...

I am strong, because I am weak...
I am beautiful, because I know my flaws...
I am a lover, because I have been afraid...
I am wise, because I have been foolish...
And I can laugh, because I’ve known sadness...
Feeds RSS
Feeds RSS

19 Nov 2010

Bhineka Tunggal Ika

Masih ingat tidak dengan pelajaran PPKn semasa kita SD dulu, tentang arti dari semboyan bangsa Indonesia yang tertera di pita yang dibawa Burung Garuda Pancasila. “Bhineka Tunggal Ika” walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jiwa. Sepertinya semua orang tahu betul arti dari semboyan itu, tapi apa iya semua orang memaknai arti itu dalam kehidupan mereka, merasuk sampai ke tulang dan darahnya. Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki beragam suku budaya, mulanya meong tidak merasa begitu bangga akan kelebihan negeri ini, biasa aja kalau boleh dibilang. Ya sudah trus kenapa begitu pikir meong saat itu, saat dimana meong masih berkutat di negeri sendiri di Suku Jawa, di kota kelahiran meong. Dari sejak kecil meong tumbuh dalam lingkungan yang bisa dibilang homogen, semua orang Jawa, meong kecil berpikir kalau Indonesia itu diisi oleh orang Jawa saja. Seiring bergulirnya waktu dan penetrasi dari globalisasi maraknya perantauan, di lingkungan sekitar meong mulai muncul orang-orang dari suku lain yang secara otomatis akan bersinggungan dalam kehidupan meong. Berawal dari murid pindahan di SD, Bian namanya, dia seorang dayak-melayu kota asalnya Samarinda. Dengan meong lah Bian belajar Bahasa Jawa, ini hukumnya wajib bisa Bahasa Jawa, ya karena masih ada pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa. Masuk di SMP meong bertemu lebih banyak lagi teman dari berbagai suku di Indonesia yang tertumpah dalam satu institusi pendidikan ini. Ada dari Bali, Aceh, Bugis, Ambon, Sumbawa, bahkan ada yang dari Papua walupun dah bercampur ma darah Cina tapi teman meong ini masih memiliki cirri khas orang Papua yaitu rambutnya, khas sekali. Sampai jenjang SMA walupun banyak juga teman meong dari luar suku Jawa namun kesemua teman meong itu hanyut dalam tirani minoritasnya yang akhirnya memaksa mereka untuk bisa berbahasa Jawa, kita masyarakattuan rumah ini sebetulnya jahat dengan para pendatang ini. Baru pas di masa kuliah kita kelompok mayoritas baru bisa sedikit member kemudahan bagi para pendatang dengan selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan, ya walaupun masih medok dang ado-gado dengan bahasa Jawa popular.


Setelah lulus kuliah meong bercita-cita akan pergi meninggalkan kota kelahiran meong untuk bisa menakhlukan dunia, dimulai dari Ibukota, pikir meong saat itu. Berangkatlah meong saat itu menuju ibukota Indonesia, ternyata benar kata pepatah ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Meong yang dulu jarang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sedikit kualahan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa embel-embel atau tercampur dengan bahasa Jawa. Meong sempat frustasi dan minder, meong gak mau ngomong di luar rumah pas di Jakarta. Meong takut salah ngomong dan mengingat orang-orang di Jakarta tidak sepenuhnya baik seperti di kota asal meong. Butuh dua minggu untuk menakhlukan masalah bahasa ini, sekarang meong sudah fasih lancar dan gak medok lagi pakai bahasa Indonesia. Cuma beberapa bulan saja meong berada di Ibukota Indonesia ini, selanjutnya meong berpindah ke Ibukota Jawa Barat, yup bener banget meong memutuskan untuk kerja di Bumi Parahyangan Kota Bandung, kota romantis setelah Venice dan Paris menurut meong. Xixixixi jadi ingat dengan tulisan di t-shirt yang terpampang di salah satu mall favorit meong di Bandung “Pernah jatuh cinta di Bandung”, dalam hati meong berikrar akan membeli kaos itu kalu nanti meong akan pindah dari kota ini, hahahahaha.


Di Bandung tidak seperti di Jakarta, masyarakatnya lebih mengutamakan kearifan lokal, terbukti dengan bahasa pergaulan yang digunakan adalah Bahasa Sunda. Lagi-lagi meong frustasi dengan masalah bahasa, mungkin ini adalah balasan buat meong karena dulu meong terlalu egois dengan teman yang dari luar suku Jawa dengan tetap memakai bahasa jawa kepada mereka, walaupun mereka enggak ngerti. Butuh waktu agak lama menyesuaikan dan mulai menerima situasi ini. Sekarang ini ni, meong sudah agak mengerti namun belum percaya diri untuk menggunakan dalam percakapan.


Kebanggan meong akan keragaman suku dan budaya di Indonesia semakin menjadi disaat meong menghabiskan waktu disebuah toko buku dan menemukan buku tentang berbagai adat pernikahan dari seluruh Indonesia, lengkap dari prosesi awal sampai akhir, baju adat, baju pernikahan, keragaman istilah bahasa tapi satu makna, permainan masa kecil yang ternyata sama saja dibelahan bumi Indonesia ini dengan penamaan yang berbeda tentunya. Sampai pada moment ketika memilik banyak teman dari berbagai suku.


Pernah dimuat di tulisan kebo tentang sebenarnya orang Indonesia sebenarnya masih rasis, terutama para orang tua kita. Seterbuka dan semodern apapun pikiran orang pasti untuk masalah pernikahan campur beda suku agak sedikit lot perijinannya dengan para orang tua. Orang Jawa nikah dengan orang Jawa, Orang Minang nikah dengan sesama Minang, Batak dengan Batak, Sunda dengan Sunda dll. Ada kisah seorang wanita Minang yang harus tetap menikah dengan pria Minang pula, namun orang tuanya mengijinkan dia merantau ke tanah jawa bahkan disaat wanita minang tersebut memutuskan untuk kempali ke kampungnya sempat dilarang. Namun orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang dari kota yang sama dengannya. Begitu pula dengan wanita Jawa yang ada beberapa diantaranya yang dilarang menikahi pria dari Suku Sunda. Mana katanya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Bapak meong sendiri termasuk dalam kategori orang tua seperti yang meong ceritakan di atas. Pernah suatu ketika meong bertanya iseng-iseng pada beliau,


“bapak, kalau meong nikah sama orang minang boleh gak..?”

“orang minang…???”

“iya orang Padang bapak, boleh gak…??”

“boleh aja, trus nanti ngomongnya gimana…??”

"kalau sunda, bugis, dayak, boleh ga..??"

Bapak hanya berlalu tidak menggubris pertanyaan terakhir, karena sudah merasa cukup dengan jawaban sebelumnya


Kalau dicerna secara gamblang jawaban bapak meong ini, beliau nerima nerima saja meong menikah dengan orang dari suku manapun, tapi meong yang sudah kenal betul watak beliau, masih agak terganjal dengan peryataan pada kalimat terakhir, “trus nanti ngomongnya gimana” see itu adalah pertanda beliau tidak menyetujui 100%. Okelah terlepas dari factor bibit bobot dan bebet yang beliau junjung tinggi dalam memilih menantu, karena bagi beliau menantu dikeluarganya sudah dianggap seperti anak lelakinya, ya seperti itulah yang meong lihat dari semua suami kakak-kakak meong. Kedekatan yang terjalin antara bapak meong dengan menantu menantunya sudah seperti layaknya anak kandung, mungkin ada kekhawatiran beliau tidak bisa berkomunikasi dengan menantunya kalau-kalau menantunya dari suku diluar Jawa, hahahahaha ada ada aja bapak meong ini.


