...

I am strong, because I am weak...
I am beautiful, because I know my flaws...
I am a lover, because I have been afraid...
I am wise, because I have been foolish...
And I can laugh, because I’ve known sadness...
Feeds RSS
Feeds RSS

7 Okt 2010

Balada Cinta SMA :part 01

a story of meong friend, my best friend ever, enjoy it


I've lived, I've loved, I've lost, I've paid some dues, baby We've been to hell and back again Through it all you're always my best friend


Setiap kali mendengar namamu disebut orang lain, hati ini masih bergetar, walupun yang dimaksud bukan kamu.

Is true love once in a lifetime..???wanita menyimpan cinta pertama di hati, pria menyimpan cinta pertamanya dalam ingatan mereka.

Even I do not know that, in my eyes there’s only you
And don’t know that my heart is throbbing, the sound of my heart beats


Sembilan tahun sudah sejak pertama kali kita bertemu di halaman sebuah sekolah menegah atas favorit di kota kami. Sekolah yang konon pernah menjadi sekolah terbesar se Asia Tenggara, mungkin untuk beberapa tahun kedepan sepertinya akan menjadi bangunan bersejarah. Bersama kita bertiga kita dihukum oleh guru penjaga penerimaan murid karena tertangkap memakai sepatu sandal. Saat itulah pertama kalinya kamu tersenyum manis kepadaku, sambil mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Nama panggilan kamu sebenarnya nama pasaran di dalam beberapa sinetron remaja, tapi nama depan kamu bagiku adalah nama yang sangat langka dan jarang kudengar. Jadi setiap nama kamu disebut di sebuah angkot misalnya, telinga ini seolah familiar dan berharap mendengar informasi tentang kamu. Lama sudah tidak lagi berjumpa denganmu, terakhir adalah saat dimana kita sama-sama diterima di Universitas yang sama. Waktu itu aku dan temanku baru saja selesai dengan urusan birokrasi mahasiswa baru, sambil berkeliling di sekitar kampus non eksakta. Langak kami terhenti oleh sebuah wall climbing yang sengaja dipasang mahasiswa pecinta alam universitas tersebut untuk menarik minat mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan mereka. Melihat wall climbing itu aku jadi teringat denganmu, di massa sekolah dulu akau pernah mengikuti kegiatan pecinta alam karena kamupun mengikutinya. Temanku yang tertarik itu pun memutuskan untuk mencoba tantangan wall climbing itu, aku hanya mundur sambil mencari tempat duduk yang nyaman untuk menontonya sambil mengenang masa lalu kau dan aku.


I wanna love you I wanna with you Can you feel it, my feeling
Come to me, come a little bit closer and take my heart away Everyday lovely day

“hmm coba kamu ada disini, pasti kamu juga akan ikut mencoba menakhlukan wall climbing ini” gumamku dalam hati

Beberapa saat setelah aku bergumam seperti itu, kau muncul dari belakangku bersama teman-teman geng sekolah kita dulu.

“hey, ga mau ikut mencoba…??” tanyanya padaku dengan kibasan tangannya di lenganku berusaha membuyarkan lamunanku

Diriku yang masih shock dengan kehadiran dan sentuhanmu hanya bisa membalasnya dengan senyum paling manis.

“ambil jurusan apa kamu di sini…??”

“planologi…”

“planologi, apa an tu, belajar tentang apa tu, tanaman, atau planet-planet…?”

Deng….seandainya orang lain yang berkata seperti itu, aku akan bereaksi yang berlebihan seperti tersenyum dengan terpaksa, pergi meninggalkannya, menjelaskan dengan ogah-ogahan. Tapi ini kamu yang berkata padaku, kamu adalah alasanku setiap kali bangun dipagi hari, alasanku bersemangat 1000% berangkat ke sekolah waktu itu. jadinya kujelaskan dengan sabar apa itu planologi.

“ouw kamu ambil jurusan eksakta ya, dari dulu aku tahu kamu bisa, tapi kenapa dulu kamu mau ambil kelas non eksakta…??

Ya itu karena kamu, kamu kan masuk kelas non eksakta, ya kamu Cuma kamu, tapi aku tidak begitu saja menjawab alasan itu dengan jujur.

