motivasi yang sederhana dan cenderung naif menurut Lana. Walaupun demikian Kiwi tetap mengagumkan. Untuk masuk ke kampus mereka, kira-kira setiap tahunnya ada 200 ribu pelajar yang ikut berkompetisi untuk memperebutkan quota 3000 mahasiswa saja. Apalagi Kiwi lolos ke salah satu jurusan dengan passing grade yang terbilang tinggi. Farmasi, menurut Lana, adalah jurusan terfavorit buat pelajar cewek yang mau masuk kampus ini tapi ga mau dikerubutin cowok, karena kampus ini memang kebanyakan diisi cowok. Katanya rasio cowok cewek di kampus ini 70:30.

"Gue tuh ngecengin dia sejak SMA kelas satu Lan. Kan dia anak baru, pindahan dari Jakarta. Dia masuk di kelas 2."

Lana dengan sabar mendengarkan temannya berceloteh. Menurut Lana, cara terbaik untuk menjalin pertemanan adalah dengan menjadi pendengar yang baik.

"Gue tuh masuk sini karena dia kuliah disini. Dulu pas mau SPMB gue nyengajain maen ke rumahnya. Rumahnya bagus loh Lan, rumah kayu gitu. Keren deh pokoknya. Terus gue ketemu dia buat konsultasi gue bagusnya kuliah dimana."

"Konsultasi apa konsultasi", pikir Lana tanpa menyela Kiwi, "Ngapain konsultasi sama cowok, ada juga gue konsultasi ke guru BK. Nyari-nyari alesan banget ni anak"

"Duh Lan, dia tuh baek banget. Pas gue bilang kalo gue mau masuk ITB, dy bilang 'ya, yang semangat aja ya' terus dia ngasih gue doa"

"Ngasi doa? Kiayi apa ya ni cowok?" pikir Lana lagi, "Lagian jelas aja Si Ardi baek, masa ada cowok yang didatengin cewek ke rumahnya dengan muka semupeng Kiwi , ga akan ke-GR-an. Ya pastilah dibaek-baekin, kayak artis aja kalo jumpa fans. Heran deh ni anak."

Buat Lana yang cenderung lempeng soal hubungan cewek-cowok selama ini, perilaku Kiwi agak absurd. Tapi toh, belum ada satu pun cowok yang bikin Lana head over heels, jadinya kekaguman Kiwi terhadap Ardi masih Lana maklumi.

[to be continued]