Well, terlepas dari itu semua, saat ini meong hanya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dengan saling hormat menghormati semua keragaman suku ras dan agama di sekitar meong. Urusan jodoh meong nanti siapa, dari mana, biarlah waktu yang akan menjawab, meong saat ini sedang berusaha untuk meraih apa yang meong yakini di hati meong. Meong selalu berdoa untuk selalu diberikan jodoh yang terbaik bukan bagi meong saja, tapi bagi keluarga meong juga. Apapun panggilannya entah itu Abang, Uda, Aa’, Mas, Beli, Cak dll tapi tetap satu yang sama yaitu berlandaskan ‘cinta yang mendamaikan’


Buat adeknya abang: ayo semagat, jangan pernah lelah menapaki jalan hidup yang berliku ini, untuk saat ini ikuti dulu aja apa kata mama, mau dilarang pulang, menurutlah, disarankan tetap merantau dan bekerja di Jawa laksanakanlah, mama maunya kamu nikah sama orang sana diiya in dulu, tidak ada yang tahu siapa jodoh kita kelak kan, yang penting sekarang always do the best in your life. Jika ingin mendapatkan pasangan yang terbaik, jadilah pribadi terbaik pula, ok. Bersama-sama kita berusaha, berdoa dan saling mendukung.

17 Nov 2010

Foto

Cerpen

New Text Message
[sender unknown]
Kak Sara, ini Tari PL'07. Katanya Kakak punya catatan kuliah Perencanaan Pesisir ya? Boleh minta ga Kak? Tolong email ya Kak, buat bahan TA nih... Hehe..

***

Sara hanya tersenyum sambil geleng-geleng membaca sms tadi. "Anak KP jaman sekarang," pikirnya, "Dulu pas jaman gue KP, mana berani nyuruh-nyuruh kakak pembimbing nge-email-in bahan. Apalagi kalau pemimbingnya senior pas kuliah." Tapi jaman dulu memang berbeda dari jaman sekarang. Sara juga bukan tipe kakak senior yang disegani adik kelasnya. Sudah untung ada yang memanggil namanya dengan imbuhan 'Kak', karena biasanya para junior ini hanya memanggilnya 'Sara' saja. Walau begitu, Sara tidak pernah ambil pusing. Panggilan hanya sebatas panggilan, tidak terkait langsung dengan penghormatan. Yang penting pihak yang dipanggil dan pihak yang memanggil sama-sama merasa nyaman, begitu prinsipnya.

Reply
New Message > Text Message
Oke. Tar saya cari dulu ya. Udah lama soalnya. Sy ga yakin naronya dimana. Tar kl ada, sy kabarin.
[send]

***

18:25
Belum terlalu malam, Sara sudah sampai di rumahnya. Setelah sejenak membersihkan diri dan beristirahat, ia ingat pada janjinya tadi siang. Janji untuk mencarikan catatan kuliah untuk bahan Tugas Akhir adik kelas tersayang. Haha. Sara tahu bagaimana ribetnya menyusun Tugas Akhir, karena pada prinsipnya pekerjaan itu tidak terlalu sulit. Hanya ribet dengan dosen pembimbing dan perintilan lain, sehingga Sara tidak berniat untuk menambah penderitaan juniornya tadi.

Menghampiri PC berdebu yang sudah lama tidak tersentuh, Sara lalu menekan tombol power. Dua account muncul di desktop, Tata dan Guest. PC ini memang sudah digunakan adik bungsunya, Tata, sejak Sara dibelikan laptop bertahun-tahun yang lalu. Sejak saat itu hingga Tata dibelikan PlayStation, PC itu resmi menjadi PC khusus nge-game. Karenanya Sara tidak yakin, file-file yang ia simpan ketika kuliah masih tersimpan dalam hard drivenya.

Tidak sulit untuk mencari catatan kuliah di PC itu, asalkan folder miliknya tidak hilang karena terformat. Bingo! Sara menemukan foldernya, ia lalu mengklik folder semester 6 dalam kumpulan folder catatan kuliah. Waktu itu, mata kuliah yang memerlukan bahan tentang perencanaan pesisir adalah PL3202-Hukum dan Administrasi Pembangunan. Perencanaan Pesisir sendiri merupakan salah satu mata kuliah pilihan di Departemen Teknik Planologi, tapi mata kuliah itu sepi peminat karena diadakan di luar Labtek IX-A, gedung kuliah resmi anak-anak Plano, dengan dosen pengajar dan teman kuliah yang juga tidak berasal dari Departemen Planologi.

File yang Sara cari ada di folder Manajemen Pesisir. Iseng-iseng Sara membuka folder itu untuk sekalian mengecek isinya. OS482 -Oseanografi dan Hidrolika Pantai, kode yang tertulis pada header file tersebut. "Sip! File-nya bener," pikir Sara yang lalu mengirimkannya pada Tari via email dengan kata-kata pengantar attachment yang seadanya. "Ok, sent! My work is done..."

***

Telungkup di atas sprai oranye dengan seluruh tubuh tertutup bedcover motif senada, Sara merasa mata dan otaknya tidak kooperatif dengan kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat agar besok bisa masuk kerja dalam kondisi yang fit. Wajar saja. Membuka file-file lama sama dengan membuka memori masa lalu yang hampir terlupakan. Sara teringat orang yang memberikannya file catatan kuliah itu.

Mengendap-endap keluar kamar ke pojokan tempat PC itu bertengger, Sara kembali menekan tombol power. Berharap menemukan folder berisi foto-foto lama yang bisa mengembalikan manis pahitnya kenangan masa lalu, Sara lalu tertegun melihat seorang lelaki muda dengan kemeja biru kotak-kotak dan carrier hijau tua menempel dipunggungnya. "Jauh dari keren," pikir Sara sambil tersenyum.

"Gue mau naik ke Semeru. Puncak tertinggi Jawa." samar-samar Sara mengingat kata-kata lelaki itu padanya dulu. Waktu itu, entah mengapa, lelaki itu menghampiri Sara dan memberi informasi yang Sara tidak terlalu pedulikan. Sara yang saat itu sedang duduk-duduk bersama sahabatnya di pagar tembok Student Centre lalu berbincang ringan dengan Si Lelaki. Sahabat Sara yang juga kenal dengan Si Lelaki kemudian memfoto lelaki itu dengan kamera Nokia 2 MP yang saat ituadalah ponsel kamera tercanggih. Sara tidak ingat bagaimana foto itu sampai ada di PC-nya. Nyatanya, 7 tahun setelah foto itu diambil, Sara bisa melihat foto itu sambil tersenyum.