“he..he..he..tau aja kamu ih, kamu ambil jurusan apa, dari map yang kamu bawa sih kayaknya kamu masuk ekonomi ya, ga salah tu, susah lo ekonomi itu, kamu kan orangnya ga bisa serius kalau belajar, harusnya kamu masuknya jurusan komunikasi atau apalah di ilmu social politik..”

Kamu hanya membalasnya dengan senyum manis yang baru aku sadari kalau itulah saat terakhir kali aku melihatmu. Kita terdiam dalam sepi menikmati sejuknya kota kami dihari itu di halaman kampus baru kami. Dalam diam itu sebenranya adalah cara kita memahami satu sama lain, jarang sekali kota kami mendapat cuaca yang begitu sejuknya seperti saat itu. sesekali kita saling bertatapan sambil tersenyum menikmati hembusan angin yang membelai kami. Sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama menghabiskan hari itu denganmu, mengingat saat itu kamu baru saja mengalami peristiwa buruk dalam kehidupan percintaanmu. Sungguh sebuah keajaiban melihat kamu tersenyum tulus, ringan tanpa beban hari itu, ya itulah yang kurasakan ditambah oleh pengakuan teman dekatnya yang terkejut melihat kamu tersenyum seperti hari itu.

Don’t forget the memories we loved Even if you find another person that makes you smile Even the painful farewell, I am glad that it was you Gathering all my sad tears, good bye


To be continued....

5 Okt 2010

Kucing Tengil

every silly things you do really make my days

I fell like I'm a silly girl in a silly world. Tapi aku belom pernah nemuin yang sekonyol kamu. Hari ini kamu bikin kekonyolan yang bikin aku pengen lari pulang ke rumah. Kamu melakukan adegan salto dari kursi dengan piring berisi nasi di tangan. Bravo! It was incredibly brilliant...!

Siapa suruh kamu ketawa heboh sambil mainin kursi. Lebih parahnya, sambil megang piring berisi sedikit nasi yang belom selesai kamu makan. Walhasil, meong kena timpah kursi di lutut. Kasian dia, pulang ke kost-an pasti kakinya biru. Untungnya kejadian tadi cukup lucu sampe bikin dia lupa sama lututnya yang nyut-nyutan.

Kasian piring yang kamu pegang. Dia melayang ke atas kepala kamu dengan gerakan 360 yang alamak cantiknya. Tony Hawk aja kalah 360-nya sama piring yang kamu pegang tadi. Tumpahlah nasi dan lauk yang tinggal tiga suapan lagi itu di lantai. Untung Si Piring ga pecah. Bisa marah preman Ledeng kalo sampe pecah.

Setelah adegan kamu kejepit automatic window mobil aku dulu, kirain ga akan ada lagi kejadian yang lebih konyol dari ini. Just so you know, aku selalu malu kalo ngeliat orang lain melakukan silly things. Dan aku juga ga mudah memaafkan diri sendiri kalau aku berbuat kekonyolan. Itu sebabnya aku ga bisa nonton Mr. Bean. He is too silly for me. And I'm just too ashamed to watch his sillyness.

Tapi kamu. Well. I'm speehless. I've become a new person in this silly world. Looking at sillyness as something that can be seen as the colour of life. Thanks. You really make my day.

:D


4 Okt 2010

"Kalau Gak Ada Kamu, Unyuu.."

Onrop Musikal OST,

Dinyanyikan oleh: Ary Kirana, Giandra Hartajaya, Ichsan Akbar, Aimee Saras
Lirik: Joko Anwar
Song & Music: Bemby Gusti


Paris ada menara Eiffel
Stasiun Gambir banyak hijaunya
Di rumah bisa makan waffle
Kalau nggak ada kamu apa gunanya
Apa gunanyaaa…

Menara Pisa di Florence
Istana Bogor banyak rusanya
Di rumah bebas ngedens
Nggak ada kamu apalah gunanya?

Hey Baby… Tanpa kamu
Mentega cuma berasa kayak margarine
Tanpa kamu
Jus yang mahal berasa kayak urine
Kayak uriiiine…

Sayang, kau lah kembang api di malam lebaran
Sayang, kau lah pohon pinang tujuh belasan
Sayang, aku dan kamu saling melengkapi
Sayang, ke manapun kamu pergi pasti aku ikuti

Main gitar tapi diborgol
Kalo ditiup nggak ada suaranya
Beli berlian harga bandrol
Kalau nggak ada kamu apalah gunanya

Kangguru nggak boleh lompat
Anaknya nangis basah di kantungnya
Banyak hadiah nggak bersyarat
Kalo nggak ada kamu apa gunanya

Tanpa kamu…
Bakat pun terasa kayak cacat
Tanpa kamu…
Hidup di dunia terasa sepat

Oh Baby, sayang kau lah kipas angin waktu kemarau
Sayang, kau lah pemberi semangat waktu parau
Sayang, aku dan kamu saling melengkapi
Sayang, ke manapun kamu pergi pasti aku ikuti

Pasti kuikuti…
Pasti kuikuti…
Pasti kuikuti…
Pasti kuikuuutiiiiiii….

Lana's Songs (3)

My Friend Over You

"Lan, gw jealous sama lo!"
Klik. Telepon ditutup.

Belum juga Lana sadar dari tidur waktu dia mengangkat telepon. Saking kagetnya, Lana menarik tubuhnya dari kasur dalam sekali tarikan. Sambil berjalan sempoyongan, Lana keluar dari kamar sambil memegang erat Motorola T190-nya.

Waktu itu baru jam setengah enam pagi.

Sambil berpegangan pada pinggiran meja, Lana men-dial nomor yang baru saja masuk ke handpone-nya. Nomor Kiwi.

Sambil berdiri lemas, menahan kantuk dan badan yang kelelahan akibat Ospek Jurusan semalam, Lana menunggu nada sambung itu berhenti. Kiwi menjawab teleponnya. "Alhamdulillah diangkat" pikirnya.

"Hallo, Wi. Lo kenapa?"

Suara yang menjawab pertanyaan Lana ternyata lebih lemah dari suaranya yang semalam dipaksa meneriakan yel angkatan dan mars himpunan.

"Gue jealous sama lo Lan..."

"Maksud lo apa Wi? Gue ga ngerti..."

"Ardi mau ngajak lo nonton. Tadi dia nanya nomor telepon dan HP lo ke gue."

"Hah?! Yang bener lo Wi? Kok bisa?"

Klik. Telepon tertutup.
"Yah, gue abis pulsa" keluh Lana dalam hati. Buru-buru dia menuju telepon rumah yang tergantung di dinding ruang tengah. Belum sempat mengangkat gagangnya untuk men-dial nomor Kiwi, telepon itu berdering.

"Sip! Kiwi nelepon balik."

Sambil mengatur denyut jantung yang kadung dag-dig-dug, secepat mungkin Lana memikirkan alasan, argumen, atau kata-kata apapun yang bisa menenangkan sahabat barunya itu. Blank. Lana ga tau mau ngomong apa saat ini.

"Hallo."

"Hallo. Assalamualaikum. Lana ya?"

"Shit! Suara Ardi."
"Waalaikum salam. Iya betul, ini Lana. Ini siapa ya?"

"Hey Lan. Ini aku, Ardi."

"Damn! Instead of using 'gue' kayak biasanya, dia malah pake kata 'aku'. What is it with you?"
"Oh, elo Di. Ada paan?"

"Ah, enggak. Kok dari tadi HP kamu sibuk sih Lan?"

"Siyal! Bener-bener nih Si Ardi. Sekarang dia malah pake kata 'kamu' instead of 'elo' kayak biasanya."
"Oo.. tadi GUE lagi teleponan sama TIWI," berharap Ardi mendengar dengan jelas kata-kata yang sengaja diberi penekanan.

"Hoo.. Eh, kamu suka nonton ga?"

"Duh. Strategi-1 gagal total"
"Hmh? Nonton? Tergantung film-nya sih. Sekarang kan lagi ga ada film yang bagus," strategi-2 diluncurkan.

"Kalo gitu kita jalan aja yuk. Besok sore, pulang kuliah, aku tungguin di Soemarja ya. Salamualaikum Lana"

"Eh, waalaikumsalam."