Sara lalu teringat pertama kali ia bertemu dengan lelaki itu ketika mendaftar di salah satu kegiatan mahasiswa. Saat mengisi formulir pendaftaran, Sara menuliskan nama lengkapnya dalam kolom kosong dengan huruf balok sesuai petunjuk pengisian.
|T|E|S|S|A|R|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|_|
Belum sempat Sara melengkapi kolom-kolom itu dengan nama lengkapnya, terdengar celetukan seorang lelaki yang sepertinya memperhatikan Sara sedari tadi.

"Nama lu Tessar? Keren juga. Kayak nama sejenis lensa."

Sara tidak mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki ini, ia pun menjawab, "Iya Kak, tapi saya biasa dipanggil Sara."

"Tapi kok lu ngisi Tessar? Nama lu Tessara?" tanyanya lagi.

"Bukan Kak. Nama lengkap saya Tessaria Sara," jawab Sara mulai tak sabar.
"Makanya sebelum nyamber, liat dulu." gerutu Sara dalam hati.

"Oo.. Kirain namanya Tessara. Baru gue mikir nama lu Sunda banget. Teh Sarah. Gitu. Hahaha."

Dengan alasan kesopanan dan melihat sepertinya lelaki ini akan menjadi seniornya di organisasi ini, ia pun mencoba meneruskan pembicaraan.
"Hehe. Saya emang orang Sunda kok Kak. Emang bukan Teh Sarah. Tapi polanya tolong-menolong khas pola nama orang Sunda, Tesaria Sara. Mirip kayak pola Otong Marotong, Oji Saykoji atau Ice Juice, cuma susunannya dibalik. Iya kan?"

"Hahahaha. Iya ya. Lu lucu juga Sar. Gue Marco. Ga usah ngomong resmi-resmi sama gue mah. Ga usah pake-pake Kakak segala. Kalo mau juga panggil gue Abang, biar mesra. Hahahaha."

Mati dah, Sara merasa pembicaraan ini mulai menjijikan. Akhirnya, berharap menutup pembicaraan, ia berkata, "Oo.. Marco. Oke oke, gue panggil lu Marco aja boleh kan ya?"

***

[DSCI090203]
Dua shaf muda mudi berjejer di depan rumah penyemaian padi, dilatarbelakangi pegunungan hijau yang dihiasi bertingkat-tingkat sawah padi. Itu dirinya, gadis berponi yang berdiri di barisan belakang paling kiri. Dan itu Marco, lelaki yang duduk bersila di barisan depan dengan menggenggam kamera hitam besar di tangan kirinya.

Waktu itu adalah field trip pertama mereka. Samar-samar Sara teringat dirinya duduk membaca di bawah pohon sambil sesekali memperhatikan Marco memberi mini workshop fotografi dadakan pada junior-junior yang lain untuk mengisi waktu kosong. Sara bukan fans fotografi. Menurutnya, merupakan semacam underestimasi jika dunia harus digambarkan dalam selembar kertas glossy. Sara lebih suka kata-kata, menggambarkan dunia dalam tulisan tanpa dibatasi ukuran kertas atau daya tangkap lensa. Selain itu, menjadi objek foto juga bukan hobinya sehingga penjelasan Marco tidak terlalu ia dengarkan. Beberapa potongan kata yang Sara tangkap waktu itu hanya 'focal length', 'apperture', 'diafragma', 'perspektif' dan istilah-istilah lain yang terdengar asing di telinganya. Kagum melihat lelaki-lelaki muda yang haus ilmu mendengar paparan sang senior dengan antusias. Geli melihat yang perempuan tak kalah antusiasnya memperhatikan abang yang satu ini menerangkan mahluk asing itu pada mereka. Geli karena Sara tahu teman-temannya ini sama tidak berminatnya dengan dirinya terhadap fotografi. Daya tarik utama bagi perempuan-perempuan muda itu memang bukan penjelasannya, tapi abang ganteng yang sedang menjelaskan.

Karena tidak merasa berkepentingan, Sara menenggelamkan dirinya lagi dalam The Worldly Philosopher. Berkenalan dengan Mas Adam Smith hingga Oom John Maynard Keynes yang membentuk paham ekonomi masa kini. Kekhusukan Sara terhenti sejenak saat mendengar namanya disebut-sebut dalam penjelasan Marco.

"Salah satu jenis lensa, yang standar, yang dipake jaman sekarang tuh namanya Tessar. Kata Tessar itu diambil dari bahasa Yunani yang artinya empat. Lensa ini ..."

Sekilas Sara melihat Marco melirik ke arahnya saat menjelaskan lensa dinamai mirip dengan namanya.

"Oo.. Jadi ini maksud Marco waktu itu," pikir Sara sambil tersenyum.

***

[DSCI110804]
Sara melihat dirinya diapit dua orang berbaju sama dengannya. Seragam panitia OSKM, kegiatan Ospek terpusat yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa ITB. Waktu itu Sara sudah tingkat dua, karenanya dia berhak menjadi panitia dengan jobdesk marah-marahin junior. Setahun sudah sejak ia mengenal lelaki bernama Marco. Hampir satu semester mereka tidak bertemu.

"Marco!"

"Eh, Sara! Lho, rambut lu kok pendek? Pangling gue. Lu potong rambut?"

"Hehe. Iya, biasa, abis putus."

"Hahaha. Tapi gapapa deng, lebih fresh. Lebih manis."

"Hahahaha, " Sara tersipu.
"Lu ikutan lomba foto OSKM?" kebetulan Marco mengalungkan kamera besar di lehernya, sehingga Sara bisa mengganti topik pembicaraan.

"Iya, iseng-iseng berhadiah."

Sara tidak tahu pasti bagaimana ia bisa kehilangan kontak begitu lama dengan Marco. Seingat Sara, mereka sempat dekat setelah perkenalan keduanya ketika Sara bergabung dengan kegiatan mahasiswa yang Marco terlebih dahulu ikuti. Kedekatan Sara dengan Marco sulit untuk Sara gambarkan. Hanya saja, Sara ingat bahwa mereka pernah saling menceritakan mimpi mereka untuk masa depan. Sara ingat bahwa Marco pernah menceritakan bahwa suatu hari ia ingin settle dan memiliki 3 orang anak, dua lelaki dan satu perempuan. Dua diantaranya adalah sepasang anak kembar, yang satu akan dinamai Sonnar saudaranya dinamai Planar, keduanya nama lensa. Sara tersenyum mengingat semuanya. Hingga saat ini ide itu terasa sangat konyol, sehingga tidak mudah terlupakan.

***

[DSCI230403]
Dua orang lelaki duduk di titian Tugu Soekarno. Yang satu berambut pendek, mengenakan kaos hitam dengan kalung choker dan sebatang rokok menyelip di jari tangan kanan nya. Yang satu lagi tidak bisa dikatakan gondrong, tapi tidak juga berambut pendek, sedang tersenyum ceria ke arah Sara. Lelaki itu Marco. Sedang yang menggenggam sebatang rokok itu Doni, teman Marco, juga senior Sara dalam organisasi itu.

Akhirnya Sara teringat kembali alasan mengapa ia dan Marco berhenti saling kontak. Sara mendorong Marco jauh-jauh dari hidupnya. Sebuah isu bahwa kedekatannya dengan Marco merupakan sesuatu yang direncanakan menjadi penyebab utamanya. Sebuah taruhan antar senior. Sara benci menjadi bahan taruhan.