Klik. Ditutup. Ardi ga ngasih kesempatan Lana buat bilang 'enggak'. Strategi-2 jauh dari berhasil. Pfuihh.

"Eh, iya. Kiwi pakabar?!"

Flash- 0 8 5 6 x x x x x x x - Tuuuut ...

"Angkat dong Wiiiiii..."

Klik

"Hallo. Wi! Sori, tadi gue abis pulsa."

"Barusan Ardi telepon lo kan?"

"Oh no.. How'd she found out?"
"Eh, iya."

Hening.

"Sebenernya ini kenapa sih Wi? Gue bingung. Serius gue bingung. Kok bisa Ardi ngajak gue jalan?"

"Jadi? Dia ngajak lo jalan?"

Whops. Lana keceplosan.

"Emh, jadi. Tapi gue tadi..."
"...gue. Gue ga bisa nolak. Dia nutup duluan."

Hening.

"Wi, ngomong dong. Kok bisa dia ngajak gue...?"

Hening.
Kali ini Lana menunggu.

"Semalem, dia tanya ke gue, 'Lana udah punya pacar belom?' Abis itu dia nanya nomor HP lo."

"Terus lo kasi? Yah, Wi. Kenapa dikasih?"

"Gue bisa apa di depan Ardi, Lan? Apapun yang dia tanya pasti gue jawab. Apapun yang dia minta pasti gue kasih"

Setengah menyesal Lana mendengar jawaban Kiwi. Lebih menyesal lagi karena dia bertanya.

***

Ga sabar nunggu kejelasan tentang apa yang baru saja terjadi antara dirinya, Kiwi, dan Ardi, Lana bergegas pergi ke kampus. Mengorbankan jatah istirahat yang layak dinikmati oleh raganya yang sangat lelah oleh Ospek kemarin, Lana langsung bersiap dan pergi ke kampus pagi itu. Tau bahwa ia akan dengan mudah menemukan Kiwi di Tokema Student Centre, tanpa berbelok kemanapun dari gerbang ganesha dia masuk menembus Boulevard.

Sebagai mahasiswa baru yang belum terlalu banyak mengenal teman sekampus, bisa disukai oleh kakak senior di unit kegiatan mahasiswa seperti yang Lana alami saat ini sangat menyanjungnya. Tapi, Lana tidak berharap orang itu adalah Ardi.

Ya, akhirnya, pada acara Open House Kiwi berhasil 'memaksa' Lana untuk bergabung dengan unit kegiatan yang diikuti Ardi.

Saat masih SMP Lana sudah menyadari, bahwa memiliki teman yang lebih 'berprospek' memang tidak menyenangkan. Dulu, di SMP, Lana bersahabat dengan Autumn. Cantik, manis, dan pintar bermain musik, Lana merasa tidak berdaya jika mereka berdua sampai menyukai satu cowok yang sama. Ketika akhirnya Autumn 'dijodoh-jodohkan' dengan Harlan, yang juga disukai Lana, Lana memutuskan mundur teratur dan mendukungnya secara terang-terangan. Berarti sekarang, dia adalah Autumn, sedangkan Kiwi adalah dirinya saat masih SMP dulu.

Ardi. Bukan tipe ideal cowok yang disukai Lana. Tapi untuk disukai oleh orang seperti Ardi bukan hal yang biasa saja. Ardi, menurut Kiwi, adalah cokiber di SMA mereka dulu. Cowok Kita Bersama. Kecengan massal. Dimana senior, teman seangkatan, maupun adik kelas semua ngecengin Ardi. Dan Ardi tidak bergeming. Dia tetap menjomblo dan tidak menunjukkan minatnya untuk berhubungan istimewa dengan satu pun anak perempuan yang dikenalnya. Bahkan saat Kiwi 'digencet' oleh senior perempuan yang sekelas dan sangat menyukai Ardi. Ardi tetap lempeng. Dia tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bagaimana banyak perempuan melakukan cat fight dibalik punggungnya.

Sekarang, dia menunjukkan minatnya pada Lana. Senang atau tidak. Mungkin tidak. Atau sebenarnya, mungkin Lana senang. Karena dia Ge-eR, dan perasaan Ge-eR ekivalen dengan perasaan senang.