"Polanya pas. Gue deketin Icha, Si Marco deketin Sara."
Samar-samar Sara mendengar Doni berbicara pada Sofyan dari luar pintu sekre yang terbuka. Doni gelagapan saat melihat Sara berdiri di pintu itu. Ia terdiam.
"Eh, Sara. Ngapain diluar? Sini masuk. Nih ada Bang Sofyan. Katanya kemaren nyariin mau diskusi."

Itu adalah hari terakhir Sara berhenti mengontak Marco. Setahun kemudian, tanpa sengaja ia bertemu dengannya saat Marco hunting foto OSKM. Tahun depannya, saat Sara putus asa mencari bahan untuk presentasi mata kuliah di tingkat tiga, ia akhirnya menghubungi Marco kembali. Marco yang saat itu sudah sibuk menyusun tugas akhir, bersedia menjadi teman Sara diskusi tentang aspek hukum dalam penataan pulau-pulau terluar di Indonesia. Hari berikutnya, Marco datang ke Labtek dimana Sara berkuliah dan memberi bahan-bahan tentang manajemen pesisir untuk men-support makalah yang akan dikumpulkan setelah presentasi. Marco masih sebaik dulu.

***

Hari ini, seperti biasa, Sara terlambat masuk kantor. Bedanya, biasanya Sara terlambat dan datang dalam keadaan fresh sedang hari ini ia terlambat dan datang dalam keadaan kuyu. Kepalanya pening, ia hanya bisa memejamkan mata selama dua jam tadi malam. Perasaan Sara bercampur aduk. Foto demi foto yang dilihatnya semalam mengingatkan Sara bahwa Marco selalu ada untuk membantunya di setiap tahapan kehidupan kuliahnya. Hingga akhirnya Marco lulus dan Sara benar-benar kehilangan kontak. Merasa konyol karena satu prasangka yang tidak pernah Sara konfirmasikan kebenarannya menjadi pangkal penyebab putusnya hubungan yang sebenarnya belum benar-benar dimulai.

Penasaran dengan kabar Marco, Sara log-in ke situs jejaring sosialnya dan pergi ke halaman milik Marco. Mereka berteman disana, walaupun tidak pernah saling sapa. Marco masih sekeren yang dulu, pikir Sara. Dindingnya dipenuhi dengan hasil jepretan yang sudah nampak lebih profesional dibanding dulu. Ia benar-benar menekuni hobinya itu.

Merasa melankolis, Sara yang impulsif mendadak ingin meng-update status. Ia pun kemudian mengetik beberapa kata. Klik. Post.

Tessaria Sara > Marco A. Hakim "If you capture the world by optical lenses, I'll capture the world by pen and paper... If you describe the world on still images, I'll describe what's there beyond the border... And that's how love works for me..."

Sara tersentak. Kaget, malu, dan merasa sangat bodoh karena ternyata Sara bukan menulis di dindingnya sendiri melainkan di dinding Marco. Sara lalu menghapus kalimat yang sudah ter-publish itu. Ia lalu sign-out dari accountnya dan berusaha melupakan kekonyolan yang baru saja ia lakukan.

Lima menit kemudian handphone Sara bergetar.

New Text Messege
[sender unknown]
Sar, ini Marco. Apa kabar?

=========
Fiksi.
Credits to Bond, James Bond.
:D
The short period your life crossed with mine, was a magical inspiring moment.
*Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan dalam penggunaan istilah-istilah fotografi. Karena seperti Sara, penulis juga bukan penggemar fotografi. :P


9 Nov 2010

Garis Paralel

Cerpen

Angga tidak tahu mengapa belakangan ini ia merasa sangat kesepian. Sejauh yang ia tahu, ia tidak melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan, yang bisa merusak mood-nya. Angga suka keteraturan, hidup dengan jadwal kegiatan yang pasti, makan di tempat-tempat yang menurutnya aman bagi perut dan dompet dengan menu yang bisa memenuhi kebutuhan kalorinya sehari-hari, serta membereskan kamar kost sebelum berangkat kerja dan menyapu lantai sebelum tidur. "Being organized is fun," kata-kata itu seolah sudah menjadi kalimat credo dalam kehidupan Angga. Sambil melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan, ia mulai berpikir apakah kesenangan-kesenangan kecil yang ia lakukan selama ini menghapus esensi kebahagiaan yang seharusnya bisa ia rasakan.

Sabtu biasanya adalah hari yang paling ia nantikan. Tidak perlu ke kantor, sehingga bisa berlama-lama di tempat tidur. Meringkuk ditengah-tengah kasur berukuran single dengan bedcover menutupi ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada yang lebih nyaman selain menghangatkan diri di udara pagi hari Kota Kembang yang dingin, apalagi setelah hujan semalaman. Siangnya bisa seharian bermalas-malasan menonton film atau main game online, setelah sebelumnya jogging sambil cekidot mahasiswi kampus sebelah. Tidak perlu terburu-buru mencuci baju karena masih ada hari esok, hari Minggu. Just another fun Saturday.

Tapi Sabtu ini lain rasanya. Terbangun pagi-pagi buta dan tidak pernah merasa sesepi ini. Kumandang "asshalatu khoirun minannaum" terasa bergema sangat jauh walaupun mesjid terletak tepat di seberang rumah kost. Tengadah menatap langit-langit 2x3 meter persegi, Angga berpikir untuk bangun atau mencoba memejamkan matanya lagi 6 jam lagi hingga jam 10 nanti ketika matahari sedang hangat-hangatnya. Pilihan pertama yang harus diambil di hari Sabtu yang terasa sepi ini. Angga benci memilih. Tapi hidup adalah seangkaian pilihan-pilihan kecil yang disodorkan tanpa bisa kita tolak atau abaikan keberadaannya. Saat merenung untuk membuat pilihan pertamanya hari ini, ia teringat Agni, salah satu teman pertamanya saat menginjakan kaki di kota termetropolis kedua setelah ibukota Jakarta. Dulu Agni adalah alarm solat subuhnya, di awal pertemanan mereka ketika temannya itu mengetahui bahwa Angga tidak terbiasa bangun subuh. "Kalau Agni tau gue ga solat subuh lagi, dia bakal sms-in gue lagi tiap pagi ga ya? Kalau Agni masih sms-in gue, rasanya tetep sesepi ini ga ya?" pikir Angga, "Haha. Silly toughts. Agni pasti meradang, dia paling bete kalau lupa solat. Jatoh-jatohnya, gue ntar digebukin sampe lebam." Ia pun memutuskan untuk bangun dan mengambil air wudhu. Rekor. Sudah lama rasanya Angga tidak solat Subuh tepat waktu. Terakhir kali adalah saat pesantren kilat waktu SMP. Dimana kakak-kakak mentor membangunkan semua peserta untuk solat Tahajjud lanjut solat Subuh berjamaah. Waktu itu solat Angga belum bisa dibilang tertib. Kantuk yang tak tertahankan membuatnya terlelap dalam tiap sujudnya. Kali ini, ia berketetapan untuk khusuk.

Di atas sajadah pinjaman ibu kost yang tidak pernah ia kembalikan sejak hari Jumat setengah tahun yang lalu saat pertama masuk ke rumah kost ini, Angga menunaikan kewajibannya. Selesai solat dua rakaat, Angga mulai berdzikir. Ia mulai berdoa. Rekor kedua hari ini. Biasanya ia capcus selesai solat. Terburu-buru karena matahari sudah mulai tinggi atau terburu-buru karena harus mandi dan masuk kantor jam 8 pagi. Di waktu solat lainnya pun biasanya ia langsung menuju meja kerjanya, langsung nampang di depan laptop, atau langsung berbaring dan terlelap. Dalam doanya ia mengingat ibu yang sudah tidak bisa ia temui lagi. "Kalau Mamah masih ada, mungkin ada yang neleponin gue setiap wiken kayak nyokapnya Heri," pikirnya. "Kalau Mamah neleponin gue tiap wiken, mungkin gue ga ngerasa sesepi ini."

Pikirannya lalu melayang pada ayahnya dan istri beliau yang hingga kini masih ia panggil dengan sapaan 'tante'. Entah mengapa Angga belum bisa sepenuhnya menerima wanita yang menjadi istri ayahnya itu. Ia pernah berketetapan bahwa bagaimanapun ibunya hanya ada satu, tidak bisa terganti oleh siapapun. Karenanya panggilan 'tante' untuk istri ayahnya adalah satu-satunya pilihan yang paling bisa ia terima. Ia lalu berpikir, "Kalau gue manggil Tante itu Mamah, apa hubungan gue sama Bapak akan lebih baik dari yang sekarang? Kalau hubungan kami lebih baik, apa gue ga akan ngerasa sesepi ini?" Pertanyaan itu mengabur seiring dengan pertanyaan lain yang muncul dibenaknya, "Bapak lagi ngapain ya sekarang? Dulu biasanya beliau solat Subuh berjamaah di mesjid kompleks." Angga merasa heran dengan keenganannya mengikuti ayahnya pergi ke mesjid tiap pagi saat mereka masih tinggal bersama. Sebuah keheranan yang baru ia rasakan. Selama 25 tahun hidupnya, Angga selalu merasa perlu memiliki alasan untuk bisa bersama atau sekedar berbincang dengan ayahnya itu. Beberapa kali ia mencoba untuk menelepon ayahnya hanya untuk menanyakan kabar beliau, namun selalu urung karena takut ayahnya berkata "Bapak baik-baik saja. Kenapa?" Kalimat pertama yang melegakan, kalimat kedua yang membingungkan. Jawaban seperti "Enggak, pengen tau kabar Bapak aja" sepertinya enggak banget buat Angga. Ia pun takut kalau Bapaknya ujung-ujungnya berpikir bahwa jika Angga menelepon beliau, artinya ia sedang berada dalam kesulitan finansial dan berharap bantuan kiriman uang dari ayahnya. Semakin dipikirkan, semakin sepi rasanya. Mengapa untuk mengetahui kabar satu-satunya orang yang bertalian darah dengannya ia harus memikirkan beribu alasan. Segala keresahan itu ia tutup dengan memejamkan mata, berharap kebahagiaan dan kesehatan untuk beliau yang kata orang-orang menurunkan bentuk wajah dan tubuh tegapnya kepada Angga.

Angga lalu teringat Vita, orang yang dulu menghiburnya saat sedih. Gadis yang pertama kali membuat jangtungnya berdegup kencang setiap berada di dekatnya. Jika ada wanita yang ia sayangi dalam hidupnya selain ibunya, gadis inilah salah satunya. Saat kuliah dulu, dialah yang membuat wajah Angga memerah tanpa sadar saat teman-teman mereka menggoda kedekatan keduanya. Pembawaan yang ceria dan kecerdasan pola pikir gadis metropolitan yang tidak pernah ia temui sebelumnya membuat Angga kagum. Saking santernya gosip kedekatan Angga dengan Vita, mereka akhirnya menyengajakan diri membuat status 'in a relationship' di status jejaring sosial mereka untuk menebar sensasi dan menyenangkan teman-teman mereka itu. Terpaksa. Kata itu merupakan kata yang jauh dari keinginan hati Angga yang sebenarnya. Tapi kata itu yang ia gunakan untuk menjustifikasi tindakan mereka. "Kalau aja gue berani bilang ke Vita bahwa gue ga terpaksa dan ga bercanda waktu nge-approve relationship status itu. Apa saat ini Vita masih bareng gue? Apa gue masih bisa nepuk kepalanya saat gue gemes dengan perilakunya yang manis?" Terakhir kali Angga melihat Vita adalah tiga hari yang lalu. Angga bisa melihat Vita dari jarak dekat, sayangnya ia tidak bisa menyapa dan berbincang dengan gadis itu. Saat itu Vita sedang mereportasekan aktivitas Anak Krakatau seiring dengan peristiwa letusan Merapi. Bangga bercampur sesal, perasaan aneh yang bisa dirasakan bersama walaupun keduanya sama sekali bertolak belakang.

Tanpa terasa matahari sudah terbit menghangatkan udara Bandung yang sejuk. Semua renungan tadi membuat Angga berkesimpulan bahwa ia hidup di sebuah kehidupan yang paralel. Lucu rasanya. Karena untuk berkesimpulan ia harus berpikir. Dan Angga benci banyak berpikir. Ia jadi teringat status YM Agni beberapa hari yang lalu, 'cogito ergo sum'. "Agni memang selalu sok canggih dengan buku, musik dan film-film festivalnya", pikir Angga. Tapi hal itu tetap membuat Angga penasaran hingga akhirnya ia mengetik 'cogito ergo sum' di search engine Google. 'Cogito ergo sum' sebuah quote yang dikeluarkan oleh Rene Descartes, salah satu tokoh filsafat ternama, yang berarti 'I think, therefore I am'. Saya berpikir, karenanya saya ada. Akhirnya Angga menyadari keberadaannya di dunia yang menurutnya paralel, dimana setiap orang menjalani hidup pada garisnya masing-masing. Suatu saat ketika garis itu bersinggungan, ia bertemu dengan orang baru. Saat garis itu terpisah, ia dan orang tadi akan menjalani hidup masing-masing. Beberapa garis itu akan bertemu kembali, beberapa tidak. Tapi semua garis itu memiliki keterkaitan satu dan lainnya, karenanya Angga menamakannya garis paralel.

Berharap bisa mengeratkan kembali garis paralelnya dengan Vita, Angga menyalakan laptop dan log-in YM. Senang karena melihat bahwa sepagi itu Vita sudah online, dengan antusias Angga mengklik nama account-nya, alvita_diyoshi. Di depan IM windows yang terbuka, Angga bingung dengan kata pertama yang akan ia ketikkan. Hanya sekedar 'hai' saja tampaknya tidak cukup. Agak ragu juga karena takut tidak berbalas, Angga mengecek fungsi audible dan font pada IM windows tersebut. Keduanya tidak aktif. Berarti Vita online di Blackberry-nya. Kemungkinan sapaan yang tidak berbalas menjadi semakin besar. Ia urung menyapa Vita. Bagaimana jika Vita sibuk. Bagaimana jika Vita menganggapnya tidak penting. Bagaimana jika Vita tidak mengenalnya lagi. Terlalu banyak pertimbangan. Keputusan menjadi sulit diambil. Angga benci membuat keputusan.