"You were everything I wanted
But I just can't finish what I started
There's no room left here on my back
It was damaged long ago
Though you swear that you are true
I'd still pick my friends over you"
[New Found Glory - My Friend Over You]

[to be continued]

22 Sep 2010

Ketika Si Meong Ga Nerima Telepon

ichigo ichi - one life, one opportunity

Dear Meong,

Kamu bilang mau denger complete story tentang malem ini. Aku bilang aku telepon kamu abis Ibuku selesai ngobrol sama aku. Kamu bilang kamu mau nge-charge handphone, dan on setengah jam lagi. Aku tunggu sampe lebih dari dua jam, handphone kamu ga aktif-aktif. Sekarang tinggal 2 menit menuju besok. Kayaknya aku mau tidur aja.

Tapi aku kasitau ya Meong. Hari ini aku udah ngelaksanain niat yang aku ceritan ke kamu. What happened was not perfect. The result have not yet shown. Tapi setidaknya aku udah tenang. Heran deh. Kalau dia marah aku jadi deg-degan. Tapi pas aku ... tadi, aku ga kenapa-napa setelahnya. Aku bener-bener tenang.

I did it. Whatever the result will be. Sekarang udah hari lain. Dua menit lepas 00:00 WIB. Wish me luck, as I always wish you luck.

(^^)v ~v for victory... haha

18 Sep 2010

Balada Dosen-Mahasiswa (2)

Values

Perjalanan Solo-Jakarta yang seharusnya cuma makan waktu 1 jam jadi luar biasa lama kalau dilalui bareng seseorang yang lagi kita sebelin (apalagi ini, dua orang... hmmmph...). Selama perjalanan, biar ga terlalu keliatan bete (walaupun ekspresi ga pernah bisa bohong), saya mencoba ikutan sama pembicaraan mereka.
...
"Oh iya Bu, mobil saya transmisi manual. Oo.. mobil Ibu matic."
...
"Iya Pak, dulu saya pake KIA Visto, sekarang saya pake Avanza."
...
"Iya, Visto irit, mobil kota. Sekarang Avanza juga irit kok."
...
"Mmm.. gatau ya Pak, saya pakai Pertamax."

Semua pembicaraan seperlunya itu terasa ga berujung. Ditambah posisi duduk saya yang waktu itu diantara Pak X dan Ibu Y. Pura2 tidur pun susah. Soalnya Ibu Y, ga berhenti2 ngajak ngobrol Pak X. Sucks, tau gitu, tadi saya duduk di seat yang deket gang aja. Sambil merem2 ayam saya bertekad dalam hati. Nanti, pas dah landing di Cengkareng, saya mau ke toilet terus ngamplopin lagi buat Pak X dan Bu Y ini. Capek, biar beres dan ga banyak omong lagi, udah kesel banget soalnya. ><" Sampai di Cengkareng, waktu beliau2 ini nunguin bagasi (yang kebetulan saya ga bawa banyak bawaan jadinya ga masuk bagasi), saya ijin ke toilet. Mainly buat ngisi amplop buat ni orang dua. Secepat yang saya bisa, saya ngitung uang sisa yang ada dan ngeluarin dua amplop putih dan ballpoint. Amplop Pak X, saya isi tambahan uang harian seperti yang beliau minta (ekstra 1 hari), pengganti uang transport lokal seperti yang beliau minta juga (walaupun nominal yang beliau sebutin overwhelmingly ridiculous *masa uang taxi 600ribu?! nyewa mobil aja sekalian), dan uang pengganti airport tax keberangkatan beliau yang waktu itu ga saya dampingi. Amplop Ibu Y, saya isi uang harian beliau. Walaupun di perjanjian awal, Ibu Y setuju uang hariannya ditransfer ke rekeningnya aja, sekalian uang penggantian deposit hotel yang waktu check-in belom saya dampingin juga. Ga lupa kedua amplop itu saya namain, khusus untuk Pak X ditulisin rinciannya juga. Biar clear dan ga nanya2 mulu. Selesai itu, kami semua makan malam bareng di bandara, walaupun sebenenya saya udah pengen pulang banget, tapi si Pak X ngotot laper. Sebagai orang yang bertugas mengakomodasi beliau, saya terpaksa makan juga (walaupun selera makannya udah ketutupan sama emosi jiwa, wkwkwk). Setelah makan, amplopnya saya kasi.