BUZZ!

Windows lain terbuka.

petasan_rawit: hoy! tumben pagi-pagi OL...

omar_dwiangga: iya... hehe...

petasan_rawit: lagi ngapain?

omar_dwiangga: ga ngapa-ngapain...
(Hampir Angga mengetik kata 'kenapa?' Tapi ia keburu ingat bahwa pertanyaan itu sangat menyebalkan. Kita toh tidak selalu butuh alasan untuk menanyakan kabar teman kita sendiri. Angga pun mengganti kata yang dipilihnya tadi.)
omar_dwiangga: kamu lagi ngapain?

petasan_rawit: lagi bosen... jalan yuk!

omar_dwiangga: hayuk! aku siap-siap sekarang ya... kamu tunggu di rumah, tar kujemput...

petasan_rawit: serius?

omar_dwiangga: iya...

petasan_rawit: serius kamu??

omar_dwiangga: iya bawel...!!!

Biasanya Angga tidak langsung menjawab ajakan sepeti ini, sehingga wajar jika teman bicaranya terheran-heran. Biasanya dia akan menanyakan 'kemana? mau ngapain? jalannya sama siapa aja?' dan pertanyaan-pertanyaan lain yang harus merinci jadwal kegiatan 'jalan'-nya ini. Biasanya, saking rincinya pertanyaan dan komentar Angga, lawan bicaranya kapok dan batal mengajak. Padahal maksud Angga sederhana, ia hanya ingin have fun. Dan fun menurut standar Angga adalah kegiatan yang fully organized. Tapi hari ini bukan hari biasa. Dan si pengajak pun bukan orang biasa. Petasan rawit, sesuai nama account-nya, adalah orang yang bisa mengusir sepinya di hari Sabtu ini. Seseorang yang saat ini besinggungan garis hidupnya dengan Angga. Dimana momen persinggungan ini akan ia manfaatkan sebaik mungkin. Karena Angga tahu bahwa walaupun ia tidak menginginkannya, suatu hari nanti, mungkin garis ini akan merenggang dan menjadi garis-garis lain yang paralel dengan garis kehidupan Angga. Setelah mandi dan bersiap-siap, Angga bergegas keluar dari kamar kost-nya, hampir meninggalkan dompet di celana training yang digunakannya saat mencari makan bersama Heri semalam. Sambil men-start Yamaha Vixion hitamnya, Angga berteriak pada Heri, teman terdekatnya di rumah kost itu.

"Brok! Gue cabut brok!"

"Lho? Ga jogging lu? Kirain lu buru-buru siap-siap mau jogging. Makanya gue buru-buru juga. Ngeceng lagi kitah brok!"

"Ogah ah! Hari ini libur gue!"

"Emangnya mau kemana lu?"

"Mau 'main petasan'. Hehehe."

"Aaaaah, pret!!! Yaudah deh... Have fun ya brok! Salam buat Si Manis Pedes!"

"Hahaha... Sip sip!"

Angga pun berlalu dengan diiringi lagu beraliran punk rock yang bergema kencang dari kamar Heri, Chiisana Koi No Uta dari Mongol 8000. Soundtrack J-Dorama favorit Heri, yang sering Angga cela-cela karena kesukaannya terhadap dorama yang menurutnya seperti selera tontonan perempuan. Tapi bait-bait lagu ini, hari ini, serasa membakar semangat Angga.

"Hiroi uchuu no kazu aru hitotsu aoi chikyuu no hiroi sekai de"
(One of many in this wide universe in the great world of this blue earth)
"Chiisana koi no omoi wa todoku chiisana shima no anata no moto e"
(This tiny feeling of love will reach you on the little island)
"Anata to deai toki wa nagareru omoi wo kometa tegami mo fueru"
(Time have passed since I first met you, the letters with my feelings grow in numbers)
"Itsu shika futari tagai ni hibiku toki ni hageshiku toki ni setsunaku"
(Without us realizing, it is already echoing between us; Sometimes intense, sometimes sad)
"Hibiku wa tooku haruka kanata e yasashii uta wa sekai wo kaeru"
(It echoes distantly, this gentle song changes the world)
"Hora anata ni totte daiji na hito hodo sugu soba ni iru no"
(Look, the person who is important to you is right beside you)
"Tada anata ni dake todoite hoshii hibike koi no uta"
(I just want to reach only you, this echoing love song)


=========
Fiksi. Didraft di tengah kemacetan jalan Kiara Condong, siang hari saat hujan deras tanggal 9 November 2010.
Credits to Margo Sri Handayani. Thanks for the inspiring daily chit chat. Love you girl! ~cupcupmuah!

Hay Meong!



MENULISLAAAAHHHH...!!!
jangan sok sibuk kamuh!!!! :P


5 Nov 2010

Memaknai Pengorbanan

Berkorban sih berkorban. Tapi gimana kalau itu cuma di bibir aja? Hati orang kan siapa yang tau?

Pernyataan yang terlontar dalam obrolan beberapa hari yang lalu membuat saya berpikir. Apa benar jika seorang teman berkorban untuk saya, pengorbanannya itu hanya di bibir saja? Apa benar teman saya ini mengisyaratkan pengorbanannya dalam bentuk kata-kata kemudian di dalam hatinya dia tidak mengharapkan saya bahagia? Saya yakin tidak. Teman saya tidak sepahit itu. Teman adalah orang yang ikut senang saat kita bahagia dan berempati saat kita bersedih. Begitupun dengan saya, saya akan senang jika teman saya bahagia dan berusaha mengurangi kesedihan teman saya ketika ia sedang tidak bahagia. Setidaknya, itu yang saya coba lakukan selama ini. Hihi^^

Saya jadi teringat beberapa cerita tentang bagaimana seseorang memaknai pengorbanan orang lain. Beberapa cerita mungkin sedikit alay, lebay, atau mungkin terlalu dramatis dan tidak sesuai dengan gaya bahasa saya yang biasanya. Apa boleh buat, hanya cerita-cerita ini yang saya ingat dalam kapasitas memori otak saya yang sudah tidak ter-upgrade sejak lama. Teman baik saya pernah bilang kalau otak saya sungsang. Mungkin dia ada benarnya. Jadi saya harap teman-teman yang baca cerita ini memakluminya.

(1)
Cerita tentang pemuda pemberontak yang seringkali berpindah sekolah karena melakukan tindakan agresif dan kekerasan. Setelah diselidiki, ternyata pemuda ini adalah anak yatim piatu yang kehilangan kedua orangtuanya saat dia masih kecil. Dulu, ketika umurnya 8 tahun, rumahnya mengalami musibah kebakaran. Untungnya, dia dan kedua orangtuanya selamat karena cepat-cepat keluar meninggalkan rumah sebelum api membesar. Tidak untungnya, karena si anak ini kembali lagi masuk ke dalam rumah karena ingin mengambil mainan kesayangannya. "
Takut mainannya kebakar," sesederhana itu pikirannya.
Entah bagaimana, si anak berhasil lari masuk ke dalam rumah untuk mengambil mainannya. Kedua orangtuanya, dengan mode perlindungan otomatis, tentu mengejar anak mereka untuk menyelamatkannya bahkan tanpa diminta. Akhir ceritanya ternyata tidak bahagia. Kedua orangtua si anak meninggal dalam kebakaran. Si Ayah tertimpa plafond yang runtuh terbakar api. Si Ibu sempat dilarikan ke rumah sakit karena paru-paru yang teracuni asap, namun tidak mampu diselamatkan. Si anak selamat karena Ibunya sempat menggendongnya keluar sebelum akhirnya beliau lemas dan dilarikan ke rumah sakit. Tujuh tahun kemudian, anak ini sudah menjadi siswa SMA yang tidak berprestasi. Malah cenderung merepotkan.
Seorang cameo yang cukup signifikan dalam hidup pemuda ini ternyata gemas dengan kelakuan pemuda tadi sehingga terjadi pembicaraan sebagai berikut.

"
Lu tuh apa-apaan sih? Jadi orang ngerepotin banget. Mendingan lu ga usah idup aja deh sekalian!"

"
Gue juga ga milih buat idup kok. Harusnya tujuh taun yang lalu gue mati aja," si pemuda pun mulai menceritakan kisah yang tadi sudah saya tuliskan sebelumnya pada si cameo ini.

Si cameo akhirnya mengerti duduk persoalannya. Setelah itu ia mulai berkata lagi pada si pemuda.

"
Harusnya bukan gitu cara lu mandang pengorbanan orangtua lu. Lu boleh aja merasa bersalah. Tapi gue rasa, bukan itu yang orangtua lu harapkan untuk lu rasain saat mereka mengorbankan hidup mereka untuk memberikan lu kesempatan untuk hidup lebih lama."

Si cameo lalu mengatakan, bahwa seharusnya si pemuda berterimakasih kepada orangtuanya dengan hidup yang lebih bermakna. Hidup bahagia dan membahagiakan orang lain. Bahwa sebagai orang Islam, setahu si cameo, terdapat tiga amalan yang menjadi bekal di akhirat nanti. Harta yang diamalkan di jalan Allah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh. Poin terakhir mungkin adalah yang paling tapat sasaran bagi si pemuda saat ini. Dengan berbuat baik, dia akan bisa 'menghidupkan kembali' orangtuanya. Dengan berbuat baik, orang-orang di sekitarnya akan berpikir "
Wah, hebat ya anak alm. Pak X dan Ibu Y. Sudah pintar, baik, saleh lagi." Ketika sudah besar dan sukses nanti, si pemuda yang baik, saat membagi rizki pada mereka yang membutuhkan bisa berkata, "Ini Pak, Bu. Tidak usah berterimakasih. Cukup doakan saja kedua orangtua saya."
Begitu pikir si cameo. Begitu pula yang diucapkannya pada si pemuda. Si cameo pun kini bukan sekedar cameo dalam kehidupan si pemuda, melainkan teman baiknya.

(2)
Sudah bulan Mei. Kemarin pengumuman ujian akhir sekolah. Alhamdulillah lulus. Sekarang waktunya mendaftar SNMPTN.
Saya adalah satu dari 447.000 peserta yang mendaftar. Daya tampung perguruan tinggi negeri saat ini hanya 82.000 mahasiswa. Berarti perbandingannya kurang lebih 1:5. Kalau begitu, dari satu orang yang lolos 4 lainnya terpaksa harus berkorban.
Hmm, saya jadi berandai-andai:
Jika saya lolos, saya akan menjadi orang jahat karena telah menyingkirkan 4 orang, yang seperti saya juga, sangat ingin masuk perguruan tinggi negeri;
Jika saya tidak lolos, maka saya akan jadi orang jahat karena saya akan menjadi orang pendengki yang membenci mereka yang lolos tadi.
Kemungkinan implikasinya:
(a) Saya lolos > Menjadi orang jahat yang menyingkirkan 4 orang yang juga berharap lolos > Saya merasa bersalah > Saya lepas kuliah saya;
(b) Saya tidak lolos > Menjadi orang jahat pendengki > Membenci orang yang lolos selama-lamanya > Tidak kuliah dan terus menerus menggerutu;
Wah, pahit sekali opsi implikasinya. Saya jadi berpikir lagi. Bagaimana kalau opsinya saya buat seperti ini:
(c) Saya lolos > Merasa bersalah karena menutup kemungkinan bagi orang lain untuk masuk perguruan tinggi negeri > Melepaskan rasa bersalah dengan berterimakasih untuk kesempatan yang dibukakan oleh 4 orang senasib tadi > Berusaha menjadi mahasiswa berprestasi;
(d) Saya tidak lolos > Menerima kenyataan tidak lolos > Mendaftar di perguruan tinggi swasta lainnya > Berusaha menjadi mahasiswa berprestasi.
Pilihan apakah yang saya harus ambil?
:P

Cerita (1) dan (2) adalah dua contoh pengorbanan. Yah, walaupun yang kedua agak ngaco karena saya sudah ga tau lagi bagaimana cara untuk menuliskan ide dengan lebih baik. Hihihi. Perbedaan keduanya adalah contoh (1) merupakan pengorbanan yang sangat wajar karena dilakukan oleh orangtua kepada anaknya, sedangkan contoh (2) merupakan pengorbanan dari orang yang sama sekali kita tidak kenali. Maksud saya menuliskan dua cerita itu adalah agar terdapat perbedaan yang ekstrim. Sekarang mari kita lihat contoh pengorbanan yang lain. Yang sifatnya pertengahan antara contoh (1) dan contoh (2). Pengorbanan seorang teman.


Misalnya, saya menyukai seorang cowok. Kemudian cowok ini ternyata menyukai saya juga. Tapi diantara kami ada sahabat saya yang ternyata menyukai cowok ini juga. Apa yang akan saya lakukan? Jawabannya tergantung pada persepsi masing-masing. Tapi kalau saya pribadi, saya akan mundur.

Sekarang kasusnya dibalik. Saya menyukai seorang cowok. Cowok ini menyukai teman saya. Apakah saya akan mundur? Jawabannya, iya. Saya akan mundur dan mendoakan kebahagiaan cowok ini dan teman saya tadi. Apakah keputusan saya hanya di bibir saja? Jawabannya, tidak. Toh percuma jika kita memaksakan perasaan pada orang lain. Lagipula, dalam pertemanan yang sehat, kita akan senang melihat teman kita bahagia. Setidaknya itu menurut saya.

Kembali pada tagline di atas. Teman saya yang mengatakan 'siapa tau teman kamu berkorban cuma di bibir saja?', mungkin menunjukkan rasa sayangnya dengan mengatakan hal ini. Dia tidak ingin saya menjadi pribadi yang polos dan mudah mempercayai orang. Dia ingin agar saya lebih berhati-hati. Saya jadi berpikir, mungkin bagaimana cara kita memaknai pengorbanan bergantung pada sudut pandang kita. Apakah kita akan menghargainya sebagai sesuatu yang 'hanya di bibir saja'? Apakah kita akan menjadi orang yang merasa bersalah selalu karena membiarkan orang lain berkorban untuk kita? Atau menjadi orang yang menyikapi pengorbanan dengan rasa syukur dan terimakasih sehingga memaknai pengorbanan tadi dengan berbuat sebaik yang kita bisa?