And the reaction was:
"Lho, kok gini sih? Jadi ga enak nih saya..." kata Pak X sambil tetep nerima uangnya.
"Lho, kok gini sih? Lo ga pake duit lo sendiri kan? Lo gapapa? Lo ada ongkos balik ke Bandung? Duh, gue jadi ga enak nih..." kata Ibu Y.
"Udah gapapa Pak, Bu, saya ada kok ongkos pulang" jawab saya, "Saya mau ngejar Primajasa Pak, Bu, saya duluan ya."
Mereka yang masih terbengong2 akhirnya melepas saya pergi, dengan Pak X mengucap kata terakhir:
"Duh, kok jadi aneh gini ya. Oke. Hati2 ya. Termakasih banyak."

Aneh ya Pak? Akhirnya, Bapak nyadar juga dengan segala keanehan ini. Saya aja udah nyadar dari tadi.

Hal yang paling mengecewakan dari bussiness trip ini tuh bukan karena dengan hectic-nya saya harus mempersiapkan perjalanan ini, bukan juga karena saya harus stuck dengan dua orang yang membuat saya ga nyaman berada di dekat mereka, bukan juga karena kegiatan menurut saya jauh dari efektif dan cenderung ngabisin waktu dan tenaga tanpa tujuan yang benar2 clear, dan bukan juga karena di "after party" saya diomel2in sama kakak angkatan saya.

Secara ga langsung, Pak X, (mantan) dosen saya ini udah nunjukkin sikap2 yang membuat saya semakin ga respect sama beliau. Apalagi sebelum kita terbang ke Jakarta beliau ngasih "nasehat" buat saya yang bunyinya gini:
"Saya tuh ya, dulu, waktu muda... Kalau pergi ke luar kota seperti ini tuh kesempatan buat saya untuk 'dapat lebih'..."
Apapun itu maksudnya. Just, whatever... (_ _")

Ternyata, seorang dosen, yang dulu saya liat sebagai sosok yang berdiri di puncak menara gading, seorang yang dihormati karena keilmuannya, yang dibuktikan dengan predikat doktoralnya, melihat capaian pekerjaannya dari nilai rupiah. Bahwa refleksi dari karirnya adalah uang. Yang lebih bikin saya miris, refleksi karir berupa uang itu embeded terhadap atribut beliau sebagai seorang yang bergelar doktor. Kesannya "karena gue doktor, gue harus dibayar tinggi", terus lagi terkadang predikat doktornya digunakan saat beliau ingin menangkis opini orang lain yang dianggap masih junior: "karena gue doktor, lo harus dengerin omongan gue, nih pengalaman gue dari muda. Lo mah anak kemaren sore, lo salah gue bener." Refleksi itu juga terlihat ketika Bapak ini juga bilang:
"Saya tuh kalau kerja harus enak. Makan enak, hotel harus ada air hangat,..." dsb dst...
Tapi pada kenyataannya, setelah akomodasi tersebut disediakan pun, substansi yang seharusnya beliau kerjakan di-cover oleh asisten seperti saya dan teman2 lainnya.

Kemana larinya 'ilmu padi' yang ditanamkan orang tua dan guru2 kita sejak SD?
Tapi tunggu, dosen juga guru kan??

Dan untuk Ibu Y tersayang, pola2 kerja yang hanya mengandalkan upaya menyenangkan orang lain ga akan berhasil di jaman sekarang ini. Trust me, altough I'm still young, it just wont work! Saat bareng sama Pak X, Ibu mencoba menyenangkan beliau agar dihargai. Saat bareng atasan Ibu, Ibu juga mencoba untuk menyenangkan beliau. Tapi Ibu lupa, kalau posisi itu selalu berganti. Atasan Ibu yang sekarang belum tentu menjadi atasan Ibu nanti. Pak X yang Ibu servis abis-abisan saat ini juga ga punya posisi yang kekal untuk menjamin kerjaan Ibu 'kepake' oleh beliau. Pak X, dengan kinerjanya yang seperti itu, most likely ga akan kepake lagi walaupun beliau bergelar doktor (unless he changes).