Kalau lagi nulis hal yang serius gini, saya mendadak pusing. Kalau pusing artinya saya lapar. Dan kalau lapar saya jadi mendadak ngaco. Jadi sebaiknya saya akhiri saja lanturan saya ini. Soalnya Ibu Dirjen mau traktir saya makan pizza. Momen ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin, karena tanggal 8 nanti saya akan resmi menjadi orang yang bokek karena harus membayari Si Mawar. Hohohoho.




3 Nov 2010

Esensinya Punya Gebetan

Saya ga percaya akhirnya saya nulis yang beginian... Haha :P

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk berhenti menspesialkan seseorang dalam hidup saya. Tidak mudah memang, tapi do-able. Saat saya memutuskan untuk berhenti itu, yang paling heboh menyemangati agar saya tetap bertahan adalah salah satu teman baik saya. Sedangkan teman baik saya yang lain, yang sudah mengenal saya sejak lama, merasa lega dan berpikir bahwa hal itu adalah yang terbaik bagi saya. Keduanya tidak salah. Satu pihak ingin melihat saya senang, pihak lainnya tidak ingin melihat saya sedih. Yang ingin saya senang tampaknya melihat bahwa saya fun-fun saja menjalani pahit manisnya masa PDKT yang serba tidak jelas. Sementara yang tidak ingin saya sedih, tahu betul kebiasaan saya sejak dulu. Bahwa saya tidak bisa melepaskan seseorang yang saya sayangi jika sudah jatuh terlalu dalam. Bahwa sesakit apapun saya akan tetap bertahan, sehingga saya harus kembali kepada esensi kenapa saya menspesialkan orang ini pada awalnya. Mereka yang pernah melihat saya menjadi orang yang menyedihkan, tidak ingin melihat saya seperti itu lagi. Mungkin, muka saya jelek banget kalo lagi sedih, sampe-sampe semua temen saya itu ga tahan pengen nabokin saya. Haha. Oleh karena itu, pada akhirnya, saya memilih untuk tidak bersedih. Saya menolak untuk dikeroyok teman-teman saya yang jumlahnya sekampung itu cuma karena muka saya yang jadi jelek kalau sedang sedih. :P

Saat ini, teman saya yang dulu menyemangati saya untuk tetap bertahan, sepertinya mengalami hal yang sama dengan saya beberapa waktu lalu. Update status-nya sehari-hari berkutat dengan kata "melepaskan". Maaf teman, saya tidak banyak membantu. Karena saya merasa lancang kalau tiba-tiba ngerecokin ketika tidak diminta. Jadi kalau kamu ingin didengar, berceritalah pada saya. Kalau kamu ingin pendapat saya, bertanyalah. Tapi jangan suruh saya nabokin orang yang bikin kamu sedih. Karena jujur saja, saya tidak kenal dengan orang itu. Nanti saya dikira orang gila. Tapi kalau itu bikin kamu bahagia, saya akan dengan senang melakukannya. Hihihi.

Saya ingat salah satu update status senior saya waktu kuliah, katanya:
"It's easy to remove someone from your mind. But to remove someone from your heart, it's a whole other story."
Melupakan seseorang dari pikiran kita bisa dilakukan. Tidak selalu mudah, tapi mungkin dilakukan. Tapi untuk melupakan seseorang dari hati, ceritanya lain lagi. Tapi toh saat ini kita tidak yakin bahwa kita ingin menghilangkan seseorang dari hati kita. Toh kita tidak menutup kemungkinan, bahwa orang itu bisa saja memang 'the one' untuk kita nantinya. Hanya kita perlu bersabar sedikit lagi. Bersabar dan tidak membiarkan pikiran kita preoccupied dengan dia melulu sampai-sampai menjadi murung dan pahit. Dunia ini indah kawan, selalu indah. :)

Kembali pada esensi punya gebetan. Apa sih yang bikin kita 'ngegebet' seseorang? Kalau untuk have fun, maka kalau udah ga fun lagi harusnya kita lepaskan bukan? Teman baik saya pernah salah paham tentang alasan saya suka sama seseorang. Pertama-tama, dia marah karena katanya saya suka karena kasian. Setelah dia melihat saya berproses, dia baru mendukung saya dengan full throttle. Mengabarkan dia kepada saya tanpa diminta, mengabarkan saya pada dia tanpa diminta. Haha. Lucu rasanya. Kemudian saat saya memutuskan untuk berhenti, dia secara tidak langsung menyemangati saya untuk tetap bertahan dengan mengatakan bahwa saya jahat karena menurutnya saya mempermainkan perasaan orang. Bukan salahnya menganggap saya begitu, karena dia tidak tau esensi saya menyukai orang itu.

Saya lalu menjelaskan kepadanya bahwa saya menyukai orang itu karena saya ingin melihatnya menjadi orang yang hebat. Dimana saat orang ini berproses menjadi orang yang hebat, saya tidak ingin dia sendirian. Saya ingin membantu dia menjadi orang hebat itu. Saya ingin ada untuk dia.
Alasan yang dangdut bukan? Hahahaha.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa bahwa mungkin bukan saya yang orang ini butuhkan untuk berproses menjadi hebat. Sehingga, esensi saya menyukai orang ini tidak berdasar lagi. Karenanya, saya melepaskan dia.

As for me, I am back to where I started. Teman baik saya yang sedang berproses untuk 'melepaskan' tadi mengajak saya untuk tidak memiliki gebetan lagi mulai bulan ini. Saya jawab 'tidak bisa' Hahahaha. Saya sudah punya gebetan lain. Kali ini, saya memilih orang yang hebat. Esensinya, saya ingin menghebatkan diri agar layak mendapatkan seseorang sehebat dia. Biar nanti, jika memang bukan lelaki hebat ini jodoh saya, toh saya sudah menjadi orang yang setingkat lebih hebat dari saya yang sekarang. Hihi. Kesannya ga mau rugi. :P

Saya jadi inget lagi tulisan di blog salah satu teman saya. Katanya setiap barang keluar ke pasaran dengan buku manualnya masing-masing. Begitupun dengan kita, manusia. Kita lahir ke dunia dengan buku manual yang bisa membantu apabila ada problem dengan hidup kita. Berupa apakah manual itu? Yup, benar sekali! Manual kita adalah Al-Qur'an. Dalam manual itu tertulis satu petunjuk teknis tentang hal suka-menyukai ini:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Jadi, teman, mari kita "take it slow" seperti yang John Legend nyanyikan. Kita memang tidak muda lagi. Tapi kita juga belum tua. Hahaha.

Cinta adalah hal yang aktual untuk berbagai usia. Buktinya, konsumen drama Korea yang sangat romantis itu makin meningkat tiap tahunnya. Dan jangan salah, target pasar terbesarnya bukan anak ABG melainkan ibu-ibu paruh baya seperti Ibu saya sendiri. Sedangkan bapak-bapaknya, adalah konsumen tetap sinetron TV karena relatif tidak bermodal, karena tidak harus membeli DVD serial yang bisa sampai 8 keping setiap judulnya. Bapak-bapak juga paling update dalam kasus percintaan selebriti. Siapa yang kawin, siapa yang cerai, dan siapa pacaran dengan siapa.

Kalau kata Jamie Cullum, "It's heaven when you find romance on your menu." Menu of life that is. Being romantic is fun. So let's have fun!