So why don't we focus on our tasks. Bekerja sepenuh hati dan melihat capaian pekerjaan dari level of fullfilness yang lebih dalam. Happiness. Kepuasan ketika bekerja keras dan melihat hasil kerja yang lebih baik juga. And, maybe if we're lucky, the money will follow too.

16 Sep 2010

Balada Dosen-Mahasiswa (1)

Profesionalisme & Senioritas

Sekitar tiga bulanan yang lalu, saya dapet tugas dari kantor buat ngedampingin staf pemberi tugas (sebut aja Ibu Y) dan ketua tim tenaga ahli (sebut aja Pak X) koordinasi ke daerah. Waktu itu saya males banget sama kerjaan ini. Ini nih yang tejadi kalau kita udah ga respect sama orang, jangankan buat mengakomodir si Bapak ini buat acara koordinasi yang harus ke luar kota, untuk ikut rapat di kantor sama beliau aja malesnya minta ampun. Sampe2 sebelom saya pergi, saya nulis catatan kecil di pinggir organizer yang bunyinya gini:

listen without prejudice!
clear your mind from skepticism!


Koordinasi di daerah dijadwalin mendadak, diskusi di hari Kamis, keluar keputusan fix berangkat besokannya, hari Jum'at 3 hari sebelum Hari-H. Ribet banget karena untuk ke daerah itu perlu persiapan transportasi pulang-pergi, pengajuan biaya, booking hotel, charter transport lokal, belum lagi menghubungi siapa aja orang daerah yang bakal didatengin. Untuk pesen tiket pesawat pulang-pergi harus selesai Jum'at itu juga, hari terakhir masuk kantor, untuk jadwal keberangkatan dan kepulangan yang belum pasti. Belum booking hotel yang ternyata full dimana-mana karena saat itu di sana lagi ada event internasional.

Tapi ke-hectic-an itu ga seberapa dibanding kejadian "after party"-nya. Totaly amazed dengan kejadian itu, saya jadi pengen nge-share sama temen2 semua. Kejadiannya di airport, waktu mau pulang ke Bandung (via Jakarta). Seperti biasa saya ngasih uang harian (honor) buat Ketua Tim yang notabene-nya adalah anggota internal dari kantor saya walaupun beliau adalah tenaga eksternal yang di-hire kantor (so technically beliau adalah tenaga honorer).

Singkat cerita, setelah saya ngasih uang harian ke Pak X, beliau keberatan dengan jumlahnya (kasarannya kurang lah ya..). Tapi saya jelasin, bahwa uang itu sesuai dengan anggaran awal, dan belum mempertimbangkan bahwa acara kita ini mulur waktunya, jadi nanti ada penyesuaian setelah kita tiba di Bandung (intinya, ntar deh ditambahin Pak.. sekarang saya takut duitnya kurang buat ongkos ;p). Tapi kayaknya Pak X ini ga terima gitu aja, walaupun beliau akhirnya bilang "ya sudahlah..."

Gong-nya waktu saya ke toilet, ternyata Pak X ini ngomongin kurangnya honor beliau ke ibu staf pemberi kerja yang notabenenya mantan mahasiswinya di kampus. For the record, Pak X adalah mantan dosen saya juga dan otomatis Ibu Y adalah temen kuliah saya juga (senior lebih tepatnya). Surprise..!! balik dari toilet saya diomel2in sama Ibu Y, yang intinya:
  1. Pak X adalah dosen kita, masa dikasi honor kecil;
  2. Akomodasi hotel dan flight ga memadai, secara Pak X adalah dosen kita;
  3. Uang harian dia (Ibu Y) itu harusnya dibayar dimuka, bukan belakangan;
  4. "As a human being" (itu pilihan kata yang dipake Ibu Y) honor Pak X tuh ga memadai, terlebih beliau adalah dosen kita; dan yang lebih mencengangkan
  5. Ibu Y udah menghubungi atasannya tentang hal ini (kurang honor dsb) dan atasannya itu nanti akan bicara dengan atasan saya langsung. Oleh karenanya saya ga usah ngomong apa2 sama kantor dan pura2 ga tau aja.
Pfhuiihh... keabsurdan ini membunuhku.. haha, lebay...
Yang bikin saya merasa absurd sama kejadian (dan omelan Bu Y) ini:
  1. Ketidakmampuan Ibu Y untuk membedakan pekerjaan dan hubungan personal. Emang bener Pak X adalah dosen kami, tapi itu dulu. Sekarang beliau adalah Tenaga Ahli yang di-hire oleh kantor saya, untuk mengerjakan project yang diberikan oleh kantornya Ibu Y. Satu lagi, bahwa Ibu Y saat ini, secara profesional, bukan lagi senior saya yang memiliki hak untuk menegur saya, karena posisi kita pada dasarnya adalah mitra. Jika ada yang berhak memarahi saya, maka yang paling berhak adalah bos saya, bukan beliau. Jadi, kalau Bu Y mau komplain tentang saya, silahkan bicarakan dengan atasan saya biar saya nanti dimarah2in si Bos.
  2. Ketidakmampuan Pak X untuk membedakan pekerjaan dan hubungan personal. Intinya idem sama yang di atas. Pak X masih menganggap saya dan Ibu Y sebagai mahasiswanya. Terlebih lagi, Pak X lupa kalau yang meng-hire beliau adalah kantor saya, which means, beliau adalah bagian internal dari kantor. Dari situ, beliau ga boleh mengumbar kekurangan (kalo ga bisa disebut aib) kantor sendiri, terutama ke pemberi kerja yang notabenenya klien kantor Pak X dan saya.
  3. Pak X sepenuhnya sadar, bahwa kebijakan kantor mengenai honor dan akomodasi sudah ditentukan sebelumnya. Dan sebagai bagian dari kontrak, pasti beliau sudah pernah membaca dan menyetujuinya. Oleh karena itu, Pak X seharusnya ga usah ngember tentang hal ini dong, terlebih sama klien.
  4. Keluhan Pak X dan Bu Y salah alamat. Saya bukan orang yang berwenang untuk mengubah kebijakan honor dan akomodasi, karena semuanya ada di manajemen. Jadi, mau disiksa sampe muncrat pun saya ga bakalan bisa naikin honor mereka. Huft ><"
Dengan maksud untuk menenangkan panasnya suasana Bu Y yang ngomelin saya (dan Pak X yang ngompor2in dan bersorak sorai di pinggir lapangan) , juga karena saya juga tau bahwa ikut2an flow mereka yang berkobar2 ga akan menyelesaikan masalah, akhirnya saya angkat bicara:
"Iya, saya tau. Tapi saya ga ada kewenangan untuk mengubah kebijakan ini. Saya hanya ditugasi mengurus substansi proyek. Gimana kalau Bapak dan Ibu list saja keluahannya, nanti saya sampaikan ke manajemen?"
Mungkin karena ngeliat ekspresi saya (yang ga bisa bohong) yang bete banget, akhirnya mereka stop berkicau. Khusus untuk Pak X, mungkin beliau takut kalau saya mogok kerja abis diomelin gini, secara semua substansi, report, dan administrasi (yang harusnya dikerjain Ketua Tim, Pak X) dibebankan ke saya dan temen2 asisten lainnya. Kebayang aja kalo saya bikin shock therapy "Pak, saya resign!", kehebohan apa lagi yang bakal terjadi. (lol)

Karena muka saya yang saat itu kayaknya udah ga enak banget diliat, Bu Y juga ngerem omelannya, dan bilang:
"Jangan dimasukkin ke hati ya. Dulu juga temen lo yang nanganin project ini gue marah2in. Lebih parah bahkan dari ini."
Mana bisa ga dimasukkin ke hati, ga tau apa orang ber-shio kerbau itu pendendam. Apalagi orang Sunda, ga gampang tersinggung tapi sekalinya disakitin pasti berbekas. Makanya, daripada muna saya jawab aja:
"Duh, ga bisa Bu. Kalau kayak gini ga mungkin ga saya masukin ke hati."
Setelah itu, perjalanan pun dilalui kami bertiga dalam diam (saya aja sih yang diem, mereka berdua masih ngobrol-ngobrol. Nampak banget mereka cari2 topik pengalih, karena sepertinya mereka agak merasa bersalah.

[bersambung ke bagian (2